Yogyakarta (beritajatim.id) – PT Pertamina Hulu Energi (PHE), Subholding Upstream Pertamina, menegaskan bahwa sektor minyak dan gas bumi (migas) masih memegang peran krusial dalam menjaga ketahanan energi nasional, meskipun Indonesia tengah memasuki fase transisi menuju energi rendah karbon.
Direktur Keuangan PHE, Bayu Kusuma Dewanto, menyampaikan bahwa peningkatan kebutuhan energi domestik membuat migas tetap dibutuhkan sebagai sumber energi utama sekaligus penopang stabilitas ekonomi nasional. Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan Pembekalan Calon Wisudawan Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Periode II Tahun Akademik 2026/2027 di Grha Sabha Pramana UGM, Selasa (20/1/2026).
Menurut Bayu, keberadaan sektor migas tidak hanya berfungsi sebagai penyedia energi, tetapi juga sebagai sumber arus kas yang memungkinkan keberlanjutan investasi strategis, termasuk eksplorasi, peningkatan produksi, serta pengembangan portofolio bisnis rendah karbon.
Strategi Menahan Penurunan Produksi Migas
Di sektor hulu, PHE menghadapi tantangan berupa penurunan alamiah produksi migas dari lapangan-lapangan yang telah beroperasi lama. Untuk menjaga tingkat produksi nasional, perusahaan menjalankan sejumlah program strategis seperti pengeboran baru, workover, well intervention & well service (WIWS), serta penerapan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) dan Improved Oil Recovery (IOR).
Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan pasokan migas domestik tetap stabil sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor energi.
Eksplorasi Jadi Kunci Keberlanjutan Energi
Selain mengoptimalkan lapangan eksisting, PHE juga terus mendorong aktivitas eksplorasi migas. Indonesia masih memiliki sejumlah cekungan migas dengan potensi besar yang belum tergarap secara optimal. Peluang ini membuka ruang kolaborasi dan investasi strategis guna memperkuat cadangan energi nasional dalam jangka panjang.
Eksplorasi menjadi bagian penting dari strategi PHE untuk memastikan keberlanjutan pasokan energi, sekaligus menjaga daya saing sektor hulu migas nasional di tengah dinamika global.
Komitmen ESG dan Pengembangan CCS/CCUS
Dalam kerangka transisi energi, PHE mengadopsi pendekatan bertahap dan terukur dengan tetap berpegang pada prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Salah satu fokus utama adalah pengembangan teknologi Carbon Capture, Storage, and Utilization (CCS/CCUS) sebagai solusi dekarbonisasi industri migas.
Saat ini, PHE mengelola potensi kapasitas penyimpanan karbon mencapai 7,3 gigaton yang tersebar di 11 lokasi prioritas. Inisiatif ini diharapkan mampu menekan emisi karbon sekaligus memperpanjang usia produktif lapangan migas.
Tata Kelola dan Integritas Bisnis
PHE juga menegaskan komitmennya terhadap tata kelola perusahaan yang bersih dan berintegritas. Perusahaan menerapkan kebijakan zero tolerance terhadap penyuapan dan fraud melalui implementasi Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP) yang telah mengacu pada standar internasional ISO 37001:2016.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kepercayaan publik dan mitra bisnis, sekaligus memastikan keberlanjutan operasional perusahaan di tengah tuntutan transparansi global. (ren)


as a preferred source on Google




