Surabaya (beritajatim.id) – Ramadan 1447 Hijriah telah tiba. Umat Islam kini tengah menjalani hari-hari pertama di bulan suci yang penuh berkah. Namun, di tengah euforia sahur dan berbuka, muncul satu pertanyaan mendasar yang sering terlewatkan: “Sudahkah Anda menyucikan diri dengan mandi wajib atau mandi sunnah sebelum memulai puasa?”
Membersihkan diri sebelum memasuki bulan Ramadan bukan sekadar tradisi padusan semata. Dalam kacamata fikih, kebersihan fisik dan rohani memegang peranan vital untuk menunjang kekhusyukan ibadah.
Antara Mandi Wajib dan Mandi Sunnah
Penting untuk dipahami bahwa ada dua jenis mandi yang berkaitan dengan puasa. Pertama adalah Mandi Wajib (Mandi Junub), yang hukumnya fardu bagi mereka yang berhadats besar (junub atau pasca-haid) agar bisa melaksanakan salat. Jika seseorang lupa mandi wajib hingga waktu Subuh, puasanya tetap sah, namun ia berdosa jika meninggalkan salat Subuh.
Kedua adalah Mandi Sunnah Awal Ramadan, yakni mandi yang dianjurkan (sunnah) dilakukan pada malam pertama bulan Ramadan untuk menyambut bulan mulia ini dalam keadaan suci dan segar.
1. Niat Mandi Sunnah Awal Ramadan
Mandi ini dianjurkan dilakukan saat memasuki malam pertama Ramadan.
Lafal Arab:
نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِدُخُولِ شَهْرِ رَمَضَانَ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى
Latin:
Nawaitu ghusla lidukhuli syahri romadhona sunnatan lillahi ta’ala.
Artinya:
“Aku berniat mandi sunnah memasuki bulan Ramadan karena Allah Ta’ala.”
2. Niat Mandi Wajib (Junub/Haid)
Ini adalah mandi untuk menghilangkan hadats besar agar sah melakukan salat.
Lafal Arab:
نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ الْأَكْبَرِ فَرْضًا لِلَّهِ تَعَالَى
Latin:
Nawaitul ghusla liraf’il hadatsil akbari fardhan lillaahi ta’ala.
Artinya:
“Aku berniat mandi untuk menghilangkan hadats besar, fardu karena Allah Ta’ala.”


as a preferred source on Google




