Jakarta (beritajatim.id) – Kepolisian Negara Republik Indonesia atau Polri mengerahkan ratusan personel ke wilayah Papua Tengah dan Maluku Utara sebagai langkah strategis memperkuat keamanan dan merespons dinamika situasi kamtibmas di kedua daerah.
Pengerahan ini dilakukan setelah adanya sejumlah insiden yang memicu gangguan keamanan, termasuk konflik antarwarga di Kabupaten Halmahera Tengah dan kasus penyerangan terhadap anggota polisi di Kabupaten Dogiyai.
Pengecekan kesiapan pasukan dilakukan di Markas Komando Brimob dan dipimpin langsung oleh Wakapolri. Dalam operasi ini, Polri menyiapkan berbagai unsur, di antaranya 100 personel Brimob untuk Papua Tengah, tim pengawasan internal (Itwasum), tim BIK, Divisi Propam, hingga Bareskrim yang difokuskan untuk penanganan hukum dan penguatan pengamanan.
Untuk wilayah Maluku Utara, sebagian personel telah lebih dahulu diberangkatkan menggunakan pesawat Beechcraft, sementara sisanya menyusul sesuai jadwal. Adapun untuk Papua Tengah, total 148 personel gabungan dijadwalkan berangkat menuju Nabire menggunakan maskapai Batik Air.
Langkah ini diambil setelah konflik antarwarga di Halmahera Tengah yang dipicu dugaan pembunuhan di Desa Bobane Jaya berkembang menjadi aksi kekerasan terbuka antara dua kelompok warga. Bentrokan tersebut mengakibatkan korban jiwa serta kerusakan sejumlah rumah, fasilitas umum, dan tempat ibadah. Aparat gabungan TNI-Polri bersama pemerintah daerah telah melakukan penanganan cepat sehingga kondisi berangsur kondusif.
Sementara itu, situasi di Dogiyai juga menjadi perhatian serius setelah seorang anggota Polri, Bripda Juventus Edowai, meninggal dunia akibat penganiayaan oleh pihak tak dikenal. Kasus ini mendorong penguatan pengamanan sekaligus percepatan proses penyelidikan.
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Trunoyudo Wisnu Andiko, menegaskan bahwa institusinya berkomitmen menjaga stabilitas keamanan nasional melalui respons cepat dan terukur. Ia menyebut pengerahan personel tambahan dilakukan untuk memastikan situasi tetap terkendali serta memberikan rasa aman bagi masyarakat.
Selain pendekatan keamanan, Polri juga menekankan pentingnya langkah humanis dalam penanganan konflik, bersamaan dengan penegakan hukum terhadap pelaku kekerasan. Upaya ini diharapkan mampu meredam eskalasi konflik sekaligus mencegah kejadian serupa terulang.
Polri juga mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi, terutama di tengah maraknya penyebaran hoaks yang berpotensi memperkeruh situasi.
Hingga saat ini, proses penyelidikan terhadap kasus di Halmahera Tengah maupun Dogiyai masih terus berlangsung. Aparat memastikan pengamanan diperkuat di titik-titik rawan serta koordinasi lintas instansi terus ditingkatkan guna menjaga stabilitas keamanan di kawasan tersebut.
Pengerahan personel ini menjadi bagian dari langkah preventif dan responsif Polri dalam menjaga ketertiban masyarakat, sekaligus menunjukkan kesiapan aparat dalam menghadapi dinamika keamanan di berbagai wilayah Indonesia. (tin)


as a preferred source on Google




