Washington DC (beritajatim.id) – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan keputusan untuk menangguhkan serangan militer terhadap Iran selama dua pekan. Keputusan ini disampaikan pada Selasa (7/4/2026), kurang dari dua jam sebelum batas waktu yang diberikan kepada Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Trump menyatakan penangguhan serangan tersebut bergantung pada kesediaan Iran untuk memastikan pembukaan Selat Hormuz secara penuh, aman, dan segera. Ia menilai sebagian besar target militer telah tercapai, serta terdapat kemajuan menuju kesepakatan damai jangka panjang di kawasan Timur Tengah.
Dalam pernyataannya, Trump juga mengungkapkan bahwa pihaknya telah menerima proposal 10 poin dari Iran yang dinilai cukup realistis sebagai dasar negosiasi. Ia berharap kesepakatan final dapat dicapai dalam masa gencatan senjata dua pekan tersebut.
Gencatan senjata ini disebut sebagai langkah timbal balik antara kedua pihak. Inisiatif tersebut disampaikan melalui Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, yang berperan sebagai mediator guna membuka ruang dialog damai antara Amerika Serikat dan Iran.
Sharif menyampaikan bahwa kedua negara, bersama sekutu masing-masing, telah menyepakati penghentian sementara konflik di seluruh front, termasuk di Lebanon. Informasi lebih rinci terkait kesepakatan ini disebut akan diumumkan oleh pihak Iran dalam waktu dekat melalui media resmi mereka.
Sementara itu, Iran mengklaim telah mencapai kemenangan strategis setelah konflik berlangsung selama 40 hari. Pemerintah Iran menyatakan Amerika Serikat menerima proposal yang diajukan, yang mencakup gencatan senjata permanen, pencabutan seluruh sanksi, serta penarikan pasukan tempur AS dari kawasan.
Berdasarkan laporan media Iran, proposal tersebut terdiri dari 10 poin utama, di antaranya jaminan tidak adanya agresi lanjutan, pengakuan hak pengayaan nuklir Iran, penghentian seluruh sanksi primer dan sekunder, hingga kompensasi atas kerugian perang.
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mengonfirmasi bahwa perundingan dengan Amerika Serikat dijadwalkan dimulai pada Jumat dan dapat berlangsung hingga 15 hari, dengan kemungkinan perpanjangan. Meski demikian, Iran menegaskan bahwa proses negosiasi tidak serta-merta mengakhiri konflik secara keseluruhan.
Fokus pembahasan dalam perundingan meliputi akses pelayaran di Selat Hormuz, pencabutan sanksi, serta penarikan pasukan militer AS dari pangkalan di kawasan. Menteri Luar Negeri Iran juga memastikan bahwa jalur pelayaran di Selat Hormuz akan tetap aman selama masa gencatan senjata, dengan koordinasi bersama angkatan bersenjata Iran.
Di sisi lain, dua pejabat Gedung Putih mengonfirmasi bahwa Israel turut menyetujui gencatan senjata sementara dan akan menghentikan serangan terhadap Iran. Namun, tak lama setelah pengumuman Trump, militer Israel melaporkan adanya peluncuran rudal dari wilayah Iran menuju Israel, menandakan situasi di lapangan masih berpotensi memanas.
Perkembangan ini menjadi sorotan global karena berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan Timur Tengah serta jalur perdagangan energi dunia, khususnya melalui Selat Hormuz yang merupakan salah satu jalur strategis internasional. (hdl)


as a preferred source on Google



