Surabaya (beritajatim.id) – Pemerintah Kota Surabaya menunjukkan dukungannya terhadap penguatan budaya literasi dengan berpartisipasi dalam peluncuran dan bedah buku perdana Kepala Perpustakaan Nasional RI, E. Aminudin Aziz. Acara yang berlangsung di Four Points by Sheraton pada Jumat (5/12/2025) tersebut mengangkat buku berjudul Visi Anak Pasar: Catatan Kecil Kehidupan E. Aminudin Aziz, sekaligus menyoroti perjalanan hidup dan kiprah sang penulis di tingkat nasional maupun global.
Sekretaris Daerah Kota Surabaya, Lilik Arijanto, yang hadir mewakili Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, menyampaikan bahwa keikutsertaan Pemkot Surabaya dalam kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membuka wawasan generasi muda mengenai pentingnya literasi. Ia menilai posisi E. Aminudin Aziz sebagai salah satu tokoh berpengaruh dalam bidang kecerdasan buatan turut menjadi inspirasi dalam menggerakkan semangat membaca dan menulis.
Lilik juga menyoroti kontribusi Kepala Perpusnas RI dalam pengembangan kebahasaan nasional, termasuk peran strategisnya dalam proses lahirnya Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 yang menargetkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional untuk visi Indonesia Emas 2045. Komitmen tersebut semakin ditegaskan melalui keberhasilan diplomasi bahasa yang membuat Bahasa Indonesia digunakan secara resmi dalam Sidang Umum UNESCO pada 20 November 2023.
Menurutnya, tantangan literasi kini semakin besar seiring masifnya penggunaan gawai dan media sosial. Arus informasi cepat dan ringkas dinilai memengaruhi pola berpikir instan, sehingga minat membaca mendalam pada generasi muda mengalami penurunan signifikan.
Buku Visi Anak Pasar dipandang sebagai contoh inspiratif yang relevan untuk menghidupkan kembali minat literasi. Kisah perjalanan penulis yang berasal dari lingkungan pasar sederhana menjadi gambaran bahwa ketekunan dapat membentuk karakter dan visi hidup yang kuat. Pemkot Surabaya berharap kegiatan bedah buku dapat memperkaya pemahaman masyarakat serta mendorong lahirnya gerakan literasi yang lebih kuat di daerah.
Di sesi berbeda, E. Aminudin Aziz menjelaskan bahwa buku tersebut lahir dari obrolan sederhana bersama keluarganya, yang kemudian ia susun sebagai sebuah warisan nilai. Ia menggambarkan latar belakangnya sebagai anak dari keluarga berpenghasilan rendah yang menempuh pendidikan mulai SD hingga S3 melalui dukungan beasiswa negara sesuai amanat Pasal 34 UUD 1945.
Kisah perjuangannya berlanjut hingga masa studi doktoral di Australia, ketika ia harus berjualan bakso dan menyewakan kamar kontrakan untuk mencukupi kebutuhan hidup. Pengalaman hidup tersebut ia rangkum sebagai pelajaran tentang ketekunan dan prinsip integritas, termasuk pilihan untuk tidak memberikan fasilitas jabatan kepada anak-anaknya agar mereka mampu menempuh perjuangan hidup secara mandiri.
Buku setebal 422 halaman yang ditulis dalam waktu satu tahun itu memuat tiga pesan utama. Pertama, dorongan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu agar tidak merasa minder dan terus mengejar cita-cita melalui jalur yang benar. Kedua, pentingnya menghargai peran keluarga, guru, dan orang tua sebagai penopang keberhasilan. Ketiga, ajakan kepada para orang tua dan pemimpin untuk tidak memandang negatif pemikiran kritis anak, karena sikap tersebut dapat memunculkan inspirasi serta membuka ruang dialog.
Pesan mengenai semangat perjuangan, optimisme, dan integritas menjadi inti refleksi yang ingin disampaikan Aminudin Aziz kepada masyarakat, khususnya generasi muda yang tengah menghadapi tantangan literasi di era digital. (ted)


as a preferred source on Google




