Surabaya (beritajatim.id) – Pendidikan vokasi semakin diminati kalangan generasi muda yang ingin memiliki kompetensi praktis sekaligus lebih siap memasuki dunia kerja. Tren tersebut tercermin dari pilihan Axellea Pramestika Hasanah, lulusan SMA Negeri 16 Surabaya, yang memutuskan melanjutkan pendidikan ke Program Studi D3 Bahasa Inggris Universitas Airlangga (UNAIR).
Perempuan yang akrab disapa Acel itu memilih jalur vokasi setelah mengambil masa jeda kuliah atau gap year selama satu tahun. Waktu tersebut dimanfaatkannya untuk bekerja sekaligus mempersiapkan biaya pendidikan secara mandiri.
Saat ini Acel berprofesi sebagai instruktur di International Swimming School Surabaya. Pengalaman sebagai mantan atlet nasional artistic swimming membawanya dipercaya mengajarkan berbagai teknik renang, mulai dari water survival hingga keterampilan tingkat lanjut.
Menurut Acel, keputusan memilih pendidikan vokasi didasarkan pada karakter pembelajaran yang lebih banyak mengedepankan praktik dibanding teori. Setelah mencari informasi melalui berbagai media sosial, ia menilai kurikulum D3 Bahasa Inggris UNAIR sesuai dengan gaya belajarnya yang aktif dan dinamis.
Ia menuturkan bahwa dirinya lebih nyaman belajar melalui praktik langsung dibanding pembelajaran yang didominasi teori. Karena itu, pendidikan vokasi dinilai menjadi pilihan yang paling sesuai dengan kebutuhan dan aktivitasnya saat ini.
Selain mempertimbangkan metode pembelajaran, pekerjaan yang dijalaninya juga menjadi alasan memilih Program Studi D3 Bahasa Inggris. Dalam aktivitas sehari-hari sebagai instruktur renang, Acel kerap menggunakan bahasa Inggris saat berinteraksi dengan peserta didik. Kondisi tersebut membuatnya ingin memperkuat kompetensi bahasa asing melalui pendidikan formal.
Ia juga mengungkapkan bahwa manajemen tempatnya bekerja memberikan dukungan penuh terhadap keputusannya melanjutkan kuliah sambil tetap berkarier.
Tak hanya berprestasi di bidang olahraga, Acel juga memiliki pengalaman di dunia modeling. Ia pernah menjadi bagian dari ajang Gadis Sampul pada 2021. Bekal tersebut ingin terus dikembangkan ketika menjadi mahasiswa.
Acel berharap dapat memanfaatkan berbagai wadah pengembangan minat dan bakat di lingkungan kampus, termasuk mengikuti kompetisi tingkat nasional seperti Putri Pariwisata maupun ajang duta lainnya. Baginya, perguruan tinggi bukan hanya tempat menempuh pendidikan akademik, tetapi juga ruang untuk mengembangkan potensi non-akademik sekaligus membawa nama baik institusi.
Ia optimistis pengalaman yang telah dimiliki sejak usia muda dapat menjadi modal untuk berprestasi selama menempuh pendidikan di UNAIR apabila diterima sebagai mahasiswa.
Di akhir perbincangan, Acel mengajak lulusan SMA maupun sederajat agar tidak ragu memilih pendidikan vokasi. Menurutnya, jalur vokasi memiliki kualitas yang setara dengan pendidikan sarjana, dengan keunggulan pada pembelajaran berbasis praktik yang dirancang untuk menjawab kebutuhan dunia industri.
Ia meyakini pendidikan vokasi mampu membekali mahasiswa dengan kompetensi yang lebih aplikatif sehingga memiliki kesiapan lebih baik saat memasuki dunia kerja tanpa mengurangi peluang untuk terus mengembangkan karier di masa depan. (aga)


as a preferred source on Google




