Jakarta (beritajatim.id) – Amnesty International Indonesia mengecam keras serangkaian serangan terhadap aksi damai dan diskusi publik yang terjadi sepekan terakhir.
Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, menilai tindakan polisi yang tidak profesional dalam menanggapi kejadian tersebut sebagai bentuk pembiaran terhadap aksi kekerasan.
Kelompok-kelompok tidak dikenal terekam melakukan serangan terhadap aksi damai, termasuk Global Climate Strike pada 27 September dan Diskusi Forum Tanah Air pada 28 September 2024 di Jakarta.
Di Jawa Tengah, petani Pundenrejo juga menjadi korban intimidasi, dengan tanaman mereka dirusak dan spanduk aspirasi dirampas.
“Polisi seharusnya melindungi warga yang mengekspresikan hak berpendapat mereka secara damai. Tapi mengapa mereka justru melindungi para penyerang?” ujar Usman Hamid.
Amnesty mendesak Kapolri segera mengusut dalang di balik serangan tersebut serta meminta evaluasi terhadap kinerja kepolisian oleh Komisi III DPR RI.
Amnesty juga menekankan pentingnya tindakan tegas terhadap para pelaku intimidasi yang telah melanggar hak-hak asasi manusia, sebagaimana diatur dalam konstitusi Indonesia dan hukum internasional.
Latar Belakang Insiden
Pada 27 September, aksi damai Global Climate Strike di Jakarta diserang oleh kelompok tidak dikenal yang merampas alat peraga aksi. Mirisnya, polisi yang berada di lokasi tidak mengambil tindakan.
Serangan serupa terjadi pada Diskusi Forum Tanah Air sehari kemudian di Jakarta Selatan, di mana sekelompok orang masuk ke ruang acara dan merusak properti, lagi-lagi tanpa tindakan pencegahan dari pihak kepolisian.
Peristiwa ini menjadi sorotan karena aparat keamanan tampak tidak melindungi hak kebebasan berpendapat dan berkumpul, yang dijamin oleh hukum nasional dan internasional. (hdl)







