Surabaya (beritajatim.id) – Belakangan ini, istilah kesehatan mental semakin sering diperbincangkan di media sosial. Banyak orang mulai terbuka membicarakan perasaan mereka, termasuk soal kesedihan, kecemasan, bahkan trauma masa lalu. Namun, maraknya tren ini juga memunculkan fenomena baru yang perlu diwaspadai: self-diagnose alias mendiagnosis diri sendiri tanpa bantuan profesional.
Salah satu kekeliruan yang kerap terjadi adalah menyamakan rasa sedih biasa dengan depresi. Perlu dipahami bahwa setiap orang pasti pernah merasa sedih, kecewa, atau lelah secara emosional. Itu hal yang sangat manusiawi. Namun, perasaan tersebut belum tentu berarti seseorang mengalami gangguan mental seperti depresi.
Apa Itu Self-Healing dan Mengapa Populer?
Self-healing atau penyembuhan diri menjadi konsep yang populer, terutama di kalangan anak muda. Istilah ini merujuk pada usaha individu untuk memulihkan kondisi mental dan emosional secara mandiri. Caranya beragam—mulai dari journaling, meditasi, berlibur, hingga menyendiri sejenak dari hiruk-pikuk sosial media.
Self-healing pada dasarnya bukan hal yang buruk. Bahkan, bisa menjadi langkah awal untuk memahami dan merawat diri sendiri. Namun, jika tidak disertai pemahaman yang tepat, self-healing bisa menjadi pelarian sementara tanpa menyentuh akar permasalahan yang sebenarnya.
Bahaya Self-Diagnose: Salah Tafsir Bisa Fatal
Self-diagnose terjadi ketika seseorang menganalisis gejala psikologis yang dirasakan hanya berdasarkan informasi dari internet, media sosial, atau pengalaman orang lain. Contohnya, seseorang yang merasa murung selama beberapa hari langsung menyimpulkan bahwa dirinya mengalami depresi berat.
Padahal, menurut para psikolog, depresi adalah gangguan mental serius yang memiliki gejala khas dan berlangsung dalam jangka waktu tertentu. Beberapa gejala depresi antara lain kehilangan minat beraktivitas, perubahan pola tidur dan makan, merasa tidak berharga, hingga munculnya keinginan untuk mengakhiri hidup.
Jika gejala seperti itu dirasakan, penting untuk segera berkonsultasi dengan tenaga profesional seperti psikolog atau psikiater, bukan hanya mengandalkan asumsi pribadi.
Penting bagi kita untuk lebih bijak dalam membedakan antara self-healing dan self-diagnose. Ketika merasa sedih atau cemas, cobalah mengenali perasaan tersebut tanpa langsung melabeli diri sendiri mengalami gangguan mental.
Jika kesedihan berlangsung lama dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan ragu mencari bantuan profesional. Konseling dengan psikolog bukan tanda kelemahan, tapi bentuk kepedulian terhadap diri sendiri.
Di era digital ini, kesadaran akan kesehatan mental memang penting. Namun, informasi yang beredar di media sosial harus disaring dengan bijak. Jangan sampai niat untuk sembuh justru membuat kita terjebak pada pemahaman yang keliru.
Self-healing bisa menjadi awal yang baik untuk pemulihan mental, tapi bukan pengganti bantuan profesional. Sebaliknya, self-diagnose berisiko menyesatkan dan memperparah kondisi. Ingat, sedih belum tentu depresi. Yuk, lebih peka terhadap diri sendiri dan jangan ragu minta bantuan jika dibutuhkan. (aga)


as a preferred source on Google




