Surabaya (beritajatim.id) – Setiap tahun, ribuan toga beterbangan di berbagai kampus di Indonesia. Tradisi melempar toga selalu menjadi simbol kemenangan setelah bertahun-tahun berkutat dengan tugas, praktikum, sidang, hingga skripsi yang melelahkan. Wisuda bukan sekadar perayaan, tetapi momen ketika seorang mahasiswa akhirnya menuntaskan fase panjang dalam hidupnya. Suasana haru, senyum lega orang tua, dan kilatan kamera yang tak henti-hentinya menangkap momen bersejarah itu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari ritual kelulusan.
Namun, di balik kebahagiaan yang terlihat di permukaan, muncul satu kegelisahan yang sama-sama dirasakan oleh para wisudawan: “Setelah ini, apa yang harus dilakukan?” Pertanyaan sederhana itu seolah menjadi bayang-bayang yang mengiringi setiap langkah mereka meninggalkan area kampus untuk terakhir kalinya.
BPS merilis bahwa pada Februari 2025, tingkat pengangguran terbuka (TPT) nasional mencapai 4,76 %, sedikit menurun dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Namun bila dilihat berdasarkan jenjang pendidikan tertinggi, muncul fakta yang mengejutkan: lulusan perguruan tinggi (D4/S1/S2/S3) memiliki TPT sebesar 6,23 % pada Februari 2025, meningkat dibanding angka 5,25 % pada Februari 2024. Sementara itu, posisi lulusan SMK tetap tertinggi di antara jenjang lain dengan TPT sebesar 8,00 %. Angka ini mengindikasikan bahwa makin banyak lulusan terdidik — bukan hanya lulusan menengah — yang gagal terserap di pasar kerja sesuai kompetensi mereka.
Tingginya angka pengangguran lulusan terdidik ini memunculkan ironi tersendiri. Di satu sisi, Indonesia memiliki jumlah perguruan tinggi yang terus bertambah dan jumlah lulusan yang meningkat dari tahun ke tahun. Namun di sisi lain, pasar kerja yang tersedia tidak mampu menyerap seluruh output pendidikan tersebut. Ketidakseimbangan inilah yang menciptakan tantangan serius, terutama bagi lulusan baru (fresh graduate) yang belum memiliki pengalaman kerja.
Selain pengangguran terbuka, masalah lain yang diam-diam menghantui para lulusan baru adalah fenomena underemployment atau bekerja tidak sesuai bidang studi maupun jenjang pendidikan. Banyak lulusan akhirnya menerima pekerjaan apa pun yang tersedia demi memenuhi kebutuhan hidup, meski pekerjaannya jauh dari kompetensi yang mereka pelajari selama bertahun-tahun.
Fenomena ini tidak hanya dipicu oleh persaingan ketat di dunia kerja, tetapi juga karena masih terbatasnya lapangan pekerjaan yang benar-benar mensyaratkan keterampilan spesifik yang diajarkan di perguruan tinggi. Akibatnya, potensi lulusan terdidik tidak tersalurkan secara optimal dan berdampak pada produktivitas mereka di masa depan.
Dunia kerja yang semakin kompetitif membuat lulusan baru harus lebih adaptif. Perusahaan saat ini tidak hanya melihat ijazah atau nilai akademik, tetapi juga kemampuan tambahan seperti literasi digital, pemahaman teknologi, kemampuan komunikasi, hingga pengalaman magang atau proyek selama kuliah.
Tren rekrutmen 2025 menunjukkan bahwa skill digital, analisis data, komunikasi, dan problem solving menjadi empat kompetensi paling dicari perusahaan. Lulusan yang mampu menunjukkan portofolio nyata terkait keempat hal tersebut memiliki peluang lebih besar untuk memenangkan persaingan di pasar kerja.
Situasi ketenagakerjaan ini menjadi alarm bagi perguruan tinggi untuk menghadirkan kurikulum yang lebih responsif terhadap perkembangan industri. Program magang, kolaborasi dengan perusahaan, hingga pembelajaran berbasis proyek menjadi kebutuhan mendesak agar mahasiswa tidak hanya lulus secara teori, tetapi juga terlatih dengan keahlian yang relevan.
Jika tidak ada penyesuaian, lulusan baru akan terus menjadi korban ketidaksinkronan antara kompetensi akademik dan kebutuhan industri.
Pada akhirnya, wisuda hanya menjadi pintu pembuka menuju fase baru yang lebih menantang. Gelar sarjana memang penting, tetapi daya juang, kemampuan adaptasi, dan kemauan untuk terus belajar menjadi modal utama bagi generasi muda dalam menghadapi realitas dunia kerja saat ini.
Di tengah persaingan yang ketat, para lulusan perlu terus memperbarui keterampilan, membangun jejaring, serta berani mencoba berbagai peluang pekerjaan baik di sektor formal, kewirausahaan, hingga industri kreatif yang terus berkembang.
Euforia wisuda tetap layak dirayakan, tetapi kesadaran untuk menghadapi dunia nyata juga harus berjalan seiring. Bagi ribuan sarjana yang baru saja melepas toga, perjalanan panjang justru dimulai sekarang. Tantangan menanti, peluang menunggu dan masa depan ada di tangan mereka yang siap beradaptasi. (aga)


as a preferred source on Google




