Surabaya (beritajatim.id)- Pernahkah kamu merasa bahwa waktu seperti berlari cepat ketika sedang melakukan hal yang menyenangkan? Misalnya ketika sedang liburan, menonton film favorit, berbicara dengan teman dekat, atau mencintai seseorang, rasanya seperti waktu terus berjalan tanpa henti. Tiba-tiba saja sudah malam hari, sudah akhir pekan, atau bahkan sudah masuk bulan depan. Padahal, rasanya baru saja mulai.
Sebaliknya, ketika sedang merasa bosan, gelisah, atau terjebak dalam rutinitas yang membosankan, satu jam bisa terasa seperti satu hari penuh. Bahkan lima menit saja bisa terasa seperti lama sekali.
Fenomena ini mengajak kita bertanya: mengapa waktu terasa lebih cepat ketika kita bahagia?
Apakah waktu benar-benar berubah? Atau mungkin hanya persepsi kita yang berbeda?
Jawabannya adalah: bagaimana kita merasakan waktu sangat tergantung pada emosi, perhatian, dan aktivitas yang kita lakukan.
Berikut penjelasannya:
1.Saat Bahagia, Kita Lebih Fokus pada Aktivitas, Bukan pada Waktu
Ketika kita sedang bahagia, kita cenderung terlibat dalam aktivitas yang sedang kita nikmati.
Pikiran kita fokus pada bagian tersebut, dan tidak terganggu untuk melihat jam atau menghitung waktu. Kita lupa bahwa waktu sedang berjalan.
Psikolog menyebut kondisi ini sebagai “flow state”, sebuah kondisi di mana seseorang sepenuhnya terlibat dalam hal yang sedang dilakukannya.
Ketika dalam keadaan ini, otak tidak terlalu memikirkan waktu. Maka tidak heran, setelah selesai, kita merasa waktu terlewat begitu cepat.
2. Hormon Bahagia Mempengaruhi Cara Kita Melihat Waktu
Ketika kita bahagia, otak melepaskan hormon seperti dopamin dan serotonin, yang membuat kita merasa lebih tenang, lebih ringan, dan lebih bersemangat.
Hormon ini tidak hanya mempengaruhi suasana hati, tetapi juga cara kita mengalami waktu.
Ketika otak dalam kondisi bahagia, kita cenderung mengabaikan detail yang biasanya membuat waktu terasa lama, seperti suara jam, suara kendaraan, atau jeda menunggu.
Akibatnya, waktu terasa berjalan lebih cepat.
3. Aktivitas Menyenangkan Menipu Persepsi Waktu
Kita sering kali mengukur waktu berdasarkan seberapa banyak hal yang terjadi, atau seberapa berarti momen tersebut.
Aktivitas yang menyenangkan dan penuh kejadian biasanya membuat waktu terasa cepat, karena kita sibuk menikmati pengalaman tersebut.
Contoh sederhananya: ketika menunggu antrian selama 15 menit tanpa melakukan apapun, waktu terasa sangat lama.
Namun, saat menonton film selama dua jam, kita bisa merasa waktu terlewat dengan cepat. Perbedaannya tidak pada waktu itu sendiri, tetapi pada isi pengalaman di dalamnya.
4. Kenangan Bahagia Tersimpan Secara Padat
Menariknya, ketika kita mengenang momen bahagia di masa lalu, kita pun merasa waktu itu singkat. Ini karena otak kita menyimpan momen menyenangkan dalam bentuk ringkasan atau highlights, bukan keseluruhan durasi.
Otak lebih suka menyimpan hal-hal yang emosional, menarik, atau penuh makna bukan detail waktu seperti berapa lama kita duduk, menunggu, atau diam. Maka kenangan bahagia pun terasa cepat berlalu saat dikenang kembali.
Waktu secara fisik memang konstan 60 detik dalam semenit, 60 menit dalam sejam. Namun, cara kita merasakan waktu sangat dipengaruhi oleh emosi, perhatian, dan keterlibatan kita dalam momen tersebut. Ketika kita bahagia, kita lebih hidup di saat ini. Kita tidak menghitung detik, kita menikmati setiap detiknya. Itulah sebabnya waktu terasa cepat.
Jadi jika waktu terasa terbang, mungkin itu pertanda kamu sedang benar-benar menikmati hidup. [aje]







