Madrid (beritajatim.id) – Aksi protes pemain terhadap kebijakan La Liga yang berencana menggelar laga Villarreal vs Barcelona di Amerika Serikat menuai kontroversi baru. Para pemain dikabarkan marah besar setelah aksi protes mereka disensor dalam siaran televisi saat pertandingan Real Oviedo kontra Espanyol, Jumat (17/10/2025) waktu setempat.
Aksi protes itu berlangsung di awal pertandingan, di mana para pemain menahan bola selama 15 detik sebagai bentuk kritik terhadap kurangnya transparansi La Liga terkait rencana pertandingan di Miami, Amerika Serikat, pada Desember mendatang. Namun, saat aksi berlangsung, siaran televisi beralih ke gambar udara stadion, sehingga protes tidak terlihat oleh penonton televisi.
Kapten Espanyol, Leandro Cabrera, menjadi salah satu yang pertama menyuarakan kekecewaannya usai laga. “Kami hanya ingin didengar dan dilibatkan dalam keputusan penting yang menyangkut pemain, bukan diabaikan seperti ini,” ujarnya, dikutip dari Cadena SER.
Pemain Marah di Grup WhatsApp, AFE Siapkan Langkah Baru
Menurut laporan Cadena SER, reaksi pemain di grup WhatsApp internal yang diwakili oleh Asosiasi Pemain Spanyol (AFE) sangat keras. Mereka menilai tindakan sensor tersebut sebagai bentuk pengabaian terhadap suara pemain, yang menjadi akar masalah sejak awal.
Pemain Villarreal dan Barcelona sendiri tidak terlibat langsung dalam aksi protes, demi menghindari ketegangan dengan klub mereka. Namun, sejumlah kapten dari tim La Liga lainnya disebut mulai mendorong aksi yang lebih keras, termasuk kemungkinan mogok bertanding bila tuntutan tidak diindahkan.
Sumber internal AFE menyebutkan bahwa para pemain tengah mendiskusikan bentuk protes baru agar tidak dapat disensor oleh siaran televisi dan tetap mendapat perhatian publik.
La Liga Panggil AFE untuk Bahas Konflik
Menanggapi situasi tersebut, La Liga dilaporkan telah memanggil AFE untuk melakukan pertemuan resmi pada 24 Oktober 2025. Dalam surat yang dikirim ke AFE, La Liga menegaskan bahwa mereka tidak memiliki kewenangan penuh untuk menghentikan penjualan tiket pertandingan di Amerika Serikat, karena kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Relevent Sports Group, promotor resmi acara.
“Posisi AFE menunjukkan sikap tidak kooperatif dan dapat dianggap sebagai upaya menghalangi proyek secara tidak sah,” tulis pernyataan resmi La Liga, dikutip dari Marca.
La Liga juga menegaskan bahwa rencana pertandingan di Miami akan tetap berjalan, kecuali ada intervensi dari FIFA — yang sejauh ini belum memberikan sinyal akan turun tangan dalam kasus ini.
Ancaman Mogok dan Krisis Hubungan Pemain–La Liga
Tanpa aksi kolektif berupa mogok nasional dari AFE, tampaknya para pemain memiliki sedikit ruang untuk menekan keputusan La Liga. Namun, kemarahan yang meluas di kalangan pemain menandai memburuknya hubungan antara AFE dan otoritas liga.
Beberapa analis sepak bola Spanyol menilai situasi ini sebagai krisis komunikasi serius antara federasi dan pemain profesional, terutama menyangkut transparansi kebijakan yang berdampak langsung terhadap kesejahteraan dan keselamatan pemain.
“Jika protes disensor, pesan moral dari pemain akan kehilangan makna. La Liga seharusnya mendengar, bukan membungkam,” tulis editorial harian olahraga AS.
Kasus sensor aksi protes ini menambah panjang daftar konflik antara La Liga dan AFE menjelang rencana pertandingan Villarreal vs Barcelona di Amerika Serikat. Jika tidak segera diselesaikan, ancaman aksi mogok besar-besaran dari pemain bisa menjadi kenyataan — yang berpotensi mengganggu jadwal kompetisi domestik Spanyol. (aga)


as a preferred source on Google



