Close Menu
beritajatim.idberitajatim.id
  • Home
  • News
    • Peristiwa
    • Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Internasional
    • Pendidikan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Oil&Gas
  • Sport
  • Entertainment
  • Lifestyle
    • Teknologi
    • Ragam
    • Komunitas
  • Seni&Budaya
  • Network
  • Indeks
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
beritajatim.idberitajatim.id
Web Utama
  • Home
  • News
    • Peristiwa
    • Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Internasional
    • Pendidikan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Oil&Gas
  • Sport
  • Entertainment
  • Lifestyle
    • Teknologi
    • Ragam
    • Komunitas
  • Seni&Budaya
  • Network
  • Indeks
beritajatim.idberitajatim.id
Home»Sorotan»Tragedi Sumatera 2025: Bencana, Panggung Politik, dan Komunikasi Tanpa Hati

Tragedi Sumatera 2025: Bencana, Panggung Politik, dan Komunikasi Tanpa Hati

Hendro D. LaksonoHendro D. Laksono Sorotan 5 Desember 2025
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Ilustrasi (generatif AI)
Ilustrasi (generatif AI)

Awal Desember 2025 menjadi salah satu momen paling kelam dalam ingatan publik Indonesia. Pulau Sumatera, khususnya wilayah Sumatera Utara dan Sumatera Barat, kembali harus menanggung luka besar akibat rentetan bencana hidrometeorologi dan aktivitas vulkanik. Banjir bandang dan longsor menerjang Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, Sibolga, serta sejumlah kawasan di Sumatera Barat, menyisakan kerusakan masif. Ratusan warga dilaporkan meninggal dan hilang, ribuan rumah rusak, dan jembatan serta jaringan telekomunikasi lumpuh, menyulitkan evakuasi maupun distribusi logistik.

Sebelumnya, dampak erupsi Gunung Marapi menyelimuti Kabupaten Agam dan sekitarnya dengan abu vulkanik. Ancaman lahar dingin membayangi warga yang bahkan belum pulih dari cuaca ekstrem dan banjir sebelumnya. Ini adalah tragedi berlapis, sebuah perpaduan antara cuaca ekstrem, kerusakan ekosistem, dan dinamika geologis yang memperlihatkan betapa rapuhnya sistem mitigasi kita.

Tetapi ironinya, di tengah penderitaan yang begitu luas, publik harus menyaksikan babak lain yang tak kalah menyakitkan: bencana berubah menjadi panggung politik.

Bencana yang Dipolitisasi: Kesedihan di Atas Luka

Dari diskusi publik yang berkembang, terutama pada minggu pertama Desember, terlihat bagaimana kehadiran sejumlah elit politik di lokasi bencana justru memicu kemarahan. Bukannya menunjukkan solidaritas, beberapa tindakan justru memperlihatkan estetika pencitraan yang berlebihan.

Kasus penggunaan tactical vest oleh seorang pejabat muda, misalnya, menjadi simbol betapa hadirnya mereka tidak proporsional dengan konteks. Warga yang berlumpur, kehilangan keluarga, dan sedang berjuang untuk bertahan hidup, harus menyaksikan seorang pejabat tampil seolah tengah syuting film laga. Alih-alih meredam duka, aksi seperti ini menciptakan jarak psikologis: rakyat sebagai objek, pejabat sebagai aktor.

Aksi distribusi bantuan dari helikopter di Sumatera Utara juga menuai kritik tajam. Meskipun alasan efisiensi waktu dapat diperdebatkan, visualisasi bantuan yang dilempar dari udara dianggap merendahkan martabat warga. Di mata publik, momen itu lebih tampak sebagai pertunjukan kekuasaan dibanding tindakan kemanusiaan yang penuh kepekaan.

Baca Juga:  Polda Jabar Dirikan Dapur Umum untuk Pengungsi Banjir Bandang Sukabumi

Lebih menyayat hati lagi adalah pola komunikasi yang defensif. Ketika situasi di lapangan sangat mengerikan, beberapa pejabat justru meremehkan informasi yang beredar. Pernyataan bahwa kondisi “tidak semencekam di media sosial” adalah blunder komunikasi yang menorehkan jarak emosional antara penguasa dan warganya. Bagi yang baru kehilangan rumah atau keluarga, komentar seperti itu adalah bentuk invalidasi pengalaman.

Persoalan kayu gelondongan yang diduga berasal dari illegal logging juga menjadi arena saling lempar tanggung jawab. Bukannya mengakui ada masalah struktural dalam pengelolaan lingkungan, respon yang muncul lebih bernada defensif dan teknis, seolah lebih takut pada dampak politik dan ekonomi ketimbang pada penderitaan warga.

Komunikasi Retak, Turunnya Kepercayaan Publik

Dalam konteks bencana, komunikasi bukan hanya pelengkap; ia adalah bagian vital dari penyelamatan nyawa. Namun saat politisasi mengambil tempat, komunikasi berubah menjadi alat retorika, bukan jembatan empati.

Kerusakan komunikasi itu terlihat pada tiga aspek penting:

Pertama, otoritas dan kredibilitas pejabat merosot. Ketika mereka terlihat lebih sibuk mengatur angle foto daripada membenahi logistik, publik menjadi skeptis terhadap setiap pernyataan resmi, termasuk peringatan bahaya.

Kedua, komunikasi kehilangan otentisitas. Warga dapat merasakan kapan pemimpin hadir untuk mendengar, dan kapan hanya untuk tampil. Kehadiran dengan rompi taktis, pengamanan berlebihan, dan seremonial yang panjang adalah simbol bahwa komunikasi hanya berjalan satu arah. Tidak ada dialog, apalagi pembacaan mendalam terhadap kebutuhan psikososial warga.

Ketiga, fokus publik teralihkan dari solusi jangka panjang. Alih-alih membahas rehabilitasi ekosistem, tata ruang, mitigasi, serta penegakan hukum terhadap perusakan hutan, ruang media dipenuhi perdebatan mengenai rompi, helikopter, dan konten media sosial pejabat.

Baca Juga:  Jalan Duduksampeyan: Ketika Jalan Raya Menjadi Ruang Duka yang Tak Pernah Sepi

Pada titik ini, masyarakat berada di ambang batas. Kekecewaan bukan hanya pada cara komunikasi, tetapi juga pada pola kepemimpinan yang dianggap tidak sungguh-sungguh hadir bagi mereka.

Di tengah kekacauan ini, ada pelajaran penting yang harus diingat para pemimpin: komunikasi dalam situasi krisis harus diletakkan pada tujuan yang murni—melayani publik, bukan menonjolkan diri.

Untuk membangun kembali kepercayaan, kehadiran fisik saja tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah kehadiran solusi. Transparansi dalam distribusi bantuan, akuntabilitas terhadap penyebab bencana, dan keberanian untuk mengakui keterbatasan adalah langkah awal.

Pemimpin harus lebih banyak mendengar daripada berbicara. Sebab komunikasi yang paling efektif saat bencana bukan berasal dari podium, melainkan dari kehadiran yang tulus—duduk bersama warga, memahami kebutuhan mereka, dan menunjukkan kesiapan untuk bekerja tanpa sorotan kamera.

Masyarakat tidak menuntut kesempurnaan. Mereka menuntut ketulusan.

Tragedi besar di Sumatera ini seharusnya menjadi alarm keras bagi semua pemangku kepentingan. Politisasi bencana bukan hanya tidak etis, tetapi juga berbahaya karena merusak kepercayaan publik pada komunikasi krisis. Tanpa kepercayaan, mitigasi apa pun akan gagal.

Semoga di balik kepedihan ini, ada kesadaran kolektif yang tumbuh: bahwa ketulusan lebih berharga daripada panggung, dan bahwa tugas pemimpin bukanlah tampil, melainkan bekerja.

Indonesia membutuhkan komunikasi yang menyelamatkan, bukan komunikasi yang memoles citra. Dan masyarakat, yang kini berada di ambang batas kesabaran, menunggu bukti nyatanya, bukan lagi janji.


Penulis adalah dosen, mentor, dan pegiat media Surabaya

Add beritajatim.id as a preferred source on Google+
Baca berita lainnya di Google News atau langsung di halaman Arsip Berita
Banjir Bandang bencana erupsi
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Berita Lainnya

Sisa lumpur bekas banjir di Nairobi

Banjir Bandang Terjang Nairobi, 23 Orang Tewas dan Puluhan Diselamatkan Setelah Hujan Deras Semalaman

7 Maret 2026 Internasional
TNI bersama warga Desa Bukit, Gayo Lues, bergotong royong membangun jembatan darurat pascabanjir bandang dan longsor guna memulihkan akses transportasi.

TNI Bersama Warga Bangun Jembatan Darurat Pascabencana di Gayo Lues

16 Desember 2025 News
Hj. Meitri Citra Wardani

Meitri Citra Wardani Desak Pemerintah Lakukan Taubat Ekologis Usai Banjir Bandang dan Longsor di Sumatera

30 November 2025 News
Pemprov Jatim bersama BNPB, BMKG, dan Puspenerbal melakukan Operasi Modifikasi Cuaca untuk mengurangi dampak erupsi Gunung Semeru.

Pemprov Jatim Kolaborasi BNPB–BMKG Gelar Operasi Modifikasi Cuaca Atasi Dampak Erupsi Semeru

29 November 2025 News
Banjir bandang dan longsor melanda Lampung Barat, lima rumah hanyut, puluhan rusak, polisi evakuasi warga hingga tengah malam tanpa korban jiwa.

Banjir Bandang dan Longsor Terjang Lampung Barat, Polisi Evakuasi Warga Hingga Tengah Malam

11 September 2025 News
Tangkapan layar cloudburst saat menerjang sebuah desa di Pakistan

Banjir Bandang Akibat Cloudburst di Pakistan, Lebih dari 20 Orang Dinyatakan Tewas

19 Agustus 2025 News
Leave A Reply Cancel Reply

Sisa lumpur bekas banjir di Nairobi

Banjir Bandang Terjang Nairobi, 23 Orang Tewas dan Puluhan Diselamatkan Setelah Hujan Deras Semalaman

7 Maret 2026
Berita Terbaru
Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri Brigjen Pol. Trunoyudo Wisnu Andiko

Polri Gandeng UPH dan Komdigi Edukasi Mahasiswa Cegah Judi Online Lewat Program Polri Goes to Campus

16 Juli 2026
Polres Mojokerto Kota memperkuat sinergi dengan masyarakat melalui Silaturahmi Kamtibmas, mendorong keamanan, pelayanan publik, dan keselamatan berlalu lintas.

Polres Mojokerto Kota Perkuat Sinergi dengan Warga Lewat Silaturahmi Kamtibmas dan Ajak Jaga Keamanan Bersama

16 Juli 2026

7 Makanan yang Bisa Membantu Meningkatkan Kualitas Sperma, Penting untuk Program Hami

16 Juli 2026

Setjen DPD RI Buka Program Magang Nasional 2026, Kuota 233 Orang dengan Uang Saku hingga Rp6 Juta

16 Juli 2026
Lionel Messi

Messi Antar Argentina Singkirkan Inggris dan Melaju ke Final Piala Dunia, Siap Tantang Spanyol

16 Juli 2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
  • Tentang
  • Network
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
© 2026 beritajatim.ID | portal berita jawa timur

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.