Surabaya (beritajatim.id) – Pemerintah Provinsi Jawa Timur menegaskan kembali komitmennya dalam memperkuat pembangunan gizi masyarakat pada peringatan Hari Gizi Nasional (HGN) 2026. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyampaikan bahwa penguatan gizi merupakan fondasi utama dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.
Dalam kerangka Nawa Bhakti Satya, penguatan gizi menjadi bagian strategis dari program Jatim Sehat. Kebijakan ini menempatkan gizi tidak semata sebagai isu kesehatan, tetapi sebagai investasi pembangunan jangka panjang yang menentukan daya saing generasi masa depan.
Gizi sebagai Pilar Pembangunan SDM
Khofifah menekankan bahwa gizi berperan penting dalam membentuk masyarakat Jawa Timur yang sehat, produktif, dan berdaya saing. Oleh karena itu, pembangunan gizi harus dimulai dari unit terkecil, yakni keluarga, melalui pembiasaan pola konsumsi sehat dan seimbang.
Ia menilai bahwa pemenuhan gizi tidak selalu identik dengan biaya tinggi. Pemanfaatan bahan pangan lokal yang tersedia di sekitar masyarakat dinilai mampu mencukupi kebutuhan gizi harian jika dikelola dengan tepat.
Intervensi Gizi Komprehensif dan Kolaboratif
Upaya penguatan gizi di Jawa Timur dilakukan melalui intervensi gizi spesifik dan sensitif yang mencakup layanan kesehatan ibu dan anak, optimalisasi peran Posyandu, pemantauan asupan gizi balita, pemenuhan gizi remaja, serta edukasi gizi lintas siklus kehidupan.
Seluruh program tersebut dijalankan secara kolaboratif dengan melibatkan pemerintah kabupaten/kota, tenaga kesehatan, perguruan tinggi, dunia usaha, serta organisasi kemasyarakatan. Sinergi lintas sektor ini menjadi kunci keberlanjutan pembangunan gizi di Jawa Timur.
Tantangan Pembangunan Gizi
Meski mencatat kemajuan signifikan, Khofifah mengakui masih terdapat sejumlah tantangan dalam pembangunan gizi, terutama dalam percepatan penurunan stunting. Salah satunya adalah keterbatasan daya beli dan akses ekonomi masyarakat terhadap pangan sumber protein hewani.
Tema HGN 2026, “Penuhi Gizi Seimbang dari Pangan Lokal”, dinilai relevan untuk menjawab tantangan tersebut. Jawa Timur memiliki kekayaan pangan lokal yang melimpah, mulai dari padi, jagung, umbi-umbian, ikan, telur, sayuran, buah-buahan, hingga kacang-kacangan yang berpotensi memenuhi kebutuhan gizi keluarga.
Tantangan lainnya adalah literasi gizi masyarakat yang masih perlu ditingkatkan. Pola pikir makan asal kenyang tanpa memperhatikan komposisi gizi seimbang, serta berkembangnya mitos pangan, menjadi hambatan dalam pembentukan perilaku hidup sehat. Selain itu, meningkatnya konsumsi makanan ultra-proses juga menjadi perhatian serius, khususnya bagi anak dan remaja.
Prevalensi Stunting Terbaik di Pulau Jawa
Di tengah berbagai tantangan tersebut, capaian pembangunan gizi Jawa Timur menunjukkan hasil positif. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 yang dirilis Kementerian Kesehatan RI, prevalensi stunting di Jawa Timur turun dari 17,7 persen pada 2023 menjadi 14,7 persen pada 2024.
Capaian ini menempatkan Jawa Timur sebagai provinsi dengan prevalensi stunting terendah di Pulau Jawa dan termasuk yang terbaik secara nasional. Meski demikian, Pemerintah Provinsi Jawa Timur tetap memfokuskan perhatian pada daerah-daerah yang masih mencatat angka stunting relatif tinggi melalui intervensi yang lebih terarah dan berkelanjutan.
Gerakan Sehat Dimulai dari Piringku
Pada momentum Hari Gizi Nasional 2026, Khofifah mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat kesadaran akan pentingnya gizi seimbang melalui gerakan “Sehat Dimulai dari Piringku”. Pemerintah Provinsi Jawa Timur berkomitmen terus memperkuat edukasi gizi, ketahanan pangan lokal, serta percepatan penurunan stunting sebagai investasi jangka panjang.
Upaya tersebut diharapkan mampu mewujudkan Jawa Timur yang sehat, mandiri, dan berdaya saing, sekaligus berkontribusi nyata dalam menyiapkan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045. (rio)







