Sleman (beritajatim.id) – Di lereng sejuk kawasan Kaliurang, berdiri megah sebuah bangunan bersejarah bernama Pesanggrahan Ngeksiganda. Bangunan ini bukan sekadar tempat peristirahatan keluarga Keraton Yogyakarta, tetapi juga saksi penting perjalanan diplomasi Republik Indonesia pada masa awal kemerdekaan.
Warisan Bersejarah Kasultanan Yogyakarta
Pesanggrahan Ngeksiganda, atau dikenal juga dengan nama Pesanggrahan Ngeksigondo, terletak di Kalurahan Hargobinangun, Kapanewon Pakem, Kabupaten Sleman. Bangunan berarsitektur lokal ini memiliki luas 1.104 meter persegi di atas lahan seluas 17.888 meter persegi.
Dibangun pada awal abad ke-20 oleh seorang warga Belanda sebagai rumah peristirahatan, tempat ini kemudian dibeli oleh Sri Sultan Hamengku Buwana VIII sekitar tahun 1927. Setelah dimodifikasi, bangunan tersebut dijadikan pesanggrahan atau tempat beristirahat bagi keluarga Sultan. Modifikasi meliputi penambahan pendapa, ruang gamelan, pemandian (pasiraman), dan pagar seketheng.
Pada tahun 2011, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia menetapkan Pesanggrahan Ngeksiganda sebagai cagar budaya Daerah Istimewa Yogyakarta berdasarkan SK Menteri Nomor PM.89/PW.007/MKP/2011.
Makna Filosofis di Balik Nama Ngeksiganda
Nama Ngeksiganda memiliki makna filosofis yang dalam. Berdasarkan naskah Serat Wedhatama, kata ini berasal dari bahasa Sanskerta — ngeksi berarti “mata” dan ganda berarti “harum”. Jika digabung, artinya menjadi mata arum, yang kemudian dimaknai sebagai bentuk kiasan untuk “Mataram”. Nama ini mencerminkan keharuman dan kejayaan kebudayaan Mataram yang dijaga oleh Kasultanan Yogyakarta.
Peran Penting dalam Sejarah Diplomasi Indonesia
Pesanggrahan Ngeksiganda memegang peranan penting dalam sejarah Indonesia modern. Pada masa Agresi Militer Belanda I tahun 1947, Sri Sultan Hamengku Buwana IX meminjamkan pesanggrahan ini kepada pemerintah Republik Indonesia untuk menggelar perundingan Komisi Tiga Negara (KTN).
KTN dibentuk oleh Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai mediator antara Indonesia dan Belanda. Dalam perundingan yang digelar pada 26 Agustus 1947, hadir tiga delegasi:
- Richard Kirby dari Australia mewakili Indonesia,
- Paul van Zeeland dari Belgia mewakili Belanda,
- Dr. Frank Graham dari Amerika Serikat sebagai pihak penengah.
Pertemuan di Ngeksiganda menjadi dasar bagi lahirnya Perjanjian Renville yang ditandatangani pada 17 Januari 1948 di atas kapal USS Renville. Karena perannya tersebut, Ngeksiganda dianggap sebagai saksi bisu diplomasi internasional yang memperjuangkan kedaulatan Indonesia.
Tradisi dan Nilai Budaya
Selain memiliki nilai sejarah tinggi, Pesanggrahan Ngeksiganda juga menyimpan tradisi budaya yang masih dijaga. Setiap bulan Ruwah (Syaban), digelar uyon-uyon, yaitu pertunjukan gamelan tradisional Jawa yang berlangsung dua sesi — pagi dan malam hari. Pada malam harinya, acara dilanjutkan dengan pembacaan tembang, mencerminkan perpaduan spiritual dan seni khas Jawa.
Arsitektur dan Bagian-Bagian Bangunan
Bangunan yang menghadap ke barat daya ini terdiri atas empat bagian utama, yaitu Gedung Induk, Gedung Gamelan (Gongso), Gedung Diesel, dan Gedung Telepon.
Gedung Induk menjadi pusat kegiatan dengan ruang tamu, kamar tidur, dapur, dan ruang makan. Struktur bangunan masih mempertahankan kayu jati dan tegel klasik sebagai elemen utama.
Gedung Gamelan (Gongso) menjadi lokasi utama pertemuan KTN tahun 1947. Dahulu, gedung ini juga digunakan untuk pementasan gamelan sebagai bentuk penyambutan tamu kehormatan.
Gedung Diesel berfungsi sebagai ruang instalasi listrik cadangan, sementara Gedung Telepon digunakan untuk menerima sambungan telepon dari operator pusat — hal yang langka pada masanya.
Arsitektur Pesanggrahan Ngeksiganda memperlihatkan perpaduan antara gaya kolonial dan unsur tradisional Jawa yang harmonis. Hampir seluruh konstruksinya menggunakan kayu jati, atap seng, dan plafon logam, memperlihatkan keaslian material yang masih terjaga hingga kini.
Warisan Hidup Sejarah dan Budaya
Kini, Pesanggrahan Ngeksiganda menjadi salah satu destinasi wisata sejarah dan budaya di kawasan Kaliurang. Keberadaannya tidak hanya menjadi pengingat perjuangan diplomasi bangsa, tetapi juga simbol keharmonisan antara warisan budaya Jawa dan semangat nasionalisme Indonesia. (aga)


as a preferred source on Google




