Pekanbaru (beritajatim.id) – PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) kembali mencatatkan capaian penting dalam industri hulu migas nasional. Pada Juli 2025, PHR berhasil melakukan Put On Production (POP) atau mengalirkan minyak dari 70 sumur baru di wilayah kerja Zona Rokan. Capaian tersebut menjadi rekor tertinggi sejak alih kelola dari Chevron ke Pertamina pada 2021.
Keberhasilan ini tidak hanya menjadi pencapaian internal PHR, tetapi juga menjadi tonggak penting bagi industri perminyakan Indonesia. Dengan tambahan kontribusi sekitar 3.400 barel minyak per hari (BOPD), langkah ini semakin memperkuat peran PHR dalam mendukung ketahanan energi nasional.
Adapun sumur-sumur yang berhasil masuk dalam daftar POP berasal dari berbagai lapangan strategis di Riau, seperti Balam South, Bangko, Duri, Libo SE, Menggala North, Menggala South, Minas, Obor, Pelita, Pematang, Petani, Petapahan, Pungut, Sintong, Sintong SE, hingga Ubi.
Komitmen Tingkatkan Produksi
General Manager Zona Rokan, Andre Widjanarko, menegaskan pencapaian ini merupakan hasil kerja keras seluruh tim PHR yang terus berinovasi dalam menghadapi tantangan produksi migas.
“Hal ini tentunya menjadi motivasi bagi kami untuk terus meningkatkan kinerja dan kontribusi dalam menjaga ketahanan energi nasional. Melalui berbagai inisiatif dan inovasi, kami berkomitmen mendorong produksi di Zona Rokan,” ujarnya.
Andre menambahkan, kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan menjadi kunci kelancaran operasi. Sinergi itu memungkinkan PHR menerapkan teknologi terkini, strategi pengeboran yang lebih efisien, hingga program revitalisasi fasilitas produksi eksisting.
Strategi dan Teknologi PHR
PHR saat ini mengandalkan sejumlah strategi dalam mempertahankan kinerja produksi, mulai dari revitalisasi fasilitas produksi, kerja ulang sumur, hingga stimulasi sumur. Selain itu, teknologi seperti Waterflood, Steamflood, dan Chemical Enhanced Oil Recovery (EOR) juga diterapkan untuk memaksimalkan potensi produksi di lapangan Rokan.
Hasilnya terlihat nyata, dengan 1.523 sumur baru berhasil diproduksikan sejak alih kelola. Tahun ini, PHR menargetkan pengeboran 560 sumur baru, yang diharapkan mampu mendongkrak produksi nasional secara signifikan.
“Kami selalu mengedepankan budaya kerja HSSE Golden Rules, yakni Patuh, Intervensi, dan Peduli. Dengan prinsip itu, kami berharap produksi tetap optimal namun tetap mengutamakan keselamatan kerja,” tegas Andre.
Eksplorasi Migas Konvensional dan Non-Konvensional
Selain memaksimalkan produksi dari sumur yang ada, PHR juga gencar melakukan eksplorasi minyak baru. Sejauh ini, perusahaan telah menyelesaikan enam sumur eksplorasi konvensional serta dua sumur eksplorasi minyak non-konvensional (MNK).
Pada 2025, PHR menargetkan penyelesaian satu sumur eksplorasi tambahan, dengan harapan dapat menambah cadangan migas nasional. Khusus untuk MNK, PHR telah mencatatkan penemuan penting melalui pemboran di Gulamo dan Kelok, yang kini berstatus discovery.
Keberhasilan ini membuka peluang pengembangan MNK lebih luas di masa mendatang, sekaligus menjadi bukti bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam pengelolaan energi non-konvensional.
Kontribusi untuk Ketahanan Energi Nasional
Dengan pencapaian rekor POP 70 sumur baru dalam sebulan, PHR semakin mempertegas posisinya sebagai salah satu kontributor utama produksi minyak nasional. Upaya ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan impor energi dan memperkuat ketahanan energi Indonesia di tengah dinamika global.
“Semoga capaian ini dapat terus dipertahankan dan ditingkatkan sehingga memberikan manfaat nyata bagi bangsa dan negara,” tutup Andre. (ren)


as a preferred source on Google




