Surabaya (beritajatim.id) – Pernahkah kamu membayangkan hidup tanpa harus terjebak dalam rutinitas kerja 9-to-5? Hidup dengan lebih banyak waktu luang, tanpa tekanan untuk terus produktif demi mengejar kesuksesan versi masyarakat? Jika iya, kamu mungkin sudah familiar dengan konsep soft life, gaya hidup yang kini semakin populer di kalangan anak muda, terutama Gen Z.
Di media sosial, khususnya TikTok, istilah soft life semakin sering muncul. Banyak anak muda yang menolak budaya kerja keras tanpa henti atau hustle culture dan mulai memilih hidup yang lebih santai, seimbang, serta menempatkan kesehatan mental sebagai prioritas utama. Fenomena serupa juga tercermin dalam film dokumenter Terpejam untuk Melihat, yang menyoroti individu yang meninggalkan kehidupan perkotaan untuk mencari kedamaian di pedalaman.
Namun, sebenarnya apa itu soft life? Secara sederhana, soft life merujuk pada gaya hidup yang menekankan kenyamanan, relaksasi, dan menghindari tekanan yang tidak perlu. Konsep ini kerap dianggap sebagai kemewahan, tetapi juga dapat diartikan sebagai cara hidup sederhana yang bebas dari stres berlebihan. Berbeda dengan slow living yang menekankan pada memperlambat ritme kehidupan, soft life lebih fokus pada kenyamanan dan keseimbangan antara pekerjaan serta kehidupan pribadi.
Fenomena pergeseran gaya hidup ini tidak lepas dari kejenuhan generasi milenial dan Gen Z terhadap budaya kerja keras yang selama ini diagungkan. Data survei KeyBank menunjukkan mayoritas orang kini mendefinisikan kesuksesan berdasarkan kebahagiaan, kepuasan, dan keseimbangan hidup, bukan semata-mata kekayaan materi. Sebanyak 72 persen responden lebih memilih soft life, sementara 54 persen lainnya menilai budaya hustle justru berisiko menimbulkan kelelahan mental atau burnout.
Di Indonesia, tren ini juga semakin terasa. Banyak anak muda yang mulai menetapkan batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, menjaga kesehatan mental, hingga menolak standar sosial yang menuntut mereka untuk selalu sibuk. Meski ada anggapan bahwa soft life hanya bisa dijalani oleh mereka yang memiliki privilese ekonomi, pada praktiknya prinsip ini tetap bisa diterapkan dengan cara sederhana, seperti mengurangi jam lembur, menjaga kualitas istirahat, atau memilih lingkungan kerja yang lebih sehat.
Gaya hidup soft life diyakini membawa dampak positif terhadap kesejahteraan mental maupun fisik. Merujuk Forbes, soft life membantu seseorang lebih sadar dalam mengatur energi dan waktu, serta membuat keputusan yang lebih sesuai dengan nilai pribadinya. Dampak utamanya adalah berkurangnya stres, meningkatnya kualitas hidup, hingga hubungan sosial yang lebih sehat karena tidak lagi terjebak dalam tuntutan untuk selalu produktif.
Kini, muncul pertanyaan apakah soft life dapat dianggap sebagai revolusi sosial atau hanya sekadar tren bagi kalangan tertentu. Terlepas dari pro dan kontra, semakin banyak anak muda menyadari bahwa hidup tidak selalu tentang bekerja keras tanpa henti. Bagi Gen Z, kesuksesan kini lebih bermakna ketika bisa menikmati hidup dengan tenang, bahagia, dan seimbang. (aga)


as a preferred source on Google




