Nairobi (beritajatim.id) – Para pembuat kebijakan senior, ilmuwan, pelaku usaha, dan inovator dari berbagai negara Afrika menyepakati sebuah peta jalan baru untuk memperkuat pengelolaan hutan dan kawasan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan. Kesepakatan tersebut diharapkan menjadi fondasi penting dalam mendorong transisi menuju ekonomi hijau, meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim, serta mempercepat pembangunan yang inklusif di seluruh benua.
Kesepakatan itu dicapai pada penutupan forum virtual yang diselenggarakan African Forest Forum (AFF), organisasi konservasi nirlaba yang berbasis di Nairobi, Kenya. Kegiatan yang berlangsung selama lima hari, mulai 8 hingga 12 Juni, mempertemukan para pemangku kepentingan dari berbagai sektor untuk membahas masa depan sumber daya alam Afrika di tengah meningkatnya tekanan lingkungan dan perubahan iklim global.
Dalam forum tersebut, peserta menyoroti pentingnya menjaga kesehatan ekosistem hutan, lahan gambut, hutan bakau (mangrove), dan kawasan lahan kering yang selama ini menjadi penopang kehidupan jutaan masyarakat. Selain berfungsi sebagai penyimpan karbon alami, ekosistem tersebut juga menyediakan sumber pangan, air bersih, obat-obatan, energi biomassa, serta berbagai sumber penghidupan bagi komunitas lokal.
Sekretaris Eksekutif AFF, Labode Popoola, menilai forum tersebut menjadi momentum penting untuk meningkatkan perhatian terhadap peran hutan tropis dan bentang alam kering Afrika dalam mendukung ketahanan ekonomi dan lingkungan di masa depan. Menurutnya, sumber daya alam tersebut memiliki kontribusi besar terhadap ketahanan pangan, keamanan air, pasokan energi, serta peningkatan pendapatan masyarakat pedesaan melalui perdagangan produk berbasis pohon dan hasil hutan lainnya.
Popoola juga menegaskan bahwa penguatan tata kelola, harmonisasi kebijakan, peningkatan riset, pertukaran pengetahuan, serta pemanfaatan teknologi dan inovasi menjadi faktor utama agar negara-negara Afrika mampu mengoptimalkan manfaat dari hutan asli, padang sabana, hingga ekosistem mangrove pesisir.
Data AFF menunjukkan bahwa kawasan hutan di Afrika mencakup hampir 23 persen dari total daratan benua tersebut atau setara dengan sekitar 624 juta hektare. Luasan tersebut menjadi sumber kehidupan bagi sekitar 245 juta penduduk yang bergantung pada berbagai manfaat ekologi dan ekonomi yang dihasilkan hutan.
Selama forum berlangsung, peserta menyepakati bahwa keberhasilan pengelolaan hutan berkelanjutan membutuhkan dukungan regulasi yang kuat, kepastian pendanaan, peningkatan kesadaran publik, serta kolaborasi riset lintas negara. Langkah-langkah tersebut dinilai penting untuk mendukung pengembangan industri kehutanan yang berkelanjutan, sektor ekowisata, hingga pasar karbon yang kini semakin berkembang sebagai instrumen ekonomi hijau global.
Di sisi lain, para delegasi juga mengidentifikasi sejumlah tantangan besar yang terus mengancam keberlanjutan hutan Afrika. Perubahan iklim, urbanisasi yang pesat, praktik penggunaan lahan yang tidak berkelanjutan, pembalakan liar, serta pembukaan kawasan hutan untuk pertanian skala besar disebut sebagai ancaman utama yang harus segera diatasi.
Para peserta forum menilai bahwa tanpa intervensi kebijakan yang lebih kuat dan koordinasi regional yang efektif, berbagai ancaman tersebut dapat mempercepat degradasi lingkungan sekaligus mengurangi kemampuan Afrika dalam mencapai target pembangunan berkelanjutan dan komitmen pengurangan emisi karbon.
Melalui peta jalan yang baru disepakati, negara-negara Afrika berharap dapat memperkuat keseimbangan antara konservasi lingkungan dan pertumbuhan ekonomi. Strategi tersebut juga diharapkan mampu menjadikan hutan dan ekosistem alami sebagai aset strategis dalam menghadapi krisis iklim sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru bagi jutaan masyarakat yang menggantungkan hidup pada sumber daya alam.







