Teheran (beritajatim.id) – Pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran di Muskat, Oman, memberikan sinyal awal yang positif, meski jalan menuju kesepakatan yang solid masih panjang dan penuh tantangan. Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, menyatakan pertemuan pada Jumat (2/2) itu sebagai awal yang baik dan memperkirakan putaran baru pembicaraan akan segera digelar.
Namun, Araghchi menegaskan bahwa upaya membangun kembali kepercayaan membutuhkan waktu. Dalam wawancara dengan Al Jazeera yang disiarkan Sabtu (3/2), ia juga menyampaikan sejumlah garis merah yang tak bisa ditawar oleh Tehran.
Garis Merah Iran: Uranium dan Rudal
Araghchi secara tegas menyatakan Iran tidak akan melepaskan program pengayaan uraniumnya, yang disebutnya sebagai hak yang tidak dapat dicabut. Ia menambahkan bahwa negaranya terbuka untuk kesepakatan yang dapat meyakinkan komunitas internasional, selama aktivitas pengayaan tersebut tetap dipertahankan.
Selain isu nuklir, pejabat tinggi Iran itu juga menolak tuntutan AS untuk membatasi program rudalnya. Araghchi menyebut rudal sebagai masalah pertahanan yang “tidak pernah bisa dinegosiasikan”. Ia juga menegaskan bahwa perselisihan nuklir hanya dapat diselesaikan melalui jalur negosiasi, dan menolak opsi untuk memindahkan cadangan uranium Iran ke luar negeri.
Respons AS dan Dinamika Pertemuan
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menilai pembicaraan di Oman berjalan “sangat baik”. Dalam pernyataan kepada awak media, Trump mengatakan Iran “terlihat sangat ingin membuat kesepakatan” dan menyebut pertemuan lanjutan direncanakan pada awal pekan depan.

Menariknya, Araghchi mengonfirmasi bahwa meskipun pembicaraan berlangsung tidak langsung (indirect talks), terjadi kesempatan bagi anggota delegasi Iran dan AS untuk saling berjabat tangan. Hal ini ia sampaikan untuk membantah laporan dari pihak AS yang menyebut terjadi percakapan langsung singkat di sela-sela pertemuan.
Sementara itu, nada lebih keras datang dari Kepala Staf Militer Iran, Abdolrahim Mousavi. Ia memperingatkan bahwa setiap upaya untuk memaksakan perang terhadap Iran akan menyebarkan konflik ke seluruh Timur Tengah. Meski menegaskan Iran tidak akan memulai perang, Mousavi menyatakan negaranya akan membalas “secara tegas” untuk mempertahankan kedaulatannya.
Reaksi Regional dan Langkah Diplomasi
Pembicaraan ini mendapatkan respons hati-hati dari beberapa negara di kawasan. Mesir dan Uni Emirat Arab menyambut baik dialog tersebut sebagai langkah konstruktif menuju de-eskalasi.
Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Faisal bin Farhan Al Saud, juga menyambut positif pembicaraan itu. Ia menyatakan harapan agar diplomasi dapat membuka jalan untuk meredakan ketegangan dan meningkatkan stabilitas regional.
Tak lama setelah pertemuan di Oman, Araghchi melanjutkan perjalanan diplomatiknya ke Doha, Qatar. Di sana, ia bertemu dengan Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar, Syeikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al-Thani, yang menyuarakan harapan agar negosiasi dapat menghasilkan kesepakatan komprehensif yang memperkuat stabilitas kawasan.
Israel, sebagai pihak yang paling berkepentingan, mengawasi dengan ketat perkembangan pembicaraan ini. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dijadwalkan berkunjung ke Washington pada 11 Februari untuk membahas hal ini dengan Donald Trump. Pemerintah Israel menegaskan bahwa setiap kesepakatan harus mencakup pembatasan program rudal balistik Iran dan penghentian dukungannya terhadap kelompok militan di kawasan.
Pertemuan di Muskat ini menandai upaya diplomasi baru di tengah ketegangan regional yang meningkat dalam beberapa pekan terakhir, ditandai dengan peningkatan kehadiran militer AS dan persiapan militer Iran. Hasil pembicaraan lanjutan akan sangat menentukan apakah kawasan ini akan bergerak menuju peredaan ketegangan atau justru kembali ke ambang konflik. (ian)


as a preferred source on Google



