Jakarta (beritajatim.id) – Langkah Amerika Serikat memberlakukan blokade terhadap seluruh aktivitas maritim di pelabuhan Iran memicu lonjakan ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Kebijakan ini mulai diberlakukan pada Senin pagi waktu setempat, sebagaimana diumumkan oleh US Central Command (CENTCOM).
Blokade tersebut mencakup seluruh kapal yang keluar masuk pelabuhan Iran, termasuk di wilayah Teluk Arab dan Teluk Oman. Namun, pihak militer AS menyatakan bahwa kebijakan ini tidak akan mengganggu jalur pelayaran internasional menuju dan dari pelabuhan non-Iran melalui Selat Hormuz.
Kebijakan ini merupakan tindak lanjut dari pernyataan Presiden AS, Donald Trump, yang sebelumnya menegaskan upaya untuk menekan sumber pendapatan Iran, khususnya dari sektor ekspor minyak. Pemerintah AS juga disebut menyiagakan kapal penyapu ranjau guna mengamankan jalur pelayaran strategis di kawasan tersebut.
Langkah Washington langsung mendapat penolakan dari Teheran. Komandan Angkatan Laut Iran, Shahram Irani, menilai kebijakan tersebut tidak realistis dan menegaskan kesiapan militer Iran dalam memantau aktivitas AS di kawasan.
Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang mengklaim memiliki kendali penuh atas seluruh aktivitas di Selat Hormuz. Mereka memperingatkan bahwa setiap manuver militer yang dianggap provokatif akan mendapat respons tegas.
Di tengah klaim yang saling bertentangan, muncul laporan berbeda terkait aktivitas militer terbaru. Pihak CENTCOM menyebut dua kapal perang AS telah memasuki wilayah sekitar Selat Hormuz untuk melakukan operasi pembersihan ranjau. Namun, otoritas militer Iran membantah keberadaan kapal tersebut di wilayah perairan strategis itu.
Media pemerintah Iran bahkan melaporkan bahwa dua kapal perusak AS disebut mundur setelah berhadapan dengan armada Iran, meskipun klaim ini belum dikonfirmasi secara independen.
Ketegangan ini terjadi di tengah mandeknya perundingan antara AS dan Iran yang berlangsung di Islamabad. Meski Donald Trump mengklaim sebagian besar isu telah mencapai kesepakatan, perbedaan mendasar terkait program nuklir Iran masih menjadi hambatan utama.
Dari pihak Iran, sejumlah tuntutan yang diajukan AS ditolak, termasuk usulan terkait kontrol bersama Selat Hormuz, ekspor uranium yang telah diperkaya, serta penghentian aktivitas pengayaan uranium dalam jangka panjang.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menegaskan bahwa negaranya tetap bersikap tegas dan tidak akan tunduk pada tekanan. Ia juga menyoroti rendahnya tingkat kepercayaan terhadap AS dalam proses negosiasi.
Sementara itu, Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, mengimbau semua pihak untuk menahan diri dan menghormati komitmen gencatan senjata demi mencegah eskalasi lebih lanjut.
Di sisi lain, situasi ini turut meningkatkan kewaspadaan militer Israel. Seorang pejabat pertahanan Israel menyebut pasukan berada dalam status siaga tinggi untuk mengantisipasi kemungkinan konflik terbuka maupun serangan balasan dari Iran.
Blokade ini menambah ketidakpastian di salah satu jalur distribusi energi terpenting dunia. Selat Hormuz selama ini menjadi titik vital bagi perdagangan minyak global, sehingga setiap eskalasi di kawasan tersebut berpotensi berdampak luas terhadap stabilitas ekonomi internasional. (ian)


as a preferred source on Google



