Surabaya (beritajatim.id) – Toxic relationship selama ini lebih banyak dikaitkan dengan dampak terhadap kesehatan mental, seperti stres, kecemasan, hingga depresi. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa hubungan yang tidak sehat juga dapat memengaruhi kondisi fisik seseorang, mulai dari melemahnya sistem kekebalan tubuh hingga meningkatnya risiko penyakit autoimun.
Laporan The Independent yang terbit pada 6 Juli 2026 mengungkap bahwa tubuh manusia secara alami akan mengutamakan mekanisme bertahan hidup ketika menghadapi tekanan. Respons tersebut tidak hanya dipicu oleh ancaman fisik, tetapi juga oleh stres emosional yang berlangsung dalam waktu lama.
Ketika seseorang terus berada dalam hubungan yang penuh konflik, manipulasi, atau tekanan psikologis, tubuh akan mempertahankan kondisi fight or flight atau “lawan atau lari”. Respons ini membuat hormon stres, terutama kortisol, terus diproduksi dalam kadar tinggi sehingga memengaruhi berbagai sistem di dalam tubuh.
Stres Kronis Dapat Mengganggu Sistem Imun
Menurut laporan MedReport Foundation yang dikutip The Independent, paparan stres kronis akibat hubungan yang toksik dapat membuat tubuh berada dalam kondisi siaga secara terus-menerus.
Akibatnya, kadar kortisol yang tinggi dalam jangka panjang dapat menurunkan fungsi sistem kekebalan tubuh, meningkatkan peradangan, mengganggu keseimbangan hormon, hingga memengaruhi kesehatan saluran pencernaan, termasuk memicu kondisi yang dikenal sebagai leaky gut atau usus bocor.
Bagi sebagian orang yang memiliki faktor risiko tertentu, kondisi tersebut juga berpotensi memicu kambuhnya penyakit autoimun.
Risiko Penyakit Autoimun Meningkat
Sejumlah penelitian menemukan adanya hubungan antara stres berat yang berlangsung lama dengan meningkatnya risiko penyakit autoimun.
Orang yang mengalami trauma atau tekanan emosional berkepanjangan dilaporkan memiliki peluang sekitar 36 persen lebih tinggi mengalami gangguan autoimun, seperti:
- Rheumatoid arthritis
- Lupus
- Psoriasis
- Hashimoto’s disease
- Crohn’s disease
Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa penyakit autoimun tidak hanya dipengaruhi oleh stres. Faktor genetik, lingkungan, pola hidup, dan kondisi kesehatan lain juga berperan dalam perkembangan penyakit tersebut.
Kualitas Hubungan Berpengaruh terhadap Kesehatan
Selain risiko autoimun, kualitas hubungan interpersonal juga disebut memiliki kaitan dengan kesehatan secara keseluruhan.
Sebuah penelitian yang dipublikasikan pada 2010 menunjukkan bahwa individu yang menjalani hubungan tidak sehat memiliki risiko kematian lebih tinggi dibandingkan mereka yang memiliki hubungan sosial yang baik. Temuan tersebut menggambarkan bahwa tekanan emosional jangka panjang dapat memberikan dampak serius terhadap kesehatan, meski hubungan sebab-akibatnya masih terus diteliti.
Dalam laporan The Independent, pengalaman Becca Scott menjadi salah satu contoh bagaimana stres berkepanjangan diduga memperburuk kondisi Crohn’s disease dan Hashimoto’s disease yang telah dideritanya sejak kecil. Menurut laporan tersebut, konflik dalam hubungan personal menjadi salah satu faktor yang memperburuk kondisi kesehatannya.
Stres Berkepanjangan Dapat Memperlambat Proses Pemulihan
Wallace-Scott, yang dikutip dalam laporan The Independent, menjelaskan bahwa stres lingkungan yang terus berlangsung dapat menjadi faktor yang mempertahankan berbagai gangguan kesehatan.
Saat seseorang terus hidup dalam tekanan emosional, tubuh akan lebih sulit memasuki fase pemulihan. Kondisi tersebut dapat membuat seseorang merasa cepat lelah, mengalami peradangan berkepanjangan, hingga merasa semakin bergantung pada lingkungan yang sebenarnya menjadi sumber stres.
Karena itu, menurut Wallace-Scott, upaya memperbaiki kondisi kesehatan tidak hanya berfokus pada pengobatan medis, tetapi juga perlu mempertimbangkan faktor lingkungan, termasuk kualitas hubungan interpersonal yang dijalani seseorang.
Menjaga Hubungan Sehat Menjadi Bagian dari Gaya Hidup
Para peneliti menilai masih diperlukan studi lebih lanjut untuk memahami secara mendalam hubungan antara toxic relationship dan berbagai penyakit fisik.
Meski demikian, semakin banyak bukti ilmiah menunjukkan bahwa kesehatan mental dan kesehatan fisik saling berkaitan erat. Mengelola stres, membangun hubungan yang sehat, menerapkan pola hidup seimbang, serta mencari bantuan profesional ketika mengalami tekanan emosional berkepanjangan dapat menjadi langkah penting dalam menjaga kesehatan secara menyeluruh.
Hubungan yang sehat bukan hanya memberikan rasa aman secara emosional, tetapi juga berkontribusi terhadap kualitas hidup dan kesehatan fisik dalam jangka panjang. Dengan mengenali tanda-tanda toxic relationship sejak dini, seseorang memiliki peluang lebih besar untuk melindungi kesejahteraan mental maupun kondisi tubuhnya. (aga)


as a preferred source on Google




