Seoul (beritajatim.id) – Gelombang kejahatan kekerasan yang menargetkan warga negara Korea Selatan di Kamboja, termasuk kasus penculikan dan pembunuhan, telah menimbulkan kekhawatiran serius dan berdampak langsung pada menurunnya minat warga Korea untuk bepergian ke Asia Tenggara.
Hasil survei terbaru lembaga Realmeter yang dirilis pada Selasa (22/10/2025) menunjukkan bahwa 82,4 persen responden menyatakan persepsi mereka terhadap perjalanan ke kawasan Asia Tenggara menjadi negatif akibat meningkatnya kejahatan di Kamboja.
Survei tersebut melibatkan 504 responden berusia 18 tahun ke atas dari seluruh wilayah Korea Selatan. Tingkat kepercayaan survei mencapai 95 persen, dengan margin of error ±4,4 persen.
Kaum Muda Paling Terpengaruh
Pandangan negatif paling dominan muncul di kalangan usia muda 18–29 tahun, di mana 88,3 persen responden menyatakan persepsi mereka terhadap perjalanan ke Asia Tenggara berubah setelah maraknya insiden di Kamboja.
Temuan ini menunjukkan tingginya sensitivitas generasi muda terhadap isu keamanan global, terutama ketika berkaitan dengan perjalanan luar negeri dan peluang kerja di kawasan tersebut.
Tuntutan untuk Tindakan Pemerintah
Ketika ditanya mengenai langkah yang seharusnya diambil pemerintah Korea Selatan, 34,7 persen responden menilai pemerintah perlu memprioritaskan penyelidikan bersama dengan otoritas setempat.
Sementara itu, 27,5 persen mendukung protes diplomatik yang tegas dan pembentukan perjanjian pencegahan kejahatan, serta 25,2 persen mendorong tindakan lebih keras, termasuk kemungkinan langkah militer jika diperlukan.
Terkait penilaian terhadap respons awal Kementerian Luar Negeri Korea Selatan, 56 persen responden menilai belum memadai, sedangkan 35,9 persen memberikan penilaian positif terhadap langkah awal pemerintah.
Isu Bantuan Pembangunan dan Hubungan Bilateral
Survei Realmeter juga menyoroti pandangan publik terkait dugaan penyimpangan proyek bantuan pembangunan Korea di Kamboja.
Sebanyak 57 persen responden setuju bahwa proyek-proyek tersebut berpotensi disalahgunakan atau tidak transparan, sementara 35,9 persen menyatakan tidak sependapat.
Meski demikian, 52,9 persen warga Korea Selatan tetap mendukung kelanjutan kerja sama ekonomi dan pembangunan dengan Kamboja, dengan catatan pengawasan dan akuntabilitas diperketat.
Sebaliknya, 33 persen responden menginginkan penghentian sementara kerja sama bilateral hingga situasi keamanan dan integritas proyek membaik.
Alasan Rentannya Anak Muda Terjerat Penipuan Kerja Luar Negeri
Selain isu keamanan, survei juga menyinggung meningkatnya kerentanan anak muda Korea terhadap penipuan pekerjaan di luar negeri, termasuk di Asia Tenggara.
Sebanyak 38,4 persen responden menilai hal itu disebabkan kurangnya lapangan kerja berkualitas di dalam negeri, disusul perbedaan upah dan kondisi kerja (18,7 persen), kebijakan ketenagakerjaan yang belum efektif (15,7 persen), serta minimnya informasi dan edukasi publik (15 persen).
Konteks Survei
Survei dilakukan melalui sistem tanggapan otomatis via telepon dengan metode Random Digit Dialing (RDD) untuk nomor ponsel acak di seluruh Korea Selatan.
Tingkat respons mencapai 4,4 persen, dan hasilnya menggambarkan meningkatnya kekhawatiran publik terhadap keselamatan warga Korea di Asia Tenggara, khususnya di Kamboja.
Dengan meningkatnya kasus kejahatan terhadap warga asing di wilayah tersebut, hasil survei ini menegaskan perlunya koordinasi diplomatik yang lebih kuat antara Korea Selatan dan negara-negara Asia Tenggara, terutama dalam perlindungan warga negara dan pengawasan aktivitas kriminal lintas negara. (hdl)


as a preferred source on Google



