Yogyakarta (beritajatim.id) – Keputusan untuk resign dari tempat kerja bukan hal sepele. Selain menyangkut stabilitas finansial, keputusan ini juga berdampak pada perjalanan karier jangka panjang. Namun, bertahan di lingkungan kerja yang salah juga bisa menjadi bumerang bagi kesehatan mental dan perkembangan profesional.
Sebuah catatan menyebut, banyak karyawan menunda resign karena rasa takut dan ketidakpastian, padahal tanda-tandanya sudah terlihat jelas. Sementara itu, praktisi karier dan pendiri platform pengembangan profesional, Rene Suhardono, menilai keputusan resign idealnya diambil secara sadar, bukan emosional.
Lalu, apa saja tanda kamu harus mulai mempertimbangkan untuk resign?
1. Karier Tidak Berkembang
Jika dalam dua hingga tiga tahun terakhir tidak ada peningkatan tanggung jawab, keterampilan, atau promosi, ini bisa menjadi sinyal stagnasi. Dunia kerja yang kompetitif menuntut pertumbuhan berkelanjutan. Tanpa itu, kamu bisa tertinggal.
Karier yang sehat umumnya memberi ruang belajar, pelatihan, atau proyek baru yang menantang.
2. Mengalami Burnout Berkepanjangan
Merasa lelah secara fisik dan mental setiap hari, bahkan setelah libur panjang? Itu bukan sekadar capek biasa.
Burnout ditandai dengan kehilangan motivasi, mudah marah, sulit fokus, dan perasaan sinis terhadap pekerjaan. Jika kondisi ini berlangsung lama tanpa dukungan perusahaan, resign bisa menjadi pilihan realistis demi kesehatan mental.
3. Lingkungan Kerja Toxic
Budaya kerja penuh intrik, atasan yang manipulatif, atau rekan kerja yang gemar menjatuhkan adalah red flag serius.
Lingkungan seperti ini dapat memicu stres kronis. Dalam jangka panjang, dampaknya bukan hanya pada performa kerja, tetapi juga pada kehidupan pribadi.
4. Nilai Pribadi Tidak Sejalan dengan Perusahaan
Setiap individu memiliki nilai hidup dan prinsip kerja. Jika perusahaan sering mengambil keputusan yang bertentangan dengan etika atau keyakinanmu, konflik batin bisa muncul.
Ketidaksesuaian ini dapat menurunkan engagement dan loyalitas.
5. Tidak Lagi Merasa Bahagia atau Termotivasi
Setiap orang pasti pernah mengalami fase jenuh. Namun, jika kamu terus-menerus merasa hampa, cemas setiap Minggu malam, atau bahkan berharap sakit agar tidak masuk kerja, itu tanda serius.
Pekerjaan memang tidak selalu menyenangkan, tetapi tidak seharusnya menyiksa secara emosional.
6. Upaya Perbaikan Tidak Pernah Direspons
Sudah menyampaikan aspirasi ke atasan? Sudah meminta evaluasi atau perubahan beban kerja? Jika semua masukan diabaikan dan tidak ada itikad baik untuk perbaikan, artinya perusahaan tidak memberi ruang dialog sehat.
Komunikasi dua arah adalah fondasi hubungan profesional yang sehat.
7. Kompensasi Tidak Seimbang dengan Beban Kerja
Gaji bukan segalanya, tetapi tetap faktor penting. Jika beban kerja terus meningkat tanpa apresiasi atau kompensasi layak, kamu berhak mempertimbangkan opsi lain.
Apalagi jika standar industri menunjukkan angka yang jauh lebih tinggi untuk posisi serupa.
8. Ada Peluang Lebih Baik yang Lebih Sehat
Terkadang, tanda paling jelas adalah munculnya peluang baru yang lebih sesuai dengan tujuan hidup dan kariermu.
Namun harus diingat, resign tetap wajib dilakukan dengan persiapan matang, termasuk dana darurat dan rencana transisi yang jelas.Selain itu:
- Pertimbangkan dengan Kepala Dingin
- Resign bukan keputusan impulsif. Evaluasi kondisi secara objektif:
- Apakah masalah masih bisa diperbaiki?
- Sudahkah mencoba komunikasi terbuka?
- Apakah kondisi ini berdampak pada kesehatan fisik dan mental?
Jika sebagian besar jawabannya mengarah pada dampak negatif berkepanjangan, mungkin ini saatnya membuka lembaran baru.
Pada akhirnya, pekerjaan seharusnya menjadi ruang bertumbuh, bukan sumber luka. Mengenali tanda-tanda sejak dini membantu kamu mengambil keputusan dengan lebih bijak dan terencana. (hdl)


as a preferred source on Google




