Surabaya (beritajatim.id) – Fenomena keluarga tidak harmonis atau broken home masih menjadi tantangan sosial di Indonesia. Data dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menunjukkan sekitar 4,79 persen keluarga di Indonesia mengalami konflik cerai hidup yang berpotensi memicu disfungsi keluarga.
Menanggapi fenomena tersebut, pakar psikologi dari Universitas Airlangga, Atika Dian Ariana, menekankan pentingnya peran orang tua dalam menjaga kesehatan mental anak di tengah konflik keluarga.
Menurut Atika, dalam perspektif psikologi, broken home terjadi ketika keluarga tidak lagi mampu menjalankan fungsinya secara optimal akibat konflik yang berkepanjangan. Kondisi tersebut tidak hanya memengaruhi hubungan antarorang tua, tetapi juga berdampak langsung pada perkembangan psikologis anak.
Perubahan Perilaku Anak Jadi Tanda Awal
Dampak broken home sering kali terlihat dari perubahan perilaku anak dalam kehidupan sehari-hari. Anak yang hidup dalam lingkungan keluarga dengan konflik tinggi cenderung mengalami penurunan rasa percaya diri serta kesulitan berinteraksi dengan lingkungan sosial.
Atika menjelaskan bahwa beberapa tanda yang kerap muncul antara lain berkurangnya minat bergaul dengan teman sebaya, penurunan prestasi akademik, serta perubahan emosi seperti mudah marah, cemas, atau merasa takut secara berlebihan.
Situasi ini dapat terjadi karena anak kehilangan rasa aman yang seharusnya terbentuk dalam lingkungan keluarga. Ketika hubungan orang tua dipenuhi konflik, anak sering kali mengalami krisis kepercayaan dan kesulitan memahami kondisi yang terjadi di sekitarnya.
Kapan Anak Perlu Bantuan Profesional?
Dalam beberapa kasus, anak yang berada dalam situasi keluarga tidak harmonis memerlukan pendampingan profesional. Bantuan dari psikolog, konselor, atau psikiater menjadi penting ketika perubahan perilaku anak semakin memburuk.
Atika menyebutkan dua kondisi utama yang perlu menjadi perhatian. Pertama, ketika anak menunjukkan perubahan perilaku yang semakin ekstrem atau berkepanjangan. Kedua, ketika keluarga tidak mampu menyediakan dukungan emosional yang sehat, terutama jika konflik melibatkan unsur kekerasan.
Pada kondisi tersebut, anak sebaiknya mendapatkan lingkungan yang lebih aman sekaligus pendampingan dari tenaga kesehatan mental agar proses pemulihan psikologis dapat berjalan optimal.
Peran Orang Tua Tetap Menjadi Kunci
Meski konflik keluarga dapat memberikan dampak negatif, Atika menegaskan bahwa tidak semua anak dari keluarga broken home mengalami gangguan kesehatan mental. Hal ini sangat bergantung pada bagaimana orang tua tetap menjalankan perannya dalam proses tumbuh kembang anak.
Beberapa faktor yang memengaruhi kondisi psikologis anak di antaranya lingkungan keluarga yang tidak kondusif, komunikasi yang buruk, serta kurangnya kehadiran orang tua dalam kehidupan anak.
Sebaliknya, komunikasi yang terbuka dan dukungan emosional yang konsisten dapat membantu anak mengelola perasaan mereka dengan lebih baik. Pendampingan tersebut juga membuat anak tidak merasa terasingkan meskipun keluarga sedang menghadapi konflik.
Pendekatan Berbeda Sesuai Usia Anak
Pendekatan orang tua terhadap anak juga perlu disesuaikan dengan usia dan tingkat kematangan emosional. Pada anak usia dini, pendampingan yang intensif menjadi sangat penting karena mereka belum mampu memahami konflik orang dewasa secara utuh.
Sementara itu, pada anak yang lebih dewasa, pendekatan komunikasi terbuka dapat menjadi cara efektif untuk membantu mereka mengekspresikan emosi dan memahami situasi keluarga dengan lebih rasional.
Di akhir penjelasannya, Atika mengingatkan bahwa anak bukanlah penyebab konflik dalam keluarga. Oleh karena itu, anak seharusnya tidak dibebani oleh masalah orang dewasa.
Ia juga mendorong anak-anak yang berada dalam situasi keluarga tidak harmonis untuk tetap fokus pada pendidikan dan cita-cita mereka, karena kondisi keluarga saat ini tidak menentukan masa depan mereka.
Isu kesehatan mental anak dan kualitas hubungan keluarga menjadi perhatian penting di tengah dinamika sosial masyarakat modern. Dukungan keluarga, lingkungan, serta layanan kesehatan mental yang memadai menjadi faktor krusial dalam memastikan anak tetap tumbuh secara sehat secara psikologis. (hdl)


as a preferred source on Google




