Jakarta (beritajatim.id) – Pernyataan kontroversial kembali dilontarkan mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang mengklaim bahwa negaranya mampu melumpuhkan Iran hanya dalam waktu dua hingga tiga minggu. Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang melibatkan sejumlah negara.
Trump menyebut kekuatan militer Iran telah mengalami kemunduran signifikan, bahkan menilai negara tersebut tidak lagi memiliki kapabilitas militer yang memadai. Ia juga menegaskan bahwa Amerika Serikat hanya akan menghentikan operasi ketika yakin Iran tidak lagi mampu mengembangkan senjata nuklir.
Menurut Trump, peluang tercapainya kesepakatan diplomatik masih terbuka, meski situasi di lapangan terus memanas. Pernyataan itu disampaikan menjelang pidato resminya terkait perkembangan konflik Iran yang dijadwalkan pada Rabu malam waktu setempat.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengindikasikan adanya peluang berakhirnya konflik melalui jalur diplomasi. Ia mengungkapkan bahwa komunikasi antar pihak masih berlangsung dan tidak menutup kemungkinan adanya pertemuan langsung. Namun, ia juga menegaskan bahwa pemerintah AS tidak akan membiarkan negosiasi dimanfaatkan sebagai taktik penundaan.
Dari pihak Iran, Presiden Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa negaranya membutuhkan jaminan konkret agar agresi tidak kembali terulang sebelum konflik dapat diakhiri. Pernyataan tersebut disampaikan dalam komunikasi dengan Presiden Dewan Eropa, António Costa, yang turut mendorong de-eskalasi melalui jalur diplomasi dan kerja sama dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Di tengah upaya diplomasi, serangan militer masih terus berlangsung di berbagai titik. Komando Pusat AS merilis rekaman operasi yang menunjukkan serangan presisi terhadap target militer bawah tanah di Iran. Sementara itu, Israel mengklaim telah menyerang fasilitas yang diduga terkait produksi senjata kimia, meskipun Iran menyatakan lokasi tersebut merupakan pabrik obat-obatan.
Ketegangan juga meluas ke wilayah lain. Serangan udara dilaporkan terjadi di Beirut, ibu kota Lebanon, yang menargetkan tokoh penting dari kelompok Hezbollah. Selain itu, kawasan Teluk turut terdampak dengan serangan terhadap beberapa negara yang memiliki basis militer Amerika Serikat.
Saudi Arabia melaporkan berhasil mencegat dua drone, sementara kapal tanker di lepas pantai Qatar dilaporkan terkena serangan rudal. Serangan juga terjadi di Bahrain dan Kuwait, termasuk insiden kebakaran di bandara internasional Kuwait akibat serangan drone.
Militer Israel pada Rabu pagi juga melaporkan adanya gelombang baru proyektil yang diluncurkan dari Iran menuju wilayahnya, menandakan bahwa konflik masih jauh dari mereda.
Situasi ini menunjukkan eskalasi yang semakin kompleks dengan keterlibatan banyak pihak, baik dalam bentuk aksi militer maupun upaya diplomasi. Dunia internasional kini menyoroti perkembangan tersebut dengan kekhawatiran akan dampak yang lebih luas terhadap stabilitas global, terutama di kawasan strategis Timur Tengah. (ian)


as a preferred source on Google



