Surabaya (beritajatim.id) – Setelah tren job hopping sempat meledak pada tahun 2021–2022, kini dunia kerja kembali diwarnai fenomena baru yang disebut job hugging. Jika job hopping identik dengan berpindah-pindah pekerjaan demi kenaikan gaji, job hugging justru menggambarkan kondisi sebaliknya, para pekerja memilih bertahan di posisi mereka, meski tidak merasa berkembang.
Job hugging atau memeluk pekerjaan adalah tren di mana pekerja, terutama dari kalangan generasi muda, tetap bertahan dalam pekerjaannya karena rasa takut akan masa depan yang tidak menentu. Fenomena ini bukan karena mereka benar-benar setia atau nyaman, melainkan karena khawatir akan risiko jika mencoba mencari pekerjaan baru.
Berbeda dengan job hopping yang memberi peluang kenaikan gaji signifikan, job hugging muncul saat pasar tenaga kerja melemah. Bonus dan kenaikan gaji yang biasanya mudah didapat dari berpindah kerja kini tidak lagi sebanding dengan risiko kehilangan stabilitas.
Tren job hugging berkembang di tengah memburuknya kondisi pasar tenaga kerja global. Beberapa faktor yang mendorong fenomena ini antara lain:
-PHK massal di berbagai sektor industri.
-Kenaikan harga kebutuhan hidup yang menekan daya beli.
-Ketidakpastian ekonomi global, termasuk ancaman resesi.
Kombinasi faktor tersebut membuat banyak pekerja menilai bahwa bertahan di pekerjaan saat ini lebih aman daripada menghadapi ketidakpastian di luar sana.
Meskipun terlihat seperti bentuk kesetiaan, para pakar menilai job hugging sebenarnya bisa menjadi tanda stagnasi. Perusahaan yang menganggap rendahnya tingkat turnover pergantian karyawan sebagai keberhasilan, justru berisiko kehilangan talenta terbaik saat kondisi pasar kerja kembali membaik.
Fenomena job hugging seharusnya menjadi alarm bagi manajemen. Alih-alih berpuas diri, perusahaan perlu memperhatikan kesejahteraan karyawan, menyediakan jalur pengembangan karier, serta membangun lingkungan kerja yang sehat.
Tanpa strategi itu, job hugging hanya akan menciptakan kenyamanan semu. Begitu pasar tenaga kerja kembali kompetitif, perusahaan bisa kehilangan talenta dalam jumlah besar.
Job hugging menjadi cerminan bagaimana ketidakpastian ekonomi memengaruhi perilaku pekerja muda. Jika sebelumnya mereka berani mengambil risiko dengan job hopping, kini rasa aman dianggap lebih penting daripada ambisi.
Bagi perusahaan, tren ini adalah peluang sekaligus tantangan. Jika mampu mengelola dengan bijak, masa pelukan pekerjaan ini bisa dimanfaatkan untuk memperkuat loyalitas karyawan secara nyata bukan sekadar ilusi. (aga)


as a preferred source on Google




