Washington DC (beritajatim.id) – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan tengah mempertimbangkan secara serius opsi serangan militer terhadap Iran. Laporan tersebut disampaikan The New York Times dengan mengutip sejumlah pejabat Amerika Serikat yang mengetahui langsung pembahasan tersebut. Meski belum ada keputusan final, Trump disebut telah menerima paparan berbagai skenario penggunaan kekuatan militer.
Opsi yang dipertimbangkan mencakup kemungkinan serangan terhadap sasaran nonmiliter di Teheran. Langkah ini menjadi bagian dari evaluasi Washington terhadap dinamika keamanan Iran yang belakangan mengalami tekanan internal dan eksternal.
Di tengah situasi tersebut, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio melakukan pembicaraan melalui sambungan telepon dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Sabtu. Informasi yang disampaikan jurnalis Axios, Barak Ravid, menyebutkan bahwa kedua pejabat membahas perkembangan situasi di Iran, serta kondisi keamanan di Gaza dan Suriah. Komunikasi ini menunjukkan koordinasi intensif antara Washington dan Tel Aviv terkait isu keamanan kawasan.
Sementara itu, Israel dilaporkan terus memantau perkembangan situasi di dalam negeri Iran. Kepala Staf Angkatan Pertahanan Israel (IDF), Eyal Zamir, menggelar sejumlah pertemuan penilaian keamanan pada 9–10 Januari. Meski pejabat keamanan Israel menyatakan tidak memiliki rencana untuk melancarkan serangan terhadap Iran dalam waktu dekat, kesiapsiagaan pertahanan dikabarkan telah diperkuat untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan.
Iran sendiri tengah menghadapi gelombang protes sejak 28 Desember yang dipicu oleh kenaikan harga dan melemahnya nilai mata uang. Dalam dua pekan terakhir, unjuk rasa dan aksi kerusuhan terjadi di sejumlah wilayah dan dilaporkan menimbulkan korban. Namun, laporan koresponden China Media Group (CMG) di Teheran menyebutkan situasi ibu kota relatif kondusif pada Sabtu malam, tanpa demonstrasi besar di titik-titik utama kota.
Otoritas keamanan Iran dilaporkan membubarkan sekitar 370 orang yang berupaya melakukan aksi berkumpul di Teheran. Selain itu, Iran juga mengalami gangguan layanan internet. Hingga Sabtu sore, sebagian besar wilayah Teheran masih mengalami pembatasan akses daring. Meski demikian, layanan esensial seperti platform berita domestik, aplikasi pengantaran makanan, dan transportasi daring tetap berfungsi, serta pasokan kebutuhan pokok di pasar dilaporkan dalam kondisi aman.
Di tengah tekanan tersebut, para pemimpin Iran berupaya menunjukkan soliditas nasional. Presiden Iran Masoud Pezeshkian, pejabat militer senior, serta perwakilan tetap Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) secara terpisah menyerukan persatuan nasional dan perlindungan terhadap kepentingan negara.
Dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi, Presiden Masoud Pezeshkian menuding Amerika Serikat dan Israel berupaya memperpanjang konflik dan ketidakstabilan kawasan, sekaligus melemahkan persatuan negara-negara Islam. Ia menegaskan bahwa rakyat Iran akan terus memberikan dukungan terhadap negaranya dalam menghadapi tekanan tersebut.
Pada kesempatan terpisah, Pezeshkian juga bertemu dengan anggota Dewan Kebijaksanaan (Expediency Discernment Council). Dalam pertemuan itu, ia menekankan bahwa pemerintah tengah memperkuat upaya perbaikan ekonomi dengan memberantas praktik rente, suap, dan korupsi. Ia menyebut situasi saat ini sebagai fase krusial dalam menghadapi tekanan ekonomi eksternal dan kepentingan domestik yang mengakar, sehingga membutuhkan dukungan seluruh elemen politik.
Militer Iran turut mengeluarkan pernyataan resmi yang menegaskan komitmen untuk menjaga kepentingan nasional, melindungi infrastruktur strategis, serta mengamankan properti publik. Masyarakat juga diminta tetap bersatu di tengah situasi yang berkembang.
Di tingkat internasional, Perwakilan Tetap Iran untuk PBB, Amir-Saeid Iravani, mengirimkan surat kepada Dewan Keamanan PBB. Dalam surat tersebut, Iran mengecam dugaan kolusi Amerika Serikat dan Israel dalam mencampuri urusan dalam negeri Iran melalui ancaman, provokasi, serta upaya memicu kekerasan yang dinilai dapat merusak stabilitas dan perdamaian regional.
Perkembangan ini menandai meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah, dengan perhatian global tertuju pada langkah yang akan diambil Amerika Serikat serta dampaknya terhadap stabilitas kawasan dalam waktu dekat. (ian)


as a preferred source on Google



