Gyeongju (beritajatim.id) – Para pemimpin dari berbagai negara kawasan Asia-Pasifik dan dunia telah berkumpul dalam Pertemuan Tingkat Tinggi Ekonomi APEC 2025 yang digelar di Gyeongju, Korea Selatan, pada 31 Oktober–1 November 2025.
Forum ini menjadi momen penting bagi negara-negara anggota Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) untuk membahas kembali isu-isu global yang semakin kompleks, mulai dari proteksionisme hingga dampak perkembangan kecerdasan buatan (AI) terhadap ekonomi dunia.
Pertemuan ini juga menjadi ajang pertemuan tatap muka pertama antara Presiden China Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sejak Trump memulai masa jabatan keduanya di Gedung Putih. Banyak pihak menilai momentum ini krusial untuk meredakan ketegangan dagang antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia tersebut.
Proteksionisme dan Tantangan Perdagangan Global
Isu utama yang dibahas dalam pertemuan kali ini adalah meningkatnya proteksionisme ekonomi dan melemahnya sistem perdagangan global yang berbasis aturan (rules-based trading system).
Kekhawatiran tersebut mengingatkan pada situasi serupa yang terjadi ketika APEC pertama kali berdiri pada 1989, di tengah tensi dagang antara Amerika Serikat dan Jepang.
Kini, lonjakan nasionalisme ekonomi dan kian kuatnya arus anti-globalisasi kembali menjadi ancaman. Di sisi lain, tantangan baru seperti perubahan iklim, pertumbuhan berkelanjutan, dan perkembangan AI turut mendominasi agenda diskusi.
“Lembaga multilateral seperti APEC dan ASEAN memiliki peran penting untuk menjaga keterbukaan sistem perdagangan global di tengah kemunduran multilateralisme,” tulis laporan resmi APEC.
RCEP dan CPTPP Jadi Tumpuan Baru Ekonomi Asia
Selain APEC, dua kerja sama ekonomi besar lainnya, yakni Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) dan Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP), turut menjadi sorotan.
RCEP yang mulai berlaku sejak 2022 kini menjadi perjanjian perdagangan bebas terbesar di dunia, melibatkan negara-negara kunci dalam rantai pasok manufaktur Asia. Sementara itu, CPTPP disebut sebagai “standar emas” dalam kualitas perjanjian perdagangan bebas karena kedalaman komitmen dan transparansi regulasinya.
China juga telah mengajukan diri untuk bergabung dalam CPTPP, sekaligus memperkuat posisi RCEP yang masih berpusat pada rantai pasok regional di Asia Timur dan Asia Tenggara.
Sejak dibentuknya RCEP Support Unit pada Desember 2024, diharapkan proses harmonisasi regulasi dan percepatan pelaksanaan kesepakatan dapat berjalan lebih efisien untuk menekan biaya perdagangan lintas negara.
China Dorong Perdagangan Hijau dan Konektivitas Regional
Dalam konteks yang lebih luas, China terus memainkan peran penting dalam integrasi ekonomi regional melalui Belt and Road Initiative (BRI) dan Global Development Initiative (GDI). Kedua program tersebut bertujuan memperkuat konektivitas antarwilayah dan menurunkan biaya logistik perdagangan.
China juga menjadi pemain utama dalam transisi energi hijau, dengan fokus pada tiga sektor baru: kendaraan listrik, energi terbarukan, dan teknologi baterai. Komitmen ini dinilai penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan di kawasan Asia-Pasifik.
AS–China Kembali Berdialog, Dunia Berharap Stabilitas
Pertemuan Xi Jinping dan Donald Trump di sela-sela KTT APEC menjadi sorotan utama media internasional. Hubungan ekonomi kedua negara yang kerap diwarnai ketegangan diharapkan dapat menemukan titik temu baru.
“Ketidakpastian akibat konflik dagang perlu segera diakhiri. Dunia berharap pertemuan ini membuka jalan menuju kesepakatan yang adil dan rasional,” tulis pernyataan resmi APEC.
Meski masih banyak tantangan, para pemimpin ekonomi dunia optimistis APEC 2025 dapat menjadi momentum untuk memulihkan kepercayaan terhadap sistem perdagangan global dan memperkuat kerja sama ekonomi lintas kawasan di tengah gejolak geopolitik dan transformasi teknologi yang pesat. (hdl)


as a preferred source on Google



