Abu Dhabi (beritajatim.id) – Iran menyatakan tujuan untuk mencapai perjanjian nuklir damai dengan Amerika Serikat guna menyelesaikan sengketa yang telah berlangsung puluhan tahun. Namun, Deputi Menteri Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh, menegaskan bahwa negaranya tidak akan mengorbankan keamanan nasionalnya dalam proses perundingan tersebut.
Pernyataan ini disampaikan Khatibzadeh dalam forum 12th Abu Dhabi Strategic Debate, di tengah kebuntuan diplomatik antara kedua negara.
“Tehran tidak mencari bom nuklir dan, siap meyakinkan dunia tentang hal itu. Kami sangat bangga dengan program nuklir yang dikembangkan sendiri,” ujar Khatibzadeh, mengulangi klaim resmi pemerintahannya bahwa program nuklir Iran hanya untuk tujuan damai.
Sinyal Bertolak Belakang dan Tuduhan Pengkhianatan Diplomasi
Khatibzadeh menuding Washington memberikan pesan yang bertolak belakang kepada Tehran mengenai pembicaraan nuklir melalui negara-negara ketiga. Ia juga mengulangi pandangan Tehran dengan menuduh AS telah “mengkhianati diplomasi.”
Pembicaraan nuklir antara kedua negara terhenti sejak konflik 12 hari antara Iran dan Israel pada Juni 2025, yang diikuti oleh serangan AS terhadap situs-situs nuklir kunci Iran. Sebelum konflik tersebut, kedua pihak telah menggelar lima putaran perundingan.
Pada Oktober 2025, Presiden AS Donald Trump menyatakan kesediaannya untuk bernegosiasi dengan Iran ketika Tehran siap, dengan mengatakan, “Tangan persahabatan dan kerja sama (dengan Iran) terbuka.”
Ganjalan Besar: Isu Pengayaan Uranium
Kendati ada sinyal keterbukaan, celah perbedaan yang besar masih membentang antara kedua pihak. Isu utama adalah pengayaan uranium di tanah Iran.
Amerika Serikat, didukung oleh sekutu Eropa dan Israel, menuduh Iran menggunakan program nuklirnya sebagai kedok untuk mengembangkan kemampuan memproduksi senjata. AS menginginkan pengurangan level pengayaan uranium Iran hingga ke level nol untuk meminimalkan risiko proliferasi senjata nuklir—sebuah rencana yang secara tegas ditolak Tehran.
Posisi keras Iran ini diperkuat oleh pemimpin tertingginya, Ayatollah Ali Khamenei, yang memiliki kata akhir dalam isu-isu nasional penting seperti kebijakan luar negeri dan program nuklir. Pekan lalu, Khamenei menegaskan bahwa Iran tidak akan bernegosiasi dengan Amerika Serikat di bawah ancaman.
Dengan kedua pihak masih berpegang pada posisi yang berhadap-hadapan, jalan menuju perjanjian nuklir yang baru diperkirakan akan tetap berliku, meskipun Iran menyatakan komitmennya untuk menyelesaikan sengketa secara damai. (hdl)


as a preferred source on Google



