Washington (beritajatim.id) – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan pidato kenegaraan yang berlangsung lebih dari satu jam empat puluh menit pada Selasa malam waktu setempat. Durasi tersebut menjadikannya sebagai pidato State of the Union terpanjang dalam setidaknya enam dekade terakhir.
Dalam pidatonya di hadapan Kongres, Trump menekankan sejumlah capaian domestik, mulai dari kondisi ekonomi, pengendalian biaya hidup, hingga kebijakan imigrasi. Ia juga membahas isu-isu global, termasuk pendekatan pemerintahannya terhadap dinamika di Amerika Selatan, Timur Tengah, serta konflik Rusia-Ukraina.
Rating Turun di Tengah Tahun Politik
Pidato tersebut berlangsung di tengah tren penurunan tingkat kepuasan publik terhadap kinerjanya. Berdasarkan jajak pendapat terbaru yang dilakukan oleh SSRS, tingkat persetujuan terhadap Trump tercatat 36 persen. Angka ini turun signifikan dibandingkan 48 persen saat ia berpidato di Kongres setahun sebelumnya.
Situasi politik menjelang pemilu paruh waktu November turut mewarnai suasana pidato. Sejumlah anggota parlemen dari Partai Demokrat memilih tidak menghadiri sidang dan mengikuti agenda tandingan sebagai bentuk protes politik.
Tarif Jadi Andalan, Tuai Perdebatan
Salah satu fokus utama pidato adalah kebijakan tarif impor. Trump menyatakan tarif menjadi instrumen penting dalam menyelesaikan sengketa perdagangan dan mendorong kebangkitan ekonomi Amerika Serikat. Ia bahkan mengisyaratkan potensi tarif sebagai alternatif pengganti pajak penghasilan domestik.
Namun, sejumlah analis mempertanyakan efektivitas kebijakan tersebut. Koresponden CGTN di Washington, Nick Harper, menilai sebagian besar beban tarif selama setahun terakhir justru ditanggung perusahaan dan konsumen Amerika. Ia menyebut sekitar 95 persen biaya tambahan akibat tarif dialihkan ke pasar domestik.
Jajak pendapat yang dilakukan oleh ABC/Washington Post/Ipsos menunjukkan hanya 34 persen warga Amerika mendukung kebijakan tarif Trump, sementara 64 persen menyatakan penolakan. Perbedaan persepsi ini mencerminkan tantangan politik yang dihadapi Gedung Putih dalam mempertahankan narasi keberhasilan ekonomi.
Iran dan Opsi Militer
Selain isu ekonomi, Trump juga menyinggung perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Ia menyatakan bahwa opsi serangan militer tetap terbuka apabila kesepakatan tidak tercapai.
Harper menilai pidato tersebut lebih diarahkan kepada audiens domestik menjelang pemilu paruh waktu, yang berpotensi mengubah komposisi kekuasaan di DPR dan Senat. Ia menambahkan bahwa pidato itu belum menjelaskan secara rinci alasan strategis maupun manfaat konkret tindakan militer bagi rakyat Amerika atau stabilitas kawasan Timur Tengah. (ian)


as a preferred source on Google



