Jakarta (beritajatim.id) – Konflik antara Amerika Serikat dan Iran terus menunjukkan eskalasi signifikan memasuki hari ke-27, di tengah sinyal diplomasi yang kembali menguat namun belum menghasilkan titik temu. Situasi di lapangan justru memperlihatkan peningkatan intensitas serangan militer dari kedua pihak.
Ledakan keras dilaporkan mengguncang ibu kota Teheran pada Kamis malam waktu setempat, diiringi aktivitas sistem pertahanan udara yang bekerja intensif untuk mencegat serangan. Operasi militer yang melibatkan Israel disebut telah menargetkan lebih dari 1.000 fasilitas produksi senjata milik Iran sebagai bagian dari kampanye besar terhadap infrastruktur militer negara tersebut.
Serangan udara juga dilaporkan terjadi di wilayah Bandar Abbas yang menewaskan sejumlah pejabat penting militer Iran, termasuk petinggi angkatan laut Garda Revolusi. Kondisi ini memperlihatkan peningkatan tekanan terhadap struktur pertahanan Iran.
Sebagai respons, Iran meluncurkan gelombang serangan terbaru dalam operasi militernya dengan mengerahkan rudal dan drone ke sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk, seperti di Kuwait, Arab Saudi, Bahrain, serta Uni Emirat Arab. Target lainnya mencakup fasilitas militer Israel dan lokasi terkait nuklir.
Di tengah eskalasi tersebut, jalur diplomasi tetap berjalan melalui komunikasi tidak langsung. Pakistan disebut berperan sebagai mediator antara Washington dan Teheran. Menteri Luar Negeri Pakistan, Mohammad Ishaq Dar, mengonfirmasi adanya proposal dari pihak Amerika Serikat yang tengah dipertimbangkan Iran.
Di sisi lain, Presiden Donald Trump menegaskan bahwa tekanan militer akan tetap berlanjut sembari membuka peluang negosiasi. Ia menyebut Iran sebagai pihak yang kini berupaya kembali ke meja perundingan, meskipun laporan lain menyebut adanya upaya Gedung Putih untuk mencari jalan keluar diplomatik dalam waktu dekat.
Iran sendiri mengajukan sejumlah syarat untuk mengakhiri konflik, termasuk penghentian serangan, jaminan tidak terulangnya perang, kompensasi kerugian, serta pengakuan kedaulatan atas Selat Hormuz. Namun, perbedaan posisi antara kedua negara dinilai masih terlalu lebar untuk mencapai kesepakatan dalam waktu dekat.
Seiring berlanjutnya konflik, risiko operasi militer darat juga meningkat. Departemen Pertahanan Amerika Serikat dilaporkan mempercepat berbagai persiapan untuk kemungkinan serangan yang lebih besar, termasuk operasi terhadap fasilitas nuklir dan jalur ekspor minyak Iran.
Iran pun meningkatkan kesiapan militernya dengan memobilisasi lebih dari satu juta personel. Pihak militer memperingatkan bahwa setiap upaya untuk membuka jalur pelayaran secara paksa di Selat Hormuz akan direspons dengan tindakan balasan, bahkan berpotensi membuka front baru di Selat Bab el-Mandeb.
Kedua selat tersebut merupakan jalur vital distribusi energi global. Gangguan di kawasan ini berisiko memicu lonjakan harga minyak dunia, mengganggu rantai pasok, hingga berdampak pada inflasi global dan perlambatan ekonomi di berbagai negara.
Di tengah dinamika geopolitik yang kian kompleks, krisis kemanusiaan juga terus memburuk. Ribuan korban jiwa dan luka dilaporkan, termasuk perempuan dan anak-anak, sementara jutaan warga terdampak terpaksa mengungsi akibat eskalasi konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. (ian)


as a preferred source on Google



