Kutai Kartanegara (beritajatim.id) — PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) menorehkan pencapaian penting dengan memperingati 50 tahun operasional Lapangan Handil Central Processing Area (HCA) di Kecamatan Muara Jawa, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Momentum ini menandai keberhasilan pengelolaan aset migas strategis yang telah memberi kontribusi nyata bagi ketahanan energi nasional.
Lapangan HCA mulai berproduksi sejak tahun 1975, dengan pengeboran pertama dilakukan di Sumur H-1 pada 15 Februari 1974. Kini, setelah setengah abad, lapangan ini tetap produktif di tengah tantangan teknis, fluktuasi harga minyak dan gas, hingga tekanan lingkungan dan sosial yang dinamis.
“Bagi industri migas, usia 50 tahun bukanlah usia senja. Sebaliknya, ini adalah masa emas yang membuktikan ketahanan operasi, inovasi teknologi, dan sinergi dengan para pemangku kepentingan,” ujar Setyo Sapto Edi, General Manager PHM, Senin (15/9).
Inovasi dan Teknologi Kunci Keberlanjutan
Menurut Setyo, keberlangsungan operasi Lapangan HCA merupakan hasil dari penerapan teknologi modern, komitmen terhadap praktik operasi berkelanjutan, serta terbangunnya hubungan harmonis dengan pemerintah, masyarakat, dan mitra kerja.
“Inovasi teknologi sangat krusial dalam mempertahankan tingkat recovery migas. HCA adalah bukti bahwa pengelolaan efisien bisa memperpanjang umur lapangan dan memberikan manfaat jangka panjang bagi negara,” jelasnya.
Digitalisasi operasi dan pengelolaan adaptif juga disebut sebagai faktor penting yang memungkinkan HCA tetap menjadi aset vital bagi WK Mahakam, wilayah kerja yang dikelola oleh PHM sejak 2018.
Tantangan dan Ketahanan Operasional
Selama perjalanannya, Lapangan HCA tidak lepas dari tantangan seperti menyusutnya cadangan, naik turunnya harga energi global, hingga tekanan untuk menjaga kelestarian lingkungan. Namun, strategi pengelolaan yang adaptif, kolaborasi lintas sektor, dan pemanfaatan teknologi terkini memungkinkan lapangan ini terus memberikan kontribusi signifikan.
Setyo juga menekankan pentingnya aspek keselamatan kerja (HSSE) sebagai nilai utama perusahaan.
“Kinerja keselamatan yang unggul akan mendukung keberhasilan dan keberlanjutan bisnis migas,” tegasnya.
Peran Masyarakat dan Pemerintah Lokal
Tak kalah penting, sinergi dengan masyarakat lokal dan pemerintah daerah menjadi pilar utama keberhasilan HCA. Iklim sosial yang kondusif membuat perusahaan dapat beroperasi dengan lancar sekaligus menciptakan dampak ekonomi dan sosial bagi lingkungan sekitar.
“Kami percaya bahwa kolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan—termasuk masyarakat—akan memperkuat keberlanjutan produksi migas demi menjaga pasokan energi nasional,” tutup Setyo.
Perayaan 50 tahun Lapangan HCA bukan sekadar seremoni, melainkan refleksi atas komitmen jangka panjang PHM dalam menjaga produktivitas, keselamatan, dan keberlanjutan operasi migas di Indonesia. Di tengah tantangan global energi, keberhasilan ini menjadi contoh best practice dalam pengelolaan lapangan migas yang telah matang namun tetap berkontribusi signifikan bagi masa depan energi bangsa. (ren)


as a preferred source on Google




