Jakarta (beritajatim.id) – Ketegangan kembali memuncak di Jalur Gaza setelah pesawat Israel melancarkan serangan udara pada Selasa (26/10). Militer Israel menuduh kelompok militan Hamas melanggar kesepakatan gencatan senjata yang rapuh, yang sebelumnya dibrokering oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Serangan ini menjadi ujian terbaru bagi perdamaian singkat yang telah berjalan. Otoritas kesehatan setempat melaporkan setidaknya 26 orang tewas dalam serangan tersebut. Rincian korban jiwa meliputi lima orang di sebuah rumah yang hancur di kamp pengungsi Bureij, Gaza tengah, empat orang di sebuah gedung di lingkungan Sabra, Kota Gaza, dan lima orang di dalam sebuah mobil di Khan Younis.
Menurut kesaksian warga, serangan oleh pesawat Israel berlanjut hingga dini hari Rabu di berbagai lokasi di Jalur Gaza.
Sebelum serangan dilancarkan, kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengeluarkan pernyataan yang mengonfirmasi bahwa Netanyahu telah memerintahkan “serangan-serangan kuat” segera. Militer Israel sendiri tidak segera memberikan komentar resmi mengenai detail operasi tersebut.
Seorang pejabat militer Israel, yang tidak disebutkan namanya, menyatakan bahwa Hamas telah melanggar gencatan senjata dengan melancarkan serangan terhadap pasukan Israel di area kantong Gaza yang berada di bawah kendali Israel. “Ini adalah lagi pelanggaran nyata terhadap gencatan senjata,” ujar pejabat tersebut, seperti dikutip media.
Klaim dan Bantahan
Klaim Israel itu langsung dibantah oleh Hamas. Kelompok tersebut menyangkal bertanggung jawab atas serangan terhadap pasukan Israel yang disebut terjadi di kota Rafah, Gaza selatan. Dalam sebuah pernyataan, Hamas menegaskan bahwa mereka tetap berkomitmen pada perjanjian gencatan senjata di Gaza.
Gencatan senjata yang didukung AS itu mulai efektif pada 10 Oktober, mengakhiri dua tahun konflik yang dipicu oleh serangan mematikan yang dipimpin Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023. Sejak gencatan senjata diberlakukan, kedua pihak kerap saling menuduh melakukan pelanggaran.
Pernyataan AS dan Laporan Media
Wakil Presiden AS JD Vance, yang merupakan bagian dari rombongan pejabat administrasi Trump yang mengunjungi Israel pekan lalu, mengomentari insiden ini. Meski mengakui adanya peningkatan ketegangan, Vance menyatakan bahwa “gencatan senjata tetap bertahan.”
“Itu tidak berarti tidak akan ada baku tembak kecil di sana-sini,” katanya kepada wartawan di Capitol Hill. “Kami tahu bahwa Hamas atau pihak lain di Gaza menyerang seorang prajurit (Israel). Kami perkirakan Israel akan merespons, tapi saya rasa perdamaian yang diupayakan presiden akan bertahan meski dengan insiden ini.”
Lebih awal pada Selasa, media Israel melaporkan adanya baku tembak antara pasukan Israel dan pejuang Hamas di Rafah. Militer Israel tidak menanggapi permintaan komentar terkait laporan tersebut.
Serangan udara pada Selasa ini juga terjadi setelah apa yang disebut Israel sebagai “serangan terarah” pada Sabtu terhadap seorang individu di Gaza tengah yang dituduh sedang merencanakan serangan terhadap pasukan Israel.
Situasi di Gaza kembali mencekam, mengingatkan dunia pada betapa rapuhnya perdamaian di kawasan itu sambil menunggu perkembangan lebih lanjut dari kedua pihak. (hdl)


as a preferred source on Google



