Islamabad (beritajatim.id) – Pemerintah Pakistan menegaskan tidak akan bergabung dalam kesepakatan apa pun yang bertujuan menormalisasi hubungan dengan Israel. Sikap tersebut disampaikan Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif di tengah meningkatnya tekanan diplomatik terkait perluasan Abraham Accords di kawasan Timur Tengah.
Pernyataan Khawaja Asif muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta sejumlah negara yang terlibat dalam mediasi pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran untuk segera bergabung dalam Abraham Accords. Negara-negara yang disebut Trump meliputi Arab Saudi, Qatar, Mesir, Yordania, Turki, hingga Pakistan.
Trump menyampaikan pandangannya melalui unggahan media sosial dengan menegaskan bahwa negara-negara mediator sebaiknya mendukung normalisasi hubungan dengan Israel atau tidak terlibat dalam proses mediasi. Ia juga menyebut Iran seharusnya ikut bergabung dalam kesepakatan tersebut apabila tercapai perjanjian dengan Washington.
Menanggapi hal itu, Khawaja Asif menegaskan bahwa Islamabad tidak akan menerima kesepakatan yang bertentangan dengan prinsip dasar dan ideologi negara Pakistan. Sikap tersebut sekaligus memperlihatkan posisi konsisten Pakistan yang selama ini belum memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Israel.
Abraham Accords sendiri merupakan kesepakatan yang dimediasi Amerika Serikat pada 2020 untuk membuka hubungan diplomatik antara Israel dan sejumlah negara Arab. Melalui perjanjian tersebut, Uni Emirat Arab, Bahrain, Sudan dan Maroko resmi menjalin hubungan diplomatik dengan Israel.
Kesepakatan itu sempat dipandang sebagai terobosan besar dalam politik Timur Tengah karena mengubah peta hubungan sejumlah negara Arab dengan Israel. Namun di sisi lain, perjanjian tersebut juga menuai kritik dari kelompok yang menilai normalisasi dilakukan tanpa penyelesaian konkret terhadap isu Palestina.
Sebelum pecahnya konflik terbaru Israel dan Gaza pada Oktober 2023, Amerika Serikat aktif mendorong normalisasi hubungan antara Arab Saudi dan Israel. Riyadh saat itu disebut tengah mempertimbangkan pembicaraan diplomatik dengan Tel Aviv sebagai bagian dari kerja sama strategis yang lebih luas dengan Washington.
Namun setelah konflik Gaza kembali memanas, Arab Saudi menghentikan proses pembahasan normalisasi tersebut. Pemerintah Saudi mengambil langkah lebih berhati-hati menyusul meningkatnya tekanan publik di dunia Arab terkait situasi kemanusiaan di Gaza.
Pernyataan Pakistan terbaru diperkirakan akan menambah dinamika politik di kawasan, terutama di tengah upaya Amerika Serikat memperluas dukungan terhadap Abraham Accords dan menjaga stabilitas hubungan regional di Timur Tengah.
Sikap Islamabad juga mencerminkan posisi sejumlah negara mayoritas Muslim yang masih menempatkan isu Palestina sebagai faktor utama dalam menentukan hubungan diplomatik dengan Israel. (hdl)


as a preferred source on Google



