Jakarta (beritajatim.id) – Merasa nyaman menghabiskan waktu sendirian seringkali dikaitkan dengan kepribadian introvert. Namun, ketika rasa sendirian disertai ketakutan dan kecemasan sosial yang melumpuhkan, hal itu bisa mengindikasikan kondisi yang lebih serius, yaitu Avoidant Personality Disorder (APD) atau Gangguan Kepribadian Menghindar.
Introversi merupakan salah satu tipe kepribadian dalam spektrum normal. Seorang introvert justru mengisi ulang energi dengan menyendiri atau berada di lingkungan yang tenang. Mereka tetap mampu berinteraksi sosial ketika diperlukan, hanya saja preferensi mereka cenderung pada kedalaman hubungan, bukan kuantitas pertemanan.
Berbeda dengan introversi yang merupakan preferensi, Avoidant Personality Disorder adalah sebuah gangguan mental yang ditandai dengan pola pervasive perasaan tidak mampu, hipersensitivitas terhadap evaluasi negatif, dan penghindaran terhadap interaksi sosial karena takut ditolak atau dikritik.
Gangguan ini masuk dalam kategori gangguan kepribadian dalam PPDGJ (Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa) dan DSM-5 (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders). Prevalensinya diperkirakan sekitar 2.5 persen di populasi umum.
Perbedaan mendasar terletak pada dampaknya terhadap kualitas hidup. Seorang introvert dapat menjalani fungsi sosial, pekerjaan, dan hubungan pribadi dengan baik, meski memilih lingkungan yang tidak terlalu ramai. Sebaliknya, individu dengan APD mengalami penderitaan dan hambatan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan akibat rasa takut yang intens.
Gejala khas APD meliputi penghindaran aktivitas kerja yang melibatkan kontak interpersonal karena takut akan kritik atau penolakan, keengganan terlibat dengan orang lain kecuali yakin akan disukai, dan ketakutan dipermalukan atau diolok-olok dalam hubungan intim.
Jika perasaan kesepian atau penghindaran sosial sudah menyebabkan distress berat, mengganggu pekerjaan, studi, atau hubungan sosial secara signifikan, maka sudah saatnya mencari pertolongan profesional.
Penanganan APD umumnya melibatkan psikoterapi, seperti terapi kognitif-perilaku, untuk membangun kepercayaan diri dan keterampilan sosial. Dalam beberapa kasus, obat-obatan dapat diresepkan untuk mengatasi gejala kecemasan atau depresi yang menyertai.
Mengenali perbedaan antara sifat kepribadian yang normal dan kondisi gangguan mental adalah langkah pertama yang krusial. Introversi adalah bagian dari keragaman manusia, sementara APD adalah kondisi kesehatan serius yang memerlukan empati dan dukungan untuk pemulihan. (mnd/dari berbagai sumber)


as a preferred source on Google




