Surabaya (beritajatim.id) – Kebiasaan mengonsumsi kopi, teh, hingga minuman energi setiap hari bisa menjadi tantangan saat memasuki bulan Ramadan. Para dokter menyarankan masyarakat mulai mengurangi asupan kafein jauh sebelum puasa dimulai agar tubuh tidak mengalami “kaget” mendadak.
Kafein dikenal sebagai stimulan yang membantu meningkatkan fokus dan menjaga tubuh tetap terjaga. Namun, ketika konsumsi dihentikan secara tiba-tiba, tubuh bisa memunculkan reaksi yang dikenal sebagai gejala putus kafein. Kondisi ini umum terjadi pada mereka yang terbiasa minum kopi atau minuman berkafein setiap hari.
Selain itu, kafein memiliki efek diuretik ringan yang dapat meningkatkan frekuensi buang air kecil. Jika dikonsumsi berlebihan saat sahur atau berbuka, risiko dehidrasi bisa meningkat dan berdampak pada turunnya energi sepanjang hari.
Ahli kesehatan menjelaskan bahwa tubuh yang sudah terbiasa menerima kafein dalam jumlah tertentu akan menyesuaikan ritmenya. Ketika asupan tersebut dihentikan mendadak, muncul berbagai keluhan seperti sakit kepala berdenyut, mudah tersinggung, sulit berkonsentrasi, hingga rasa pegal menyerupai gejala flu ringan.
Gejala putus kafein umumnya mulai terasa 12 hingga 24 jam setelah konsumsi terakhir. Kondisi ini mencapai puncaknya pada dua hari pertama dan pada peminum berat dapat berlangsung lebih dari satu minggu.
Karena itu, pendekatan paling aman adalah mengurangi kafein secara bertahap, bukan langsung berhenti total saat hari pertama puasa.
Untuk membantu tubuh beradaptasi, dokter merekomendasikan beberapa langkah sederhana:
- Kurangi 25–50 persen asupan kafein setiap beberapa hari.
- Campurkan kopi biasa dengan kopi tanpa kafein untuk menurunkan kadar secara perlahan.
- Ganti kopi pekat dengan teh hijau atau teh putih yang kandungan kafeinnya lebih ringan.
- Hindari minuman energi tinggi gula karena dapat memicu rasa lemas setelah efeknya hilang.
Strategi bertahap ini memberi waktu bagi tubuh menyesuaikan diri sebelum memasuki pola puasa penuh.
Selain membatasi kafein, perhatikan pola hidup secara keseluruhan. Pastikan kebutuhan cairan terpenuhi setelah berbuka hingga menjelang sahur guna mencegah sakit kepala akibat dehidrasi. Tidur cukup juga berperan penting dalam menjaga stamina saat asupan stimulan dikurangi.
Aktivitas fisik ringan seperti berjalan kaki dapat membantu tubuh memproduksi hormon yang meningkatkan rasa segar secara alami. Jika masih ingin mengonsumsi sedikit kafein, lakukan secara konsisten saat sahur agar tubuh memiliki ritme yang teratur.
Jangan lupa memperhatikan sumber kafein tersembunyi seperti soda, cokelat, atau minuman kemasan tertentu yang sering luput dari perhatian.
Rasa lelah pada awal Ramadan tergolong wajar. Namun, dengan persiapan yang tepat, dampaknya bisa diminimalkan. Mengurangi kafein sebelum Ramadan memberi kesempatan bagi tubuh untuk menyeimbangkan kembali sistem energinya.
Puasa akan terasa lebih ringan ketika kebiasaan baru sudah terbentuk lebih dulu. Disiplin mengatur asupan, menjaga hidrasi, serta menerapkan pola hidup sehat menjadi kunci agar ibadah berjalan lancar tanpa gangguan sakit kepala maupun perubahan suasana hati.
Persiapan sederhana sejak sekarang dapat membantu menjalani Ramadan dengan tubuh yang lebih segar, fokus terjaga, dan stamina tetap stabil sepanjang hari. (aga)


as a preferred source on Google




