Washington DC (beritajatim.id) – Kesepakatan dagang baru antara Amerika Serikat dan Uni Eropa yang diumumkan pada Minggu (27/7) waktu setempat menuai respons negatif dari sejumlah pemimpin Eropa. Perdana Menteri Prancis, Francois Bayrou, menyebut kesepakatan tersebut sebagai “hari yang muram bagi Eropa”, sementara Menteri Urusan Eropa Prancis, Benjamin Haddad, menilainya sebagai kesepakatan yang “tidak seimbang.”
Kesepakatan ini diumumkan usai pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen yang berlangsung di Skotlandia. Trump menyebut kesepakatan tersebut sebagai “yang terbesar dalam sejarah,” sementara Von der Leyen menggambarkannya sebagai “hasil dari negosiasi yang sulit.”
Namun, tak semua pemimpin Eropa sependapat. Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban bahkan melontarkan kritik keras. Dalam siaran langsung di Facebook, Orban mengatakan, “Donald Trump bukan membuat kesepakatan dengan Ursula von der Leyen, melainkan memakannya untuk sarapan.” Ia juga menyebut perjanjian itu lebih buruk dibandingkan kesepakatan dagang AS-Inggris, yang mengenakan tarif 10 persen untuk sebagian besar ekspor Inggris ke AS.
Tarif Baru dan Implikasi Ekonomi
Dalam kesepakatan ini, AS akan memberlakukan tarif 15 persen atas seluruh barang impor dari Uni Eropa. Sektor otomotif, semikonduktor, dan farmasi—yang merupakan tulang punggung ekspor beberapa negara Eropa seperti Jerman dan Irlandia—menjadi sektor yang paling terdampak.
Trump juga mengumumkan bahwa Uni Eropa sepakat membeli energi dari AS senilai $750 miliar serta berkomitmen untuk investasi tambahan sebesar $600 miliar. Ini dilakukan untuk menghindari rencana tarif 30 persen atas ekspor Eropa yang sebelumnya dijadwalkan mulai berlaku 1 Agustus.
Presiden Asosiasi Industri Otomotif Jerman (VDA), Hildegard Mueller, menyebut kebijakan tarif baru ini akan membebani perusahaan otomotif Jerman hingga miliaran dolar per tahun. “Yang penting sekarang adalah bagaimana detail implementasinya dan seberapa dapat diandalkan kesepakatan ini,” ujarnya.
Namun, Kanselir Jerman Friedrich Merz justru menyambut baik perjanjian tersebut karena dianggap berhasil mencegah eskalasi lebih lanjut dalam hubungan dagang transatlantik.
Kritik Prancis: “Eropa Harus Bangun”
Meski mengapresiasi beberapa pengecualian untuk sektor strategis Prancis seperti regulasi digital dan kesehatan, Benjamin Haddad mengingatkan bahwa pendekatan ekonomi AS kali ini mencerminkan “pemaksaan ekonomi dan pengabaian terhadap aturan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).”
“Eropa harus segera menyimpulkan pelajaran dari ini semua. Jika tidak, kita bisa tertinggal jauh dan mengalami kemunduran,” ujar Haddad.
Sebagai catatan, ekspor baja Eropa ke AS saat ini masih dikenakan tarif hingga 50 persen. Meski begitu, Von der Leyen menyebut telah ada kompromi terkait sektor logam tersebut.
Tahapan Selanjutnya: Persetujuan dan Pembahasan Teknis
Kesepakatan ini belum sepenuhnya final. Para duta besar negara anggota UE dijadwalkan bertemu hari Senin (28/7) untuk mendengar laporan langsung dari Komisi Eropa. Masih banyak aspek teknis yang harus dibahas, termasuk kebijakan tarif terhadap alkohol—isu sensitif bagi negara-negara seperti Prancis dan Belanda yang memiliki industri wine dan bir besar.
Von der Leyen menggambarkan perjanjian ini sebagai “kerangka kerja” awal. “Beberapa hal seperti minuman beralkohol masih perlu dibahas dalam beberapa hari ke depan,” ujarnya.
Meski negosiasi dengan Presiden AS berlangsung di tengah padang golf yang berangin dan basah di Skotlandia, tantangan sesungguhnya kini datang dari dalam rumah sendiri—bagaimana menyatukan 27 negara anggota dengan kepentingan ekonomi yang berbeda-beda. (hen/ted)


as a preferred source on Google



