Pasuruan (beritajatim.id) – Sebuah terobosan baru hadir dari sebuah gagasan untuk membantu pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di bidang makanan ringan. Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat berjudul “Penerapan Teknologi Tepat Guna dan Aplikasi Akuntansi SI APIK pada Usaha Keripik Singkong Mekar Sari Grati”.
Sejumlah dosen dan mahasiswa ITB YADIKA Pasuruan bersama ketua pelaksana Abdimas yakni ibu Dina Fahma Sari S.E, S.Pd, M.M yang didukung oleh Kementrian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Diktisaintek) memberikan bantuan solusi bagi permasalahan yang kerap dihadapi pengusaha kecil keripik singkong.
Usaha keripik singkong “Mekar Sari” yang dikelola Bapak Munib di Grati menghadapi tantangan umum yang dialami banyak UMKM. Mulai dari manajemen pemasaran yang belum optimal, kualitas dan kuantitas produk yang perlu ditingkatkan, hingga keterbatasan sumber daya manusia dan inovasi produk. Permasalahan paling mendesak terletak pada proses produksi.
Selama ini, proses produksinya masih menggunakan cara sederhana yakni pemotongan singkong dengan manual, juga permasalahan lain yang ditemukan adalah kripik yang mudah tengik walau tanggal kadaluarsa masih lama, yang dispekulasikan terjadi karena proses penirisan minyak yang kurang optimal.
Tak kalah pentingnya, aspek pencatatan dan pengelolaan keuangan juga menjadi kendala serius. Berdasarkan observasi tim pengabdian, pemilik usaha belum memiliki sistem pencatatan keuangan yang terstruktur. Padahal, manajemen keuangan yang baik merupakan kunci keberlangsungan dan pengembangan usaha.
Tim pengabdian masyarakat menghadirkan solusi inovatif berupa teknologi spinner atau mesin peniris minyak. Alat yang bekerja seperti mesin centrifuge ini mampu memutar keranjang berisi keripik goreng pada kecepatan tinggi. Prinsip kerjanya sederhana namun efektif: minyak dan air berlebih akan terlempar keluar melalui celah-celah keranjang dan terkumpul di wadah penampung.
Hasilnya sangat menggembirakan, keripik yang diproses dengan teknologi spinner menjadi lebih kering, renyah, dan memiliki daya tahan yang lebih lama. Selain meningkatkan kualitas, teknologi ini juga mempercepat proses produksi sehingga kuantitas output bisa ditingkatkan secara signifikan.
Hal lain yang patut disorot adalah, selain mesin spinner yang memiiki fungsi untuk penirisan, tim pengabdian juga memberikan sebuah mesin pemotong. Diharapkan dengan pemberian mesin tersebut, tenaga manusia yang digunakan lebih sedikit sehingga lebih efisien dalam memproduksi jumlah banyak.
Tidak berhenti pada aspek produksi, tim pengabdian juga memperkenalkan Aplikasi SI APIK untuk membantu pengelolaan keuangan usaha. Aplikasi berbasis digital ini dirancang khusus untuk memudahkan UMKM dalam melakukan pencatatan keuangan yang rapi dan terstruktur. Bagus Hari Sugiharto, S.E., M.Ak., salah satu pemateri, menjelaskan pentingnya pengelolaan keuangan bagi keberlangsungan bisnis.
“Banyak UMKM yang gulung tikar bukan karena tidak ada pembeli, tetapi karena tidak tahu persis berapa keuntungan dan kerugian usahanya,” jelasnya.
Melalui penyuluhan, pemilik usaha diajari cara menggunakan aplikasi ini untuk mencatat pemasukan, pengeluaran, hingga analisis laba rugi. Dengan sistem pencatatan yang baik, pengusaha bisa membuat keputusan bisnis yang lebih tepat dan terukur.
Materi selanjutnya yang tak kalah menarik adalah strategi pemasaran melalui internet marketing menggunakan Artificial Intelligence (AI) dan media sosial. Bapak Afif S.Kom selaku pemateri memaparkan pentingnya melek digital, dalam hal ini penggunaan Artificial Intellegence (AI).
Era digital menuntut UMKM untuk tidak hanya mengandalkan pemasaran konvensional. Dengan memanfaatkan AI dan media sosial, jangkauan pasar bisa diperluas hingga ke tingkat nasional bahkan internasional. Strategi ini terbukti efektif untuk meningkatkan brand awareness dan penjualan produk.
Puncak kegiatan ditutup dengan sesi testimoni dan uji coba langsung teknologi spinner oleh Bapak Munib. Dengan mata berbinar, pemilik usaha keripik singkong ini mencoba sendiri alat pemotong singkong serta peniris minyak yang baru diterimanya. Serta beliau menyampaikan beribu terima kasih atas kehadiran para tim pengabdian yang memiliki intensi baik dalam membantu usaha keripik singkong milik beliau.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini bukan sekadar memberikan bantuan alat dan pelatihan. Lebih dari itu, program ini menjadi contoh nyata bagaimana perguruan tinggi dapat berkontribusi langsung untuk kemajuan ekonomi kerakyatan.
Dengan teknologi tepat guna dan sistem pengelolaan yang baik, UMKM seperti “Mekar Sari” diharapkan dapat berkembang menjadi usaha yang lebih besar dan menyerap lebih banyak tenaga kerja. Ini sejalan dengan visi SDGs untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Program serupa diharapkan dapat diadakan secara berkelanjutan untuk menjangkau lebih banyak UMKM di berbagai sektor. Kolaborasi antara dunia akademis dan pelaku usaha kecil terbukti mampu menghadirkan solusi yang aplikatif dan berdampak nyata.
Melalui inisiatif seperti ini, masa depan UMKM Indonesia tampak semakin cerah. Dengan dukungan teknologi dan manajemen yang baik, usaha kecil dapat berkembang menjadi tulang punggung perekonomian yang tangguh dan berdaya saing. (aga)


as a preferred source on Google




