Surabaya (beritajatim.id) – Donald Trump kembali memenangkan pemilihan presiden Amerika Serikat (AS) dan akan dilantik sebagai Presiden AS ke-47 pada Januari mendatang.
Kemenangan Trump dari Partai Republik membawa dampak signifikan, baik pada politik domestik maupun kebijakan luar negeri AS selama empat tahun ke depan.
Menurut Agastya Wardhana, dosen Hubungan Internasional dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), kepemimpinan Trump akan membawa perubahan besar dalam pendekatan kebijakan luar negeri AS.
“Trump lebih cenderung fokus pada urusan domestik. Kebijakan luar negerinya akan bersifat lebih transaksional, hanya mengejar keuntungan langsung bagi AS tanpa memprioritaskan kerja sama internasional,” ujar Agas.
Dinamika Kebijakan Trump vs Biden
Agas menjelaskan bahwa kebijakan Trump berbeda jauh dari Biden. Jika Biden mengedepankan aliansi internasional dan kerja sama global, Trump memilih pendekatan unilateral dan memprioritaskan kepentingan nasional AS.
“Trump kemungkinan melanjutkan kebijakan sebelumnya, seperti narasi anti-imigran dan perang dagang dengan Cina. Fokus utamanya akan lebih kepada kepentingan dalam negeri, termasuk memperkuat daya saing produk domestik dengan meningkatkan tarif impor barang-barang Cina,” jelasnya.
Trump juga diyakini akan mengurangi keterlibatan AS di Eropa. Menurut Agas, hal ini terlihat dari pandangan Trump yang menganggap Perang Ukraina sebagai masalah regional Eropa, bukan isu yang harus melibatkan AS. “Eropa perlu bersiap menghadapi dampak kemenangan Trump ini,” tambahnya.
Peluang dan Tantangan bagi Indonesia
Berbeda dengan dampak signifikan yang dirasakan Eropa atau Cina, kemenangan Trump dinilai tidak akan terlalu memengaruhi Indonesia. Namun, Agas menekankan bahwa Indonesia memiliki peluang untuk memanfaatkan kebijakan Trump yang pragmatis dan transaksional.
“AS di bawah Trump membuka peluang bagi Indonesia untuk kerja sama lebih fleksibel, tanpa menekankan nilai-nilai demokrasi seperti pada era Biden. Selagi kedua pihak sama-sama mendapat keuntungan, kerja sama dapat terjalin,” ujar Agas.
Ia juga menyebut bahwa pemimpin Indonesia saat ini dapat memanfaatkan pendekatan tersebut. “Prabowo, yang lebih pragmatis dan transaksional, memiliki keselarasan dengan Trump dalam hal kebijakan luar negeri. Ini berbeda dari era Jokowi yang lebih pasif terhadap isu internasional,” jelasnya.
Agas menekankan pentingnya kebijakan luar negeri yang lebih asertif agar Indonesia dapat mengambil peluang dari perubahan lanskap politik AS di bawah Trump. (rio/hdl)


as a preferred source on Google




