Jakarta (beritajatim.id) – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran pada Selasa (14/7/2026) waktu setempat. Selain itu, Trump mengancam akan melancarkan serangan terhadap infrastruktur strategis Iran, termasuk pembangkit listrik dan jembatan, apabila Teheran tidak bersedia kembali ke meja perundingan.
Pemerintah Amerika Serikat juga mengumumkan gelombang baru operasi militer yang diklaim bertujuan melemahkan kemampuan Iran dalam mengganggu pelayaran komersial di Selat Hormuz. Langkah tersebut menandai eskalasi terbaru dalam konflik antara Washington dan Teheran yang kembali memanas setelah gencatan senjata rapuh yang tercapai pada Juni lalu mulai terancam runtuh.
Dalam wawancara dengan media Amerika Serikat, Trump menyatakan bahwa sasaran sektor energi Iran masih ditunda, namun akan menjadi target berikutnya apabila tidak ada kemajuan diplomatik. Ia juga mengungkapkan bahwa pemerintah AS telah menghubungi pejabat Iran dan mendesak mereka segera mencapai kesepakatan melalui jalur negosiasi.
Di sisi lain, Iran mengklaim telah melancarkan serangan balasan terhadap sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Teluk. Militer Iran menyebut telah mengirim pesawat nirawak ke pangkalan Azraq di Yordania yang digunakan pasukan AS. Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim menyerang fasilitas penyimpanan senjata di Bahrain dan Kuwait.
Situasi tersebut semakin meningkatkan ketidakpastian terhadap implementasi nota kesepahaman yang ditandatangani kedua pihak bulan lalu. Kesepakatan itu sebelumnya diharapkan menjadi langkah awal menuju penghentian konflik yang lebih permanen. Namun, perkembangan terbaru menunjukkan perang semakin meluas hingga melibatkan negara-negara di kawasan Timur Tengah dan berdampak terhadap jalur perdagangan internasional.
Pemerintah Iran juga melaporkan adanya serangan Amerika Serikat di sejumlah lokasi dekat Selat Hormuz. Otoritas Provinsi Hormozgan menyebut proyektil menghantam wilayah sekitar Bandar Abbas, sementara kantor berita resmi IRNA melaporkan serangan lain terjadi di dekat Sirik.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan bahwa tekanan militer maupun ekonomi tidak akan memaksa negaranya kembali ke meja perundingan. Menurutnya, kebijakan Amerika Serikat justru memperbesar ketegangan dan tidak akan mengubah sikap Teheran.
Selat Hormuz menjadi pusat perhatian dunia karena merupakan jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. Sebelum konflik pecah pada Februari lalu, sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas dunia melewati kawasan tersebut setiap hari. Penutupan maupun gangguan di jalur itu berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan energi global.
Trump sebelumnya sempat mengusulkan penerapan biaya sebesar 20 persen bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz. Namun, usulan tersebut kemudian dibatalkan setelah menuai kritik dari berbagai pihak, termasuk organisasi pelayaran internasional. Sebagai gantinya, Trump menyatakan akan memperkuat kerja sama investasi dengan negara-negara Teluk, meski belum menjelaskan rincian kebijakan tersebut.
Blokade laut yang kembali diberlakukan mulai berlaku pada Selasa pukul 20.00 GMT dan mencakup kapal-kapal yang menuju maupun meninggalkan pelabuhan serta wilayah pesisir Iran. Pemerintah Amerika Serikat menegaskan pembatasan hanya berlaku bagi pelayaran Iran, sedangkan kapal dari negara lain tetap dapat menggunakan Selat Hormuz.
Militer Amerika Serikat juga mengonfirmasi lebih dari 20 kapal perang Angkatan Laut AS serta ratusan pesawat militer kini ditempatkan di kawasan Timur Tengah sebagai bagian dari penguatan operasi keamanan.
Di dalam negeri, kebijakan Trump menghadapi tekanan politik yang semakin besar. Lonjakan harga bahan bakar di Amerika Serikat menjadi perhatian menjelang pemilihan anggota Kongres pada November mendatang. Di pasar global, harga minyak mentah Brent tercatat melonjak sekitar 15 persen dalam sepekan terakhir hingga mencapai sekitar 85 dolar AS per barel, level tertinggi sejak pertengahan Juni, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi akibat konflik di Timur Tengah. (hdl)


as a preferred source on Google




