Washington DC (beritajatim.id) – Menjelang pertemuan bersejarah antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Alaska pada Jumat (15/8/2025) mendatang, Amerika Serikat dan Uni Eropa menegaskan pentingnya keterlibatan Ukraina dalam setiap kesepakatan perdamaian yang akan dibahas.
Pertemuan ini diharapkan menjadi langkah besar dalam mengakhiri perang yang telah berlangsung selama tiga tahun. Namun, sejumlah pemimpin Eropa menegaskan bahwa kesepakatan damai tidak boleh dibuat tanpa persetujuan Kyiv.
Duta Besar AS untuk NATO, Matthew Whitaker, mengatakan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy berpeluang hadir di KTT tersebut. Keputusan akhir, menurutnya, berada di tangan Trump, sementara Gedung Putih belum memberikan konfirmasi resmi.
Sejak pengumuman KTT, Zelenskyy mengintensifkan komunikasi diplomatik, menghubungi 13 pemimpin dunia termasuk dari Jerman, Inggris, dan Prancis. Kanselir Jerman Friedrich Merz menyatakan keyakinannya bahwa Zelenskyy akan hadir.
Negara-negara Nordik dan Baltik – termasuk Denmark, Estonia, Finlandia, Islandia, Latvia, Lithuania, Norwegia, dan Swedia – sepakat bahwa tidak boleh ada keputusan yang diambil tanpa keterlibatan Ukraina.
Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menegaskan bahwa setiap kesepakatan damai antara AS dan Rusia harus melibatkan Ukraina dan blok Eropa.
Isu Pertukaran Wilayah
Trump menyebut perjanjian damai dapat mencakup pertukaran wilayah demi “keuntungan kedua pihak”. Namun, Zelenskyy menolak gagasan tersebut, menegaskan bahwa “Ukraina tidak akan memberikan tanahnya kepada penjajah” dan perundingan tanpa Ukraina tidak akan membawa perdamaian.

Penasihat Putin, Yuri Ushakov, menyebut kedua pemimpin akan fokus mencari resolusi jangka panjang untuk krisis Ukraina, meski mengakui prosesnya akan sulit.
Kondisi di Medan Perang
Sementara itu, militer Ukraina mengklaim telah merebut kembali sebuah desa di wilayah Sumy dari pasukan Rusia. Desa tersebut berada di garis depan di utara, sekitar 20 kilometer dari pusat pertempuran.
Moskow menuntut Kyiv menarik pasukannya dari wilayah yang direbut Rusia, bersikap netral, menolak bantuan militer AS dan UE, serta tidak bergabung dengan NATO sebagai syarat perjanjian damai.
Kyiv menegaskan tidak akan pernah mengakui kontrol Rusia atas wilayah kedaulatannya, meski mengakui bahwa perebutan kembali wilayah itu kemungkinan hanya dapat dicapai lewat jalur diplomasi.
Klaim Rusia
Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim pasukannya menguasai desa Yablunivka di Donetsk dan menembak jatuh 224 drone Ukraina dalam 24 jam terakhir.
Moskow juga menuding serangan drone Ukraina memicu kebakaran besar di depot minyak dekat Sochi, mengganggu penerbangan di bandara terdekat.
Gelombang serangan udara memuncak pada awal Juli ketika Rusia meluncurkan 748 rudal dan drone dalam satu hari. Ukraina melaporkan dua korban tewas dan sedikitnya 15 luka-luka akibat serangan besar-besaran itu. (hdl)


as a preferred source on Google



