Surabaya (beritajatim.id) – Memulai kehidupan sebagai mahasiswa perantau selalu diiringi dengan berbagai keputusan penting. Salah satunya adalah menentukan tempat tinggal selama menempuh pendidikan. Sebagian mahasiswa memilih tinggal bersama keluarga atau kakak yang sudah menetap di kota tujuan demi menghemat biaya. Namun, tidak sedikit pula yang lebih memilih tinggal di rumah kos untuk merasakan kehidupan yang lebih mandiri.
Kedua pilihan tersebut sama-sama memiliki kelebihan dan tantangan. Tinggal bersama keluarga dapat memberikan rasa aman sekaligus mengurangi pengeluaran bulanan. Sebaliknya, hidup di kos menawarkan kebebasan sekaligus menjadi sarana belajar bertanggung jawab terhadap diri sendiri.
Pilihan ini pun menjadi pertimbangan banyak mahasiswa yang merantau ke kota-kota besar, termasuk Surabaya.
Pengalaman tersebut dirasakan Toni (18), salah satu mahasiswa baru ptn di Surabaya yang berasal dari Kabupaten Nganjuk. Meski memiliki kakak yang tinggal di Surabaya, ia memutuskan menyewa kamar kos sejak awal kuliah.
Menurut Toni, keputusan tersebut bukan karena tidak nyaman tinggal bersama keluarga, melainkan karena ingin belajar mengelola kehidupan sendiri. Ia menilai tinggal di kos memberinya kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih mandiri sejak memasuki dunia perkuliahan.
“Tinggal bersama kakak memang lebih hemat, tetapi saya ingin belajar mandiri sejak awal kuliah. Dengan ngekos, saya jadi lebih bertanggung jawab mengatur waktu, keuangan, dan kebutuhan sehari-hari,” ujar Toni.
Ia menuturkan, tinggal di kos membuatnya lebih leluasa mengatur aktivitas sehari-hari, mulai dari jadwal kuliah, organisasi, hingga waktu beristirahat. Selain itu, lokasi kos yang dekat dengan kampus membuat mobilitasnya jauh lebih efisien dibandingkan jika harus tinggal di rumah kakaknya.
Selama hidup mandiri, Toni mengaku belajar banyak hal yang sebelumnya tidak terlalu ia rasakan saat tinggal bersama orang tua. Mulai dari mengatur anggaran bulanan, menentukan kebutuhan prioritas, mengurus pekerjaan rumah, hingga menjaga kedisiplinan dalam menjalani rutinitas sehari-hari.
Meski begitu, ia menyadari bahwa tinggal sendiri juga memiliki konsekuensi. Seluruh kebutuhan harus dipenuhi secara mandiri, mulai dari menyiapkan makanan, mencuci pakaian, hingga memastikan pengeluaran tetap sesuai kemampuan finansial.
“Kalau tinggal di kos, semua keputusan ada di tangan sendiri. Awalnya memang tidak mudah, tetapi justru dari situ saya belajar mengatur hidup dan menjadi lebih dewasa,” katanya.
Di sisi lain, Toni mengakui tinggal bersama kakak sebenarnya memiliki banyak keuntungan, terutama bagi mahasiswa baru yang masih beradaptasi dengan lingkungan baru. Selain biaya hidup yang lebih ringan, mahasiswa juga memperoleh dukungan emosional dari keluarga ketika menghadapi tekanan selama menjalani perkuliahan. Kebutuhan sehari-hari pun biasanya lebih terjamin dibandingkan tinggal sendiri.
Namun, menurutnya, tinggal bersama keluarga tetap membutuhkan kemampuan beradaptasi terhadap aturan rumah yang berlaku. Karena itu, ia tetap rutin mengunjungi kakaknya meski memilih tinggal terpisah agar hubungan keluarga tetap terjaga.
Fenomena memilih tinggal di kos juga menunjukkan bahwa banyak mahasiswa kini tidak hanya mempertimbangkan faktor ekonomi, tetapi juga pengalaman hidup yang ingin mereka bangun selama masa kuliah. Kebebasan yang diperoleh saat ngekos harus diimbangi dengan tanggung jawab mengatur waktu, keuangan, hingga menyelesaikan berbagai persoalan secara mandiri.
Menurut Toni, setiap mahasiswa memiliki kondisi yang berbeda sehingga tidak ada pilihan yang sepenuhnya benar atau salah antara tinggal bersama keluarga maupun menyewa kos.
“Menurut saya, tidak ada pilihan yang paling benar antara tinggal bersama keluarga atau ngekos. Yang penting adalah memilih tempat tinggal yang sesuai dengan kondisi, lalu tetap fokus menyelesaikan kuliah dan mengembangkan diri,” pungkasnya.
Pada akhirnya, tujuan utama merantau bukan sekadar mencari tempat tinggal, melainkan membangun proses pendewasaan sekaligus menyelesaikan pendidikan dengan sebaik-baiknya. Baik tinggal bersama keluarga maupun di rumah kos, keduanya dapat menjadi pilihan terbaik selama mampu mendukung perkembangan akademik, kesehatan mental, serta kemandirian mahasiswa. (aga)


as a preferred source on Google




