Surabaya (beritajatim.id) – Kita hidup di era hustle culture, zaman ketika segalanya bergerak cepat bahkan terlalu cepat. Jari kita terbiasa menggeser layar tanpa jeda. Kesabaran menipis hanya karena sebuah laman belum sepenuhnya muncul di layar ponsel. Ritme hidup seperti dipaksa untuk selalu selaras dengan notifikasi, tenggat waktu, dan target yang terus bertambah.
Budaya ini menanamkan keyakinan bahwa waktu adalah komoditas paling mahal. Setiap menit harus produktif, setiap jeda harus punya alasan. Tanpa sadar, kita memburu diri sendiri memburu target, pencapaian, dan versi “sukses” yang seolah selalu sedikit lebih maju dari posisi kita saat ini.
Namun di balik ritme yang tak pernah melambat itu, muncul kegelisahan yang menetap. Lelah yang dirasakan bukan semata karena aktivitas fisik, melainkan karena pikiran yang tak pernah benar-benar berhenti. Pertanyaannya bukan lagi seberapa cepat kita bisa sampai ke tujuan, tetapi apakah keterburu-buruan ini sepadan dengan ketenangan yang kita korbankan.
Fenomena ini oleh penulis Kandi Wiens disebut sebagai hurry sickness atau “penyakit buru-buru”. Kondisi ini tidak muncul dari satu sebab tunggal, melainkan hasil pertemuan berbagai tekanan sekaligus: budaya yang memuja kesibukan sebagai ukuran nilai diri, teknologi yang menuntut respons instan, gaya hidup penuh komitmen, hingga dorongan internal seperti perfeksionisme dan daya saing tinggi.
Dalam lanskap seperti ini, melambat terasa seperti kesalahan. Kita mudah merasa bersalah saat tidak sibuk, takut tertinggal, atau khawatir dianggap kurang produktif. Akibatnya, hidup dijalani dalam mode “siaga” yang berkepanjangan.
Hurry sickness sering hadir secara halus namun konsisten. Beberapa tanda yang bisa dikenali antara lain:
- Selalu merasa dikejar waktu, bahkan untuk hal-hal kecil.
- Berbicara, berjalan, atau bekerja lebih cepat dari yang sebenarnya diperlukan.
- Mudah tersinggung ketika orang lain bergerak lebih lambat.
- Tidak sabar, gemar menyela, dan sulit menikmati proses.
- Gelisah atau cemas saat tidak sedang sibuk.
- Terlalu terpaku pada daftar tugas dan efisiensi.
Tubuh pun ikut memberi sinyal: jantung berdebar lebih cepat, sulit tidur, tekanan darah meningkat, dan rasa tegang yang konstan. Seolah-olah hidup dijalani dengan adrenalin sebagai bahan bakar utama.
Jika tanda-tanda ini terasa familier, mungkin persoalannya bukan sekadar manajemen waktu yang buruk, melainkan kebiasaan memburu hidup itu sendiri.
Salah satu penawar paling sederhana dan sering kali paling ampuh adalah meningkatkan kesadaran diri. Dengan berhenti sejenak dan menimbang konsekuensi nyata dari ketakutan sehari-hari (takut terlambat, takut tertinggal, takut mengecewakan), kita memberi ruang untuk bertindak lebih sengaja, bukan sekadar reaktif.
Kesadaran ini bisa dilatih dalam tiga momen penting:
1. Saat Dorongan Terburu-buru Muncul
Ketika rasa ingin bergegas datang, berhentilah sejenak. Tanyakan pada diri sendiri: Apa hal terburuk yang akan terjadi jika aku berjalan dengan ritme normal? Sering kali jawabannya tidak sebesar yang kita bayangkan. Justru risiko dari terus-menerus terburu-buru bisa jauh lebih besar, baik secara fisik maupun mental.
2. Dalam Persiapan Sehari-hari
Rasa tergesa-gesa kerap muncul bukan karena kurang waktu, tetapi karena terlalu banyak komitmen. Belajar mengatakan “tidak”, menyusun prioritas dengan lebih jujur, serta menciptakan jeda dalam jadwal adalah langkah penting untuk mengambil kembali kendali atas waktu dan energi.
3. Setelah Sebuah Kejadian Berlalu
Refleksi membantu kita memahami apakah urgensi yang dirasakan benar-benar nyata atau sekadar kebiasaan lama yang belum pernah dipertanyakan. Dengan evaluasi sederhana, kita bisa mulai membedakan mana yang mendesak dan mana yang hanya terasa mendesak.
Menikmati hidup tidak menuntut kita untuk berlari lebih cepat. Justru, menikmati hidup berarti hadir sepenuhnya dalam satu hal pada satu waktu. Multitasking, desakan waktu yang terasa “ajaib”, dan dorongan untuk selalu lebih cepat sering kali justru menjauhkan kita dari esensi hidup itu sendiri.
Hidup terlalu singkat untuk dijalani dengan napas tertahan dan bahu yang selalu tegang. Ketika kita berhenti memburu setiap detik, sering kali kita justru menemukan bahwa lebih banyak hal bisa diselesaikan dengan rasa yang lebih utuh dan menenangkan.
Di dunia yang terus mendesak kita untuk bergerak lebih cepat, mungkin keberanian terbesar adalah berhenti sejenak, menarik napas, dan mengingatkan diri sendiri: tidak perlu terburu-buru. (aga)


as a preferred source on Google




