Surabaya (beritajatim.id) – Awal bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah tahun ini diperkirakan menghadirkan tantangan tersendiri bagi umat Islam di Jawa Timur. Puasa yang kemungkinan dimulai pada pertengahan Februari 2026 bertepatan dengan fase puncak musim hujan, saat cuaca ekstrem masih berpotensi melanda Surabaya Raya dan wilayah sekitarnya.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda telah mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem pada periode 1–10 Februari 2026, yang diperkirakan dapat berlanjut hingga awal Ramadhan. Kondisi yang perlu diwaspadai antara lain hujan lebat disertai angin kencang dan petir, terutama pada sore hingga malam hari.
Periode rawan cuaca ekstrem ini bertepatan dengan aktivitas masyarakat saat ngabuburit hingga pelaksanaan salat Tarawih. Selain berdampak pada mobilitas, cuaca dingin dan lembap juga berisiko mengganggu kondisi fisik selama menjalani ibadah puasa.
Suhu udara yang lebih rendah kerap memicu fenomena dehidrasi terselubung. Rasa haus cenderung berkurang, padahal tubuh tetap kehilangan cairan. Kondisi ini dapat menurunkan daya tahan tubuh dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan, seperti flu hingga penyakit yang umum muncul di musim hujan.
Untuk menjaga kebugaran, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) merekomendasikan penerapan pola hidrasi 2-4-2 yang perlu diterapkan sejak hari pertama puasa. Pola ini dinilai efektif menjaga keseimbangan cairan tubuh meski waktu minum terbatas.
Dua gelas air putih dianjurkan saat berbuka puasa, yakni satu gelas saat azan Magrib dan satu gelas setelah takjil atau sebelum salat Magrib. Empat gelas berikutnya diminum secara bertahap pada malam hari, mulai setelah Magrib, usai makan besar, setelah Isya atau Tarawih, hingga menjelang tidur. Sementara dua gelas terakhir dikonsumsi saat sahur, satu gelas saat bangun tidur dan satu gelas menjelang imsak.
Selain manajemen cairan, penyesuaian pola tidur juga menjadi faktor penting. Masyarakat disarankan tidur lebih awal setelah Tarawih serta membatasi penggunaan gawai setidaknya 30 menit sebelum tidur agar kualitas istirahat tetap optimal meski durasinya lebih singkat.
Di tengah potensi hujan lebat, masyarakat juga diimbau untuk selalu membawa perlengkapan hujan seperti payung atau jas hujan saat bepergian ke masjid. Dengan kesiapan fisik, pengaturan cairan yang tepat, serta kewaspadaan terhadap cuaca, ibadah Ramadhan diharapkan tetap berjalan khusyuk dan sehat meski di tengah kondisi cuaca ekstrem.


as a preferred source on Google




