Jakarta (beritajatim.id) – Konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat terus memanas dan kini telah memasuki hari ke-24 tanpa tanda mereda. Situasi semakin kompleks setelah muncul ancaman baru terkait jalur energi vital dunia, Selat Hormuz.
Pasukan elit Iran, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), dilaporkan meluncurkan gelombang ke-75 dari operasi militernya dengan menyasar sejumlah target strategis Israel serta pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Eskalasi ini menandai peningkatan intensitas konflik yang berpotensi meluas ke negara-negara lain di kawasan.
Ketegangan semakin meningkat setelah Presiden AS, Donald Trump, mengancam akan menyerang infrastruktur kelistrikan Iran dalam waktu 48 jam apabila Teheran tidak membuka akses penuh di Selat Hormuz. Ancaman tersebut memicu respons keras dari pemerintah Iran.
Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz saat ini masih terbuka dan dapat dilalui, meskipun pengawasan diperketat akibat kondisi perang. Iran juga menyatakan telah mengambil langkah-langkah untuk membatasi akses kapal yang dianggap terafiliasi dengan pihak yang terlibat dalam agresi terhadap negaranya.
Dalam pernyataannya, Iran menekankan bahwa kapal dari negara-negara yang tidak terlibat konflik tetap dapat melintas dengan aman, selama mematuhi aturan keselamatan yang telah ditetapkan. Namun, Iran juga memperingatkan bahwa stabilitas di jalur tersebut sangat bergantung pada penghentian aksi militer oleh AS dan Israel.
Ancaman lebih lanjut muncul ketika Iran menyatakan siap melakukan serangan balasan terhadap infrastruktur energi dan air di negara-negara Teluk jika tekanan militer terus meningkat. Bahkan, opsi penutupan total Selat Hormuz disebut sebagai langkah yang bisa diambil jika situasi semakin memburuk.
Langkah tersebut berpotensi menimbulkan dampak besar terhadap pasokan energi global. Negara-negara di kawasan Teluk sangat bergantung pada fasilitas desalinasi untuk memenuhi kebutuhan air bersih, yang sebagian besar ditopang oleh energi listrik. Gangguan terhadap sistem ini dapat berdampak langsung pada jutaan warga sipil.
Di sisi lain, Israel melalui juru bicara militernya, Effie Defrin, menegaskan bahwa operasi militer terhadap Iran masih akan berlangsung dalam beberapa pekan ke depan. Sejak akhir Februari, Israel bersama AS diklaim telah melancarkan serangan besar-besaran terhadap ribuan target di wilayah Iran.
Konflik juga meluas ke Lebanon, di mana kelompok Hezbollah terus meluncurkan serangan roket ke wilayah Israel. Respons militer Israel di Lebanon dilaporkan telah menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar serta kerusakan infrastruktur.
Dengan eskalasi yang terus meningkat dan melibatkan banyak pihak, konflik ini kini memasuki fase krusial yang tidak hanya berdampak pada keamanan regional, tetapi juga berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi dan energi global. (ian)


as a preferred source on Google




