Washington (beritajatim.id) – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menegaskan ambisinya untuk mengambil alih Greenland, wilayah otonom Denmark yang memiliki posisi strategis di kawasan Arktik. Pernyataan tersebut memicu ketegangan baru dalam hubungan Amerika Serikat dengan Eropa dan berpotensi mengguncang soliditas NATO yang selama puluhan tahun menjadi fondasi keamanan Barat.
Trump menyampaikan bahwa upaya menguasai Greenland merupakan kepentingan krusial bagi keamanan nasional Amerika Serikat sekaligus keamanan global. Ia bahkan tidak secara tegas menutup kemungkinan penggunaan kekuatan, sebuah sikap yang langsung memicu kekhawatiran di kalangan sekutu NATO dan para pemimpin Eropa.
Nada Lebih Lunak di Forum Global
Meski sebelumnya menyampaikan pernyataan keras, Trump kemudian menunjukkan nada yang lebih moderat menjelang kehadirannya bersama para pemimpin Eropa di World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss. Ia mengisyaratkan adanya ruang kompromi dengan NATO dan menyebut bahwa solusi yang saling menguntungkan masih mungkin dicapai.
Namun demikian, ambisi Washington terhadap Greenland tetap dipandang sensitif. Upaya untuk merebut kedaulatan wilayah dari Denmark—sesama anggota NATO—dinilai berpotensi merusak kepercayaan internal aliansi dan membuka kembali ketegangan geopolitik lintas Atlantik.
Penolakan Tegas dari Greenland dan Denmark
Pemerintah Greenland secara konsisten menyatakan bahwa wilayah tersebut tidak untuk diperjualbelikan. Sikap serupa juga ditegaskan Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen yang menolak tekanan Amerika Serikat dan menegaskan komitmen Kopenhagen terhadap kedaulatan Greenland.
Pernyataan Trump yang tidak menutup opsi militer dinilai meningkatkan eskalasi retorika politik. Para pemimpin Eropa menilai situasi ini perlu disikapi dengan kewaspadaan, mengingat stabilitas kawasan Arktik memiliki dampak luas terhadap keamanan regional dan global.
Respons Eropa dan Masa Depan Keamanan Arktik
Di Davos, sejumlah pemimpin Eropa berupaya menunjukkan persatuan dan keteguhan sikap. Diskusi berkembang ke arah perlunya Eropa mengurangi ketergantungan keamanan pada Amerika Serikat. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyebut adanya perubahan geopolitik besar yang menuntut Eropa membangun bentuk kemandirian strategis baru.
Sementara itu, sejumlah pihak menilai jalan tengah masih terbuka melalui kesepakatan berbagi tanggung jawab keamanan di kawasan Arktik dan Atlantik Utara. Pendekatan ini dinilai dapat meredakan ketegangan sekaligus menjaga stabilitas kawasan tanpa mengorbankan kedaulatan negara.
Ketegangan seputar Greenland juga dikhawatirkan berdampak pada hubungan ekonomi, termasuk potensi memanasnya kembali perang dagang antara Amerika Serikat dan Eropa, yang sebelumnya sempat mengguncang pasar global. (ian)


as a preferred source on Google



