Jakarta (beritajatim.id) – Menjelang arus mudik Idul Fitri 1447 H/2026 M, ratusan gereja Katolik di berbagai wilayah Indonesia membuka fasilitas tempat singgah bagi para pemudik. Program ini merupakan bagian dari inisiatif Gereja Ramah Pemudik yang diinisiasi oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik Kementerian Agama Republik Indonesia bekerja sama dengan gereja-gereja Katolik di seluruh Indonesia.
Sebanyak 477 gereja Katolik yang tersebar di berbagai provinsi disiapkan sebagai lokasi beristirahat bagi masyarakat yang melakukan perjalanan mudik menuju kampung halaman.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik Suparman menyampaikan bahwa program ini menjadi bentuk nyata kepedulian sosial dan pelayanan kepada masyarakat tanpa memandang latar belakang agama.
Menurutnya, kehadiran gereja sebagai tempat singgah diharapkan dapat membantu para pemudik beristirahat dengan aman dan nyaman sebelum melanjutkan perjalanan mereka.
Wujud Nyata Toleransi dan Solidaritas
Program Gereja Ramah Pemudik juga dipandang sebagai simbol kuat kerukunan antarumat beragama di Indonesia. Kehadiran fasilitas singgah ini menjadi bentuk solidaritas kemanusiaan dalam menyambut momentum Lebaran.
Selain itu, inisiatif ini juga berlangsung bertepatan dengan masa Prapaskah yang sedang dijalani umat Katolik, sehingga kegiatan pelayanan kepada masyarakat menjadi bagian dari praktik nilai-nilai keimanan dan kepedulian sosial.
Direktur Urusan Agama Katolik Salman Habeahan menjelaskan bahwa koordinasi telah dilakukan dengan para pembimbing masyarakat Katolik di berbagai daerah untuk memastikan kesiapan gereja-gereja yang berada di jalur mudik.
Gereja di Berbagai Daerah Siap Layani Pemudik
Sejumlah gereja yang berada di jalur utama perjalanan antarprovinsi telah menyatakan kesiapan untuk melayani para pemudik yang membutuhkan tempat beristirahat.
Di Sumatera Selatan, Indonesia misalnya, fasilitas singgah disediakan di Gereja Katolik Santa Theresia Liseux serta Gereja Katolik Stasi Santo Yoseph.
Sementara di Jambi, Indonesia, layanan serupa tersedia di Gereja Stasi Santo Lukas Muara Tembesi yang berada di jalur strategis penghubung antarkota.
Di wilayah Sulawesi Utara, Indonesia, pemudik dapat memanfaatkan fasilitas istirahat di Gereja Katolik Santo Andreas Lolak yang terletak di jalur Trans Sulawesi.
Sementara itu di Gorontalo, Indonesia, dua gereja juga membuka fasilitas serupa, yakni Gereja Katolik Santo Theodorus Kaaruyan dan Gereja Katolik Santa Maria Bintang Kejora Kwandang.
Selain wilayah tersebut, gereja-gereja di berbagai daerah lain seperti Pulau Jawa, Papua, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, serta Maluku juga turut membuka fasilitas tempat singgah bagi pemudik.
Perkuat Semangat Persaudaraan Nasional
Program Gereja Ramah Pemudik tidak hanya memberikan manfaat praktis bagi para pelaku perjalanan, tetapi juga menjadi simbol kuat persaudaraan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
Dengan tersedianya tempat istirahat yang aman dan nyaman, para pemudik diharapkan dapat melanjutkan perjalanan menuju kampung halaman dengan kondisi yang lebih segar dan aman.
Inisiatif ini sekaligus memperlihatkan bagaimana semangat gotong royong dan toleransi antarumat beragama terus hidup di tengah masyarakat Indonesia, terutama dalam momentum besar seperti mudik Lebaran. (hdl)


as a preferred source on Google




