Sumenep – Perwakilan World Health Organization (WHO), Dr. Chavia, melakukan kunjungan ke Kabupaten Sumenep, Madura, untuk memantau langsung pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) atau imunisasi massal Campak Rubela.
Rombongan diterima Wakil Bupati Sumenep, Imam Hasyim, di rumah dinasnya di Jl. Dr Cipto, didampingi jajaran Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKP2KB), serta instansi terkait.
Kunjungan Ketiga WHO ke Sumenep
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes P2KB Sumenep, Achmad Syamsuri, mengatakan ini merupakan kunjungan ketiga WHO ke Sumenep. Tim internasional itu juga dijadwalkan melakukan evaluasi bersama kepala puskesmas.
“Tim dari WHO ini akan menilai capaian imunisasi serentak yang sudah dilakukan. Selain itu, juga mengevaluasi strategi yang digunakan untuk percepatan penuntasan imunisasi campak,” jelas Syamsuri, Rabu (10/9/2025).
Capaian Imunisasi Sudah 70,3 Persen
Berdasarkan data Dinkes P2KB Sumenep, hingga hari ke-13 pelaksanaan ORI, Selasa (9/9/2025), sebanyak 51.990 anak telah diimunisasi atau mencapai 70,3 persen dari total sasaran 73.969 anak.
Untuk usia 9-12 bulan, dari 3.404 sasaran baru 2.111 anak atau 62,0 persen yang sudah diimunisasi. Pada usia 12-47 bulan, dari 31.237 sasaran, sebanyak 19.254 anak atau 61,6 persen sudah divaksin.
Sementara itu, usia 4-6 tahun mencapai 76,9 persen dengan 20.219 anak dari 26.308 sasaran. Sedangkan usia 7 tahun mencatat cakupan 80,0 persen dengan 10.415 anak dari 13.020 sasaran.
ORI dilaksanakan serentak di 26 puskesmas. Puskesmas Giligenting mencatat capaian tertinggi dengan 91,4 persen atau 1.431 anak dari 1.565 sasaran. Sebaliknya, Puskesmas Dungkek menjadi yang terendah dengan 36,5 persen atau 863 anak dari 2.362 sasaran.
Libatkan Tokoh Agama dan Ormas
Wakil Bupati Sumenep, Imam Hasyim, menegaskan keterlibatan tokoh agama, masyarakat, serta organisasi keagamaan seperti NU dan Muhammadiyah sangat penting untuk mempercepat capaian.
“Perannya adalah ikut membantu mensosialisasikan, mengedukasi, dan meyakinkan masyarakat tentang pentingnya imunisasi campak,” ujarnya.
Ia juga menyebut tim WHO menanyakan status halal-haram vaksin campak. “Masyarakat tidak perlu ragu atau khawatir terhadap status vaksin campak. Kami bersama MUI ikut mensosialisasikan imunisasi campak ini agar masyarakat tidak lagi was-was,” tambahnya.
Dinkes Pastikan Koordinasi dan Ketersediaan Vaksin
Kepala Dinas Kesehatan P2KB Sumenep, drg. Ellya Fardasah, menegaskan pihaknya terus melakukan koordinasi lintas sektor untuk meningkatkan sosialisasi. Selain itu, ketersediaan vaksin dan logistik kesehatan dipastikan memadai.
“Sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya vaksinasi untuk mencegah penularan campak sangat penting. Selain itu yang harus diperhatikan adalah penataan fasilitas kesehatan untuk menjamin adanya ruang isolasi bagi pasien campak,” ujarnya.
Ellya menambahkan, pemantauan dan evaluasi dilakukan secara berkelanjutan melalui survei epidemiologi dan analisis data kasus sebagai langkah memperkuat pencegahan penyebaran campak di Sumenep. [tem/ian]

![WHO Tinjau Imunisasi Campak Rubela di Sumenep, Capaian Sudah 70 Persen Proses imunisasi massal Campak Rubela di Sumenep. [Temmy/Beritajatim.com]](https://beritajatim.id/wp-content/uploads/2025/09/campak.webp)
as a preferred source on Google




