Close Menu
beritajatim.idberitajatim.id
  • Home
  • News
    • Peristiwa
    • Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Internasional
    • Pendidikan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Oil&Gas
  • Sport
  • Entertainment
  • Lifestyle
    • Teknologi
    • Ragam
    • Komunitas
  • Seni&Budaya
  • Network
  • Indeks
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
beritajatim.idberitajatim.id
Web Utama
  • Home
  • News
    • Peristiwa
    • Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Internasional
    • Pendidikan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Oil&Gas
  • Sport
  • Entertainment
  • Lifestyle
    • Teknologi
    • Ragam
    • Komunitas
  • Seni&Budaya
  • Network
  • Indeks
beritajatim.idberitajatim.id
Home»Lifestyle»Fenomena Job Hugging: Ketika Pekerja Memilih Bertahan daripada Ambil Risiko

Fenomena Job Hugging: Ketika Pekerja Memilih Bertahan daripada Ambil Risiko

Agathon AgnarAgathon Agnar Lifestyle 12 September 2025
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Surabaya (beritajatim.id) – Setelah tren job hopping sempat meledak pada tahun 2021–2022, kini dunia kerja kembali diwarnai fenomena baru yang disebut job hugging. Jika job hopping identik dengan berpindah-pindah pekerjaan demi kenaikan gaji, job hugging justru menggambarkan kondisi sebaliknya, para pekerja memilih bertahan di posisi mereka, meski tidak merasa berkembang.

Job hugging atau memeluk pekerjaan adalah tren di mana pekerja, terutama dari kalangan generasi muda, tetap bertahan dalam pekerjaannya karena rasa takut akan masa depan yang tidak menentu. Fenomena ini bukan karena mereka benar-benar setia atau nyaman, melainkan karena khawatir akan risiko jika mencoba mencari pekerjaan baru.

Berbeda dengan job hopping yang memberi peluang kenaikan gaji signifikan, job hugging muncul saat pasar tenaga kerja melemah. Bonus dan kenaikan gaji yang biasanya mudah didapat dari berpindah kerja kini tidak lagi sebanding dengan risiko kehilangan stabilitas.

Tren job hugging berkembang di tengah memburuknya kondisi pasar tenaga kerja global. Beberapa faktor yang mendorong fenomena ini antara lain:

-PHK massal di berbagai sektor industri.
-Kenaikan harga kebutuhan hidup yang menekan daya beli.
-Ketidakpastian ekonomi global, termasuk ancaman resesi.

Kombinasi faktor tersebut membuat banyak pekerja menilai bahwa bertahan di pekerjaan saat ini lebih aman daripada menghadapi ketidakpastian di luar sana.

Meskipun terlihat seperti bentuk kesetiaan, para pakar menilai job hugging sebenarnya bisa menjadi tanda stagnasi. Perusahaan yang menganggap rendahnya tingkat turnover pergantian karyawan sebagai keberhasilan, justru berisiko kehilangan talenta terbaik saat kondisi pasar kerja kembali membaik.

Baca Juga:  25 Ucapan Lekas Sembuh untuk Sahabat yang Penuh Makna

Fenomena job hugging seharusnya menjadi alarm bagi manajemen. Alih-alih berpuas diri, perusahaan perlu memperhatikan kesejahteraan karyawan, menyediakan jalur pengembangan karier, serta membangun lingkungan kerja yang sehat.

Tanpa strategi itu, job hugging hanya akan menciptakan kenyamanan semu. Begitu pasar tenaga kerja kembali kompetitif, perusahaan bisa kehilangan talenta dalam jumlah besar.

Job hugging menjadi cerminan bagaimana ketidakpastian ekonomi memengaruhi perilaku pekerja muda. Jika sebelumnya mereka berani mengambil risiko dengan job hopping, kini rasa aman dianggap lebih penting daripada ambisi.

Bagi perusahaan, tren ini adalah peluang sekaligus tantangan. Jika mampu mengelola dengan bijak, masa pelukan pekerjaan ini bisa dimanfaatkan untuk memperkuat loyalitas karyawan secara nyata bukan sekadar ilusi. (aga)

Add beritajatim.id as a preferred source on Google+
Baca berita lainnya di Google News atau langsung di halaman Arsip Berita
apa itu job hugging arti job hugging fenomena job hugging job hugging tren job hugging
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Berita Lainnya

Menikah Sederhana di KUA Jadi Tren, Pesta Mewah Ternyata Bukan Penentu Rumah Tangga Bahagia

20 Juli 2026 Lifestyle

Jangan Dianggap Sepele, Toxic Relationship Bisa Berdampak pada Kesehatan Fisik

17 Juli 2026 Lifestyle

7 Makanan yang Bisa Membantu Meningkatkan Kualitas Sperma, Penting untuk Program Hami

16 Juli 2026 Lifestyle
Ilustrasi penderita flu (foto : xframe)

Kemarau Basah Juli 2026: Kasus Flu dan Batuk Meningkat, Ini Penyebab serta Cara Mencegahnya

7 Juli 2026 Lifestyle

Gen Z Ramai Pilih Intimate Wedding, Lebih Personal dan Jadi Investasi untuk Kehidupan Setelah Menikah

7 Juli 2026 Lifestyle

5 Cara Mengatasi Sulit Tidur Setelah Terbangun Tengah Malam, Jangan Langsung Lihat Jam!

3 Juli 2026 Lifestyle
Leave A Reply Cancel Reply

Menikah Sederhana di KUA Jadi Tren, Pesta Mewah Ternyata Bukan Penentu Rumah Tangga Bahagia

20 Juli 2026
Berita Terbaru
PN Jepang Sanae Takaichi

Survei Mainichi: Tingkat Kepuasan Publik terhadap Kabinet PM Jepang Sanae Takaichi Turun ke 41 Persen

20 Juli 2026
Komnas HAM RI

Komnas HAM Rilis Penilaian HAM 2025, BKKBN Raih Nilai Tertinggi, Kemenhub Masuk Kategori Rendah

20 Juli 2026
Wali Kota Mojokerto sosialisasikan Beasiswa Pro Bestari 2026. Pemkot mengalokasikan lebih dari Rp1 miliar dengan bantuan Rp3,6 juta per semester.

Wali Kota Mojokerto Beasiswa Pro Bestari 2026, Mahasiswa Berpeluang Terima Rp3,6 Juta per Semester

20 Juli 2026
Polri menetapkan tiga tersangka kasus dugaan korupsi pembiayaan PT PPA kepada PT BAS. Kerugian negara mencapai Rp38,8 miliar dan aset Rp14,4 miliar disita.

Polri Tetapkan Tiga Tersangka Korupsi Pembiayaan PT PPA ke PT BAS, Kerugian Negara Capai Rp38,8 Miliar

20 Juli 2026

12 Tips Menggoreng Ikan agar Tidak Berminyak, Renyah Tahan Lama dan Matang Sempurna

20 Juli 2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
  • Tentang
  • Network
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
© 2026 beritajatim.ID | portal berita jawa timur

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.