Jakarta (beritajatim.id) – Presiden Amerika Serikat Donald Trump resmi memberikan grasi kepada pendiri Binance, Changpeng Zhao, tokoh besar dunia kripto yang pernah menjalani hukuman penjara karena gagal mencegah aktivitas pencucian uang di platform perdagangannya.
Keputusan ini menandai akhir dari upaya panjang Zhao, atau yang dikenal dengan sebutan CZ, untuk memperoleh pengampunan hukum.
Dalam pernyataannya di media sosial, Zhao menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Trump atas grasi tersebut. “Sangat berterima kasih atas pengampunan ini dan kepada Presiden Trump karena menjunjung tinggi komitmen Amerika terhadap keadilan dan inovasi,” tulisnya, Kamis waktu setempat.
Zhao sebelumnya menjalani hukuman empat bulan penjara setelah mengaku bersalah atas tuduhan melanggar Bank Secrecy Act, yaitu undang-undang yang mewajibkan lembaga keuangan memantau transaksi dan melaporkan aktivitas mencurigakan. Ia merupakan individu pertama yang dipenjara karena pelanggaran terhadap aturan tersebut.
Dalam penjelasannya, Trump mengatakan banyak pihak merekomendasikan grasi tersebut. “Banyak orang mengatakan bahwa dia tidak bersalah atas apa pun,” ujar Trump. “Ia sudah menjalani empat bulan di penjara, dan banyak yang menilai tindakannya bukan kejahatan.” Trump juga menyebut Zhao menjadi korban dari “persekusi politik” oleh pemerintahan Joe Biden, yang menurutnya terlalu keras terhadap industri kripto.
Gedung Putih melalui Sekretaris Pers Karoline Leavitt menyatakan bahwa tim penasihat hukum telah meninjau permohonan grasi dengan cermat. Ia menuduh pemerintahan Biden menerapkan “hukuman berlebihan” dan “bersikap sangat bermusuhan terhadap industri kripto.”
Langkah Trump ini memperkuat citranya sebagai presiden yang pro-kripto dan berani menggunakan kekuasaan eksekutif untuk memberikan keringanan kepada tokoh-tokoh berpengaruh. Pemerintahannya bahkan telah menghentikan sejumlah tindakan hukum terhadap perusahaan kripto yang dimulai di era Biden, termasuk membubarkan tim penegakan hukum khusus di Departemen Kehakiman.
Mantan jaksa federal Mark Bini menilai grasi tersebut tidak terlalu mengejutkan. “Zhao memang tokoh terbesar di dunia kripto, tapi pelanggarannya lebih bersifat regulatif,” ujarnya.
Kasus Zhao sebelumnya menjadi sorotan global setelah Binance diketahui memfasilitasi lebih dari 1,5 juta transaksi mata uang digital senilai hampir USD 900 juta yang melanggar sanksi Amerika Serikat, termasuk transaksi terkait kelompok Hamas, Al-Qaida, dan Iran. Saat dijatuhi hukuman, Zhao menyampaikan penyesalan mendalam atas kegagalannya. “Saya gagal di sini. Saya sangat menyesal,” ujarnya di pengadilan tahun lalu.
Perjalanan hidup Zhao sendiri penuh liku. Ia tumbuh di pedesaan China sebelum keluarganya pindah ke Kanada setelah peristiwa Tiananmen tahun 1989. Di masa muda, ia bekerja di McDonald’s sebelum terjun ke dunia teknologi dan mendirikan Binance pada 2017, yang kemudian menjadi bursa kripto terbesar di dunia.
Grasi ini juga menimbulkan dampak instan di pasar aset digital. Token World Liberty Finance, proyek kripto yang didirikan oleh Trump bersama dua putranya, Donald Jr. dan Eric, melonjak tajam tak lama setelah pengumuman grasi. Token tersebut bahkan mencatat kenaikan tertinggi dibandingkan aset kripto besar lainnya, menurut data CoinMarketCap.
Hingga kini, belum jelas bagaimana pengampunan terhadap Zhao akan memengaruhi operasional Binance maupun Binance.US, entitas terpisah yang beroperasi di Amerika Serikat dengan batasan lebih ketat. Namun keputusan Trump ini diyakini semakin memperkuat posisinya sebagai pendukung utama industri kripto global. (hdl)


as a preferred source on Google



