Doha (beritajatim.id) – Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali menggelar pembicaraan tidak langsung di Doha, Qatar, guna membahas implementasi kesepakatan sementara yang ditandatangani bulan lalu. Agenda utama perundingan kali ini adalah menjamin kelancaran pelayaran di Selat Hormuz serta membuka jalan menuju gencatan senjata permanen setelah konflik bersenjata yang berlangsung dalam beberapa bulan terakhir.
Berdasarkan informasi dari sumber yang mengetahui jalannya perundingan dan seorang pejabat Iran, pembicaraan teknis dimulai sejak Selasa (1/7) malam dan masih berlangsung hingga Rabu (2/7). Proses negosiasi dimediasi oleh Qatar dan Pakistan melalui mekanisme diplomasi tidak langsung antara kedua negara.
Pertemuan tersebut merupakan tindak lanjut dari kesepakatan sementara berisi 14 poin yang disepakati pada Juni lalu. Kesepakatan itu dirancang untuk menghentikan konflik yang dipicu serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Februari 2026, sekaligus membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz serta memberikan waktu 60 hari bagi kedua pihak untuk merundingkan perjanjian damai yang lebih permanen.
Meski demikian, implementasi kesepakatan belum berjalan mulus. Washington dan Teheran masih memiliki perbedaan penafsiran terhadap isi perjanjian sementara tersebut. Ketidaksepahaman itu bahkan memicu saling serang militer dalam sepekan terakhir sehingga kemajuan pembahasan sejumlah isu strategis, termasuk program nuklir Iran, masih sangat terbatas.
Dalam putaran negosiasi kali ini, Iran menempatkan pengelolaan Selat Hormuz sebagai prioritas utama. Pemerintah Iran menginginkan pengakuan internasional atas kewenangannya mengelola jalur pelayaran strategis tersebut, termasuk hak untuk mengenakan biaya kepada kapal-kapal yang melintasi Teluk Persia. Menurut sejumlah sumber senior di Teheran, Iran tetap mempertahankan posisi tersebut sebagai bagian dari kepentingan nasionalnya.
Selain isu pelayaran, Iran juga mendorong pencairan aset senilai sekitar 6 miliar dolar AS yang selama ini dibekukan di luar negeri. Delegasi Iran yang dipimpin Wakil Menteri Luar Negeri Kazem Gharibabadi melibatkan perwakilan Kementerian Luar Negeri, bank sentral, hingga Kementerian Pertanian dalam pembahasan bersama Perdana Menteri Qatar dan para mediator.
Sementara itu, Amerika Serikat memusatkan perhatian pada jaminan kebebasan lalu lintas kapal di Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur distribusi energi paling vital di dunia. Sebelum konflik pecah, sekitar 20 persen perdagangan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) global melewati perairan tersebut.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan optimisme terhadap perkembangan dialog yang berlangsung di Doha. Ia mengatakan proses menuju denuklirisasi Iran menunjukkan kemajuan, meski tidak memberikan rincian mengenai substansi pembicaraan maupun sejauh mana isu nuklir telah dibahas dalam pertemuan tersebut.
Hingga kini belum ada indikasi bahwa delegasi kedua negara mulai memasuki pembahasan teknis mengenai program nuklir Iran. Informasi yang diperoleh menunjukkan fokus utama masih tertuju pada keamanan pelayaran dan implementasi kesepakatan sementara.
Di tengah proses diplomasi, media pemerintah Iran melaporkan sebuah kapal kontainer asing kandas di Selat Hormuz setelah memasuki wilayah perairan dangkal di luar jalur pelayaran yang telah ditetapkan otoritas Iran. Insiden tersebut kembali menyoroti kompleksitas lalu lintas pelayaran di kawasan yang masih berada dalam situasi keamanan yang belum sepenuhnya stabil.
Analis pasar energi dari Vanda Insights, Vandana Hari, menilai aktivitas pelayaran di Selat Hormuz memang mulai pulih, namun kondisi operasionalnya masih belum sepenuhnya normal. Menurutnya, arus pelayaran tetap menghadapi ketidakpastian dan belum sepenuhnya transparan.
Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran sebelumnya memicu serangan balasan terhadap sejumlah negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS. Perang tersebut menyebabkan ribuan korban jiwa, terutama di Iran dan Lebanon, serta mengguncang pasar energi dunia dengan lonjakan harga minyak dan bahan bakar.
Namun, seiring meningkatnya harapan terhadap jalur diplomasi, harga minyak dunia mulai mengalami penurunan. Pada perdagangan Rabu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun sekitar satu persen menjadi 69,12 dolar AS per barel, level terendah sejak akhir Februari 2026 sebelum konflik pecah.
Kesepakatan sementara antara Washington dan Teheran juga mencakup upaya meredakan konflik di Lebanon. Amerika Serikat mendukung jalur negosiasi terpisah antara Pemerintah Lebanon dan Israel terkait pengaturan keamanan di wilayah selatan Lebanon. Meski demikian, kelompok Hizbullah menolak kerangka kesepakatan tersebut dan sejumlah pengamat menilai skema itu masih berpotensi memperpanjang ketegangan di kawasan.
Sumber yang mengikuti jalannya negosiasi menyebut aktivitas diplomasi terkait Lebanon berlangsung sangat intensif hingga Selasa malam. Perkembangan pembicaraan di Doha dipandang menjadi salah satu faktor penting yang akan menentukan arah stabilitas keamanan dan ekonomi di kawasan Timur Tengah dalam beberapa pekan mendatang. (hdl)


as a preferred source on Google




