Jakarta (beritajatim.id) – Pembicaraan tingkat tinggi antara Rusia dan Amerika Serikat mengenai rancangan rencana perdamaian untuk konflik Rusia–Ukraina berakhir tanpa kesepakatan pada Selasa malam waktu Moskow. Hasil ini menambah keraguan terhadap prospek penyelesaian diplomatik di tengah situasi pertempuran yang terus berlangsung.
Pertemuan yang berlangsung hampir lima jam di Kremlin mempertemukan Presiden Rusia Vladimir Putin dengan utusan Presiden Amerika Serikat Steve Witkoff dan penasihat Gedung Putih Jared Kushner. Hadir pula dalam pertemuan tersebut Penasihat Presiden Rusia Yuri Ushakov dan Kepala Russian Direct Investment Fund Kirill Dmitriev.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, yang sedang melakukan kunjungan ke Irlandia, menyebut bahwa Kyiv terus memantau dinamika dialog tersebut sambil menunggu langkah berikutnya dari Washington.
Pembahasan Teritorial Tidak Berujung pada Kesepakatan
Usai pertemuan, Yuri Ushakov menilai diskusi berlangsung konstruktif dan mencakup pembahasan isu teritorial. Ia mengungkapkan bahwa beberapa alternatif kerangka penyelesaian telah dibahas secara mendalam, tetapi belum ada kompromi yang dicapai. Beberapa usulan AS dinilai dapat diterima Moskow, sementara sebagian lainnya dianggap belum sesuai.
Kontak lanjutan disebut akan terus berlanjut di tingkat penasihat presiden, sementara kemungkinan pertemuan antara Putin dan Presiden AS Donald Trump masih bergantung pada perkembangan penyelesaian konflik.
Putin Tolak Revisi Eropa atas Rencana Perdamaian
Putin menilai perubahan yang diajukan sejumlah negara Eropa terhadap rancangan rencana perdamaian dari AS justru menghambat proses negosiasi. Ia menilai revisi tersebut membawa tuntutan yang dianggap tidak bisa diterima oleh Moskow dan dinilai berpotensi menyalahkan Rusia apabila proses damai gagal.
Dalam pernyataannya, Putin menegaskan bahwa Rusia tidak memiliki keinginan untuk berkonfrontasi dengan negara-negara Eropa, meskipun menyatakan kesiapan menghadapi skenario terburuk bila diperlukan.
Rancangan awal dari AS memiliki 28 poin, namun kemudian dikritik oleh Ukraina dan negara-negara Eropa karena dinilai terlalu menguntungkan Rusia. Setelah pertemuan di Jenewa pada 23 November, rancangan itu direvisi menjadi 19 poin, meski versi terbaru belum dipublikasikan.
Zelenskyy Tekankan Transparansi Proses Diplomatik
Di tengah pembicaraan internasional tersebut, Zelenskyy kembali menggarisbawahi pentingnya keterbukaan dalam setiap upaya diplomatik terkait masa depan Ukraina. Ia menekankan bahwa isu teritorial, aset Rusia yang dibekukan, serta jaminan keamanan bagi Ukraina merupakan topik paling sensitif dan terus dibahas oleh tim negosiasi.
Zelenskyy juga menilai tidak ada solusi sederhana dalam konflik ini, namun pihaknya siap mengambil keputusan penting demi kepentingan negara.
Pertempuran Berlanjut, Saling Klaim Kemenangan di Lapangan
Sementara negosiasi masih belum menunjukkan kemajuan, situasi di medan perang tetap memanas. Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim telah menguasai permukiman Zeleny Gai dan Dobropillya di wilayah Zaporizhzhia, serta menyerang sejumlah fasilitas energi, depo amunisi, dan lokasi penempatan pasukan Ukraina maupun kombatan asing.
Di sisi lain, Panglima Angkatan Bersenjata Ukraina Oleksandr Syrskyi mengatakan pasukannya berhasil menahan upaya infiltrasi kelompok sabotase Rusia serta mendorong balik pasukan Moskow dari Kupyansk dan sejumlah sektor lain. Ia menyatakan bahwa klaim kemajuan Rusia hanyalah upaya propaganda.
Pada 1 Desember, Rusia mengklaim telah menguasai kota Pokrovsk (Krasnoarmeysk) di Donetsk dan Vovchansk di Kharkiv. Kyiv membantah, menyebut bahwa pasukan Rusia hanya sempat memasuki sebagian wilayah Pokrovsk dalam kondisi berkabut untuk mengibarkan bendera sebelum mundur.
Putin kemudian mengundang jurnalis asing, termasuk dari Ukraina, untuk mengunjungi Pokrovsk dan Kupyansk guna melihat kondisi lapangan secara langsung.
Dengan perundingan yang belum menunjukkan hasil dan pertempuran yang terus berlangsung, prospek perdamaian tampak masih jauh dari kepastian. Konflik ini pun tetap berada dalam sorotan internasional seiring meningkatnya tekanan diplomatik terhadap kedua belah pihak. (ris)


as a preferred source on Google




